Tampilkan postingan dengan label seri road to holyland. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seri road to holyland. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2008

Ungkal Biang: Memoar Eksistensi Seni Tradisi

Ungkal Biang: Memoar Eksistensi Seni Tradisi


Agni Malagina

Sebuah prosesi unik bernama Ungkal Biang telah dilaksanakan di sebuah tempat yang dikelilingi 78 titik situs bersejarah berupa menhir, dolmen, punden berundak, batu tapak, batu dakon, batu kursi, sumber mata air suci, Sindangabarang Bogor. Sebuah tempat yang dihembusi titik air dari Gunung Salak itu, Minggu, 16 November 2008, ungkal biang (batu induk) berupa batu tugu ciri penanda berdirinya sebuah kampung adat ditegakkan.

Sejarah ungkal biang konon sudah ada sejak jaman kerajaan Pajajaran (923 – 1579). Pada saat Sri Baduga Maharaja (1482-1521) memimpin, ia menancapkan ungkal biang disamping prasasti Batu Tulis – Bogor sebagai penanda masa kepemimpinannya. Beberapa kampung adat sunda pun memiliki ungkal biang sebagai penanda keberadaan kampung tersebut, seperti kampung Tegal Umbu di Banten Selatan misalnya. Pupuhu (ketua adat) kampung budaya Sindangabarang – Ahmad Mikami Sumawijaya – pun menegaskan bahwa ungkal biang ini juga merupakan lambang persatuan lembur (desa) Sindangbarang.

Memilih batu tugu merupakan salah satu hal yang cukup sulit. Pupuhu yang akrab dipanggil Rama Maki pun dibantu oleh budayawan Sunda – Anis Djatisunda – dalam menentukan batu tugu. Ungkal biang pun diperoleh tak jauh dari titik Taman Sri Bagenda dan Sumur Jalatunda yang sudah diresmikan menjadi situs purbakala oleh dinas pariwisata kabupaten Bogor. “Ungkal biang diangkat dari pinggir sungai oleh 30 orang,”ujar Abah Encem, sesepuh adat Sindangbarang. Prosesi dimulai dengan acara menegakkan ungkal biang. Susah payah para kokolot mendirikan batu dengan menggunakan tuas dan tambang, tiada teknologi modern ikut serta dalam pengangkatan batu tersebut. Batu tugu pun segera berdiri dengan kokohnya sembari disirami air kembang 7 mata air yang dianggap keramat bagi warga Sindangbarang sebagai simbol penghilangan energi buruk yang ada dalam batu tersebut. Prosesi di sekitar ungkal biang ditutup dengan melontar ayam jago putih ke udara. Upacara pagi hari itu pun diakhiri dengan upacara murag tumpeng atau makan tumpeng bersama.
“Tadi pada saat prosesi ada elang melintas kan?” tanya Pupuhu. Saya spotan mengiyakan. ”Itu leluhur yang ikut menghadiri upacara,”sahut Rama Maki dan menambahkan bahwa upacara menegakkan batu tugu bukanlah bentuk penyembahan terhadap batu,”ungkal biang ini hanya memoar untuk anak-cucu, bahwa di sini berdiri kampung budaya Sindangbarang.”

Pada saat yang bersamaan, semua yang hadir dalam upacara yang hanya sekali dilaksanakan oleh sebuah kampung adat itu pun dihibur oleh pelbagai kesenian Sunda, hasil kreativitas dan kontemplasi para seniman Kampung Budaya Sindangbarang yang tergabung dalam Padepokan Giri Sunda Pura. Jaipong, reog, dan angklung gubrak (dipalajari dari seniman di daerah Cipining) pun menjadi andalan kesenian kampung budaya yang baru mengalami proses revitalisasi pada tahun 2007. Rampak pencak dan parebut seeng yang memiliki dasar seni beladiri Cimande juga turut dikembangkan menjadi seni pertunjukan. Di kampung yang juga memiliki ratusan pengrajin sepatu inilah, seni tradisi Sunda dikembangkan. Sebuah usaha untuk membentuk ketahanan budaya dengan proses modifikasi sebagai penyesuaian terhadap tuntutan masyarakat yang dekat dengan paradigma globalisasi. Komodifikasi seni tradisi pun menjadi salah satu alternatif untuk menggenjot gairah berkesenian. Sembari tetap berharap, seni tradisi tetap eksis bersama berdirinya sebuah replika kampung adat. Kreativitas atau revitalisasi berkesenian bukan untuk menghilangkan budaya tradisi, namun membuatnya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang dekat berbaur dengan kekinian.

Batu Kuya: kisah tentang batu

Batu Kuya: sepenggal kisah tentang riwayat batu
agni malagina

Batu pun laku jual!
Itulah bukti kekayaan Indonesia. Bahkan sebongkah batu unik pun laku jual hingga menembus angka 9 digit. Kita bisa menengok kasus Batu Kuya di salah satu titik daerah Kabupaten Bogor, yaitu Kampung Cisusuh, Desa Cileksa Kecamatan Sukajaya. Tak jauh jaraknya dari tempat yang diduga sebagai pusat ritual keagamaan jaman kerajaan Sunda Pajajaran sekitar abad 15 – 16 M. Atau mungkin lebih tua lagi, Sindangbarang, kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Batu Kuya ramai dibicarakan pada bulan September, beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri 2008. Saat itu beritanya muncul di beberapa harian terkemuka ibu kota. Batu Kuya, batu besar unik berbentuk kura-kura sempat dibawa keluar sarangnya oleh sekelompok orang karena batu tersebut akan dijual ke Korea dengan nilai sangat tinggi. Tak tanggung-tanggung, angka 40 milyar akan menjadi bagian dari transaksi si Kuya. Sejak pemberitaan itu, Batu Kuya mendapat perhatian dari Pemda kabupaten Bogor yang diwakili oleh dinas pariwisatanya. Polemik pun terjadi. Sejumlah peneliti, arkeolog pun diminta untuk meneliti batu Kuya dari sudut pandang arkeologi. Tak lama, seorang arkeolog gaek dari FIB UI, Mang Hasan, memberikan pernyataan bahwa batu Kuya adalah batu alam biasa walaupun dia berada dalam wilayah bentangan situs-situs bersejarah. Pernyataan inipun sempat mengejutkan pihak dinas pariwisata. Namun apa daya, pakar sudah berbicara.

Mengapa batu alam si Kuya sampai ditaksir berharga milyaran?

Pastilah batu tersebut memiliki ‘sesuatu’, entah nilai arkeologi, nilai sejarah, nilai budaya, nilai spiritual, nilai estetika dan nilai-nilai lainnya. Menyitir beberapa pendapat warga setempat, batu Kuya merupakan perlambang dan memiliki nilai mistis bagi warga di sekitarnya. Bahkan ada yang memberi tafsiran bahwa diangkatnya batu Kuya dari daerah tersebut merupakan pertanda bahwa pemimpin bermental Kuya telah dihilangkan. Naaaah…ini yang perlu dikritisi. Mental Kuya? Seperti apakah mental Kuya? Mental yang buruk? Hal ini menggelitik hati saya. Perbincangan saya dengan bapak Agus Arismunandar mengenai batu Kuya memiliki tafsiran lain. Kuya atau kura-kura dalam kebudayaan peradaban masa lalu - masa Hindu, Cina, Bali dan beberapa tempat lainnya – merupakan simbol kemakmuran, kesejahteraan, panjang umur. Bagaimana dengan kuya dalam kebudayaan Sunda? Pak Agus menceritakan bahwa di daerah Cirebon selatan ada sebuah kolam berisi kura-kura, disebut Kolam Belawa. Anda penasaran dengan kolam ini? Silakan mampir ke FIB UI dan bercakap-cakap dengan Pak Agus Arismunandar. Beliau juga menyebutkan bahwa konsep kura-kura di Sunda ini berhubungan dengan masa Tarumanegara ketika Purnawarman memimpin. Purnawarman disebut-sebut sebagai titisan Dewa Wisnu, dewa yang kadang disimbolkan dengan kura-kura, perlambang kesejahteraan dan kesuburan.

Bentuk menyerupai kura-kura si Kuya ini kemungkinan adalah bentuk alami. Saat inilah, batu alami mempunya nilai unik bagi beberapa negara yang memiliki kebudayaan seni batu. Korea, salah satu negara yang memulai seni batu sejak 2.000 tahun yang lalu. Seni batu ini datang dari Cina sejak jaman Dinasti Tang (618 – 907 SM). Di Jepang terkenal dengan suiseki. Tradisi seni batu ini erat kaitannya dengan tradisi Konfusian dan Daois. Bentuk yang sering disuguhkah oleh seni batu ini adalah bentuk-bentuk batu alami yang unik, memiliki bentuk pemandangan gunung, bentuk abstrak, bentuk figure Budha, bentuk hewan-hewan mitologi, bentuk stalagnit dan stalagtit, bentuk yang dianggap magis dan bentuk menyerupai flora. Batu-batu alam ini sering diletakkan di taman sebagai unsur penting dalam landskap taman di Cina, Korea dan Jepang. Juga sebagai koleksi yang diletakkan di dalam ruang sebagai pelengkap interior. Karena batu alami dan seni batu merupakan bagian dari tradisi Konfusian dan Daois, tak heran, semakin magis dan alami bentuk batu tersebut, semakin mahal harganya. Karena batu tersebut tidak hanya berhubungan dengan gengsi si pemilik tapi juga berhubungan dengan ketulusan hubungan si pemilik dengan ‘Langit’, filsafat, dan leluhurnya.

Tak heran, batu Kuya dihargai sampai bermilyar rupiah. Betapa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya raya, bahkan batu pun laku jual! Saat seperti inilah…saya bengga menjadi warga Indonesia. Tapi tidak di saat saya melihat betapa ‘aneh’nya sistem dan politik negeri yang kaya-raya ini. Ketika batu Kuya menjadi bahan perdebatan di antara anggota dewan di Bogor, jelas tampak ada kalangan yang bersi keras batu tersebut dijual, namun ada yang tetap berusaha mempertahankan batu itu tetap ‘in situ’, tetap berada di tempat asalnya. Batu Kuya seakan hanya menjadi kambing hitam ajang kesempatan para pemimpin daerah untuk memperjuangkan pelbagai kepentingan golongannya. Sangat disayangkan.


Salam,
Agni Malagina
tulisan ini dibuat di Sindangbarang 9 Oktober 2009
terima kasih Pak Agus, Ama Maki atas cerita-ceritanya yang menarik

Seri road to holyland:nagrak - ruwatan bumi, romantisme seni tradisi

Januari 2008 merupakan bulan penuh ritual ucapan syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen. Masih teringat saat saat mengakhiri perjalanan Seren taun Cigigur yang mengakomodir keberagaman suku agama di Cigugur, saya diajak oleh seorang kawan dari STSI untuk datang ke Ruwatan Kampung Banceuy Subang. Saat itu saya menolak ajakan itu karena sudah memiliki agenda mengunjungi Upacara Tutup taun ngemban Taun di Cirendeu yang konon masih berafiliasi dengan Cigugur. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kawan dari Bandung TV mengajak mengunjungi kampung Nagrak pada tanggal 16 Januari 2007 untuk mengikuti upacara Ruwatan Bumi.

Perjalanan diawali dengan menantikan kru bandung TV menjemput saya di Toko Buku Baca-Baca yang terletak di Sabuga. Jam 5 pagi datanglah kawan-kawan yang selalu ceria itu. Segeralah Kang Kiwil meluncur membawa mobil dan 4 orang yang mengaku kopilot menuju Lembang. Sempat kami beristirahat di rumah salah seorang penggerak pariwisata Nagrak sambil menikmati uli bumbu pedas dan semangkuk bubur ayam. Dinginnya lembang pagi itu tidak terasa menusuk, hiruk-pikuk pasar Lembang pun menjadi ‘pemanas’ udara saat itu.

Pukul 7, kami berangkat menuju Nagrak. Melewati taman wisata Sari Ater, jalan pun terus menanjak dan turun tiada beraspal total. Bocel-cocel jalanan pun semakin diperparah dengan konsisi licin setelah hujan. Namun keahlian Kang Kiwil membawa mobil memang sudah tidak perlu diragukan, entah bagaimana caranya, dia bisa meyakinkan saya yang duduk di jok depan bahwa dia memang handal. Dan tiba-tiba, mobil pun sudah berada di depan balai desa Nagrak.

Ruwatan Bumi Kampung Nagrak tahun 2008 ini adalah upacara yang dilakasanakan ke 63 kalinya. Tahun 2008 ini adalah upacara ruwatan yang istiwewa karena merupakan ruwatan yang menguburkan kepala kerbau. Setiap tahun biasanya menguburkan ayam, namun setiap tiga tahun sekali menggunakan kepala kerbau. Menurut kepala desa Nagrak, Bapak Dadang, Upacara Ruwatan Bumi ini mengandung banyak arti bagi warga Nagrak yakni untuk simbol ucapan syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen, selalu mengingatkan warga kepada leluhurnya, menjaga persatuan warga, dan mendekatkan warga Nagrak pada alam sekitarnya.


Pukul 9, segera setelah semua sesaji, pendukung acara siap, dimulailah upacara ngarak kepala munding menuju makam Eyang Embah Raden untuk ziarah. Arak-arakan dimulai dengan kuda yang dituntun oleh 2 orang ibu sambil memayungi sang kuda. Diikuti dengan jampana kepala munding, pemain gambyung, 2 kuda yang ditunggangi kepala desa dan pejabat desa, arak-arakan warga dan anak-anak, dan terakhir rombongan kuda lumping. Perjalanan cukup jauh, melewati sawah-sawah hijau dan air yang tumpah ruah, hijau, subur, air mengalir, dan gerimis. Wangi tanah yang tersegar hari itu. Perjalanan menuju makan Eyang Embah Dalem memiliki makna ritual yaitu perjalanan perjuangan mengingat leluhur sekaligus berdoa pada Tuhan mengucap syukur atas nikmat dan karunia, serta meminta keselamatan dan kesejahteraan untuk satu tahun mendatang. Sekembalinya dari ziarah, rombongan kembali ke desa Nagrak, melanjutkan upacara berikutnya yaitu numbal, penanaman kepala kerbau di pusat desa.

Upacara penguburan kepala kerbau dipimpin oleh Bapak Kalsim dan Bapak Dusim, sesepuh Kampung Nagrak. Sepetak tanah sati kali satu meter sudah tergali. Hiasan sawen pun telah tergantung. Di samping lubang tersebut terongok kepala kerbau yang sudah menjadi tulang benulang berwarna kehitaman. Tiga tahun yang lalu ia terkubur. Pak Kalsim membaca rajah pamunah dan beberapa doa agama Islam kemudian menyelipkan uang koin pada buah kelapa muda, meletakkan buah tersebut ke dalam lubang. Lalu berturut-turut beliau memasukkan bumbu dapur berupa cabe, kencur, garam, kelapa, beras, telur, pisang. Terakhir, kepala kerbau bertengger di atas sesaji tersebut. Tanah ditutup. Tebu dan hanjuang ditancapkan menjadi tanda bahwa warga harus mengingat apa yang yang menjadi ciri khas jiwa mereka. Terakhir, mereka menyiram petak tanah itu dengan air dari mata air terdekat dengan harapan supaya hati warga masyarakat Nagrak tetap dingin. Penggunaan semua sesaji dalam acara ini dimaknai masyarakat Nagrak sebagai sesuatu yang sakral. Misalnya saja penggunaan bumbu dapur mempunyai perumpamaan bahwa hidup adalah jalinan cerita yang memiliki rasa sebagaimana rasa bumpu dapur. Ada pedas, asin, pahang, manis, pahit, panas, dingin. Bahwa dalam hidup penuh dengan warna-warna dan rasa, susah senang sedih bahagia kaya miskin, namun kesemuanya ada dalam satu tempat yaitu di desa Nagrak. Pisang hijau dimaknai sebagai hasil bumi nagrak yang terus berbuah tanpa memandang musim. Telur ayam merupakan penanda bahwa hidup ini mempunyai asal dan akan kembali ke asal, menjadikan warga untuk tetap waspada. Semua sesaji yang disediakan juga merupakan sesaji yang diperuntukkan bagi leluhur. Makanan kesukaan leluhur pun disajikan. Hidangan puncak manik pun menjadi pusat harapan. Sangat romantis.

Agaknya Nagrak perlu mengembangkan diri untuk menjadi salah satu sentra kesenian dan kerajinan. Kesenian yang ada dalam khasanan perbendaharaan seni nagrak pun bermacam-macam, tari, jaipong, gambyung, wayang, terebang, gambyung sapingping dan lain-lain sepertinya perlahan akan mati ditelan jaman. Entah siapa yang akan membawanya ke pentas nasional atau ke pentas dunia. Mungkin kesenian tradisional semacam ini akan tergeser oleh hiruk-pikuk seni modern yang menjadi ikon globalisasi. Si lokal akan terhempas tersandung batu-batu besar efek rumah kaca.
Salah satu curhatan warga ketika ditanya: “Pak, apakah kesenian di sini bisa tampil di taman Sari Ater itu?”
Dijawab: “Wah….yang bisa tampil di situ mah pilihan. Seni tradisi mah tidak bisa tampil, kan orang kampong yang maen. Sedangkan yang nonton di sana orang kota semua.”
Seperti disambar petir mendengar celotehan macam itu. Hh…tapi apa yang bisa kami buat untuk seni tradisi? Hanya bisa mencurahkan kata hati.
Belum lagi kami mendengar curhatan salah seorang warga yang ikut makan nasi kuning di rumah Kepala Desa Nagrak saat itu.
“Desa kami ini pengrajin ukiran kayu. Lucu-lucu. Tapi dibeli oleh orang dari kota dalam jumlah besar dan barang-barang kami sampai ke luar negeri. Tapi orang itu membeli dari kami dengan harga yang renda.”
Saya menjawab, “itulah bisnis pak. Bagaimana dengan koperasi.”
Dijawab, “sudah mati.”
Entah bagaimana lagi Nagrak bisa berdiri di kaki sendiri? Apakah pemerintah daerahnya akan membantu menjadikan Nagrak dan desa-desa di sekitarnya menjadi pusat seni dan kerajinan? Entah….saya hanya bergumam…..”suatu hari nanti…mungkin suatu hari nanti.”

Perjalanan Road to holy land kali ini masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari seri RTHL seri pertama. Masih terus akan berjalan. Berjalan. Jalan saja…tidak perlu mencari…menghadirkan tradisi masyarakat di tatar Sunda dengan jujur.

PS: haduuuh...saha anu tiasa nulungan abdi ieu tulung diterjemahkeun ka bahasa sunda. kang mumu nuju riweuh deui, murangkalihna nuju teu damang...hiks

Salam,
Agni Malagina

Seri road to holyland: Sorenang - Tarawangsa Bandung Selatan di ambang kematian

Selang dua hari sejak kepulangan saya dari Cirebon untuk menyaksikan Upacara Panjang Jimat pada tanggal 21 Maret 2008, saya mengikuti perjalanan seorang peneliti tarawangsa ke Soreang. Perjalanan saya menuju Cigarogol, Soreang, pada hari Minggu 23 Maret 2008 merupakan lanjutan perjalanan kami mencari jati diri. Perjalanan menuju ‘tanah suci’ yang sempat terhenti, dilanjutkan kembali. Perjalanan dari Bandung menuju Soreang kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor, selama hampir 2 jam. Hitungan yang cukup memegalkan pinggang dan kaki, namun saya sangat senang karena gerimis sore hari itu menyegarkan tanah kering yang menjanda ditinggalkan panas sang matahari.
Sesampainya di gerbang ‘Selamat Datang’ kota Soreang, saya dikejutkan dengan pemandangan indah, sawah membentang hijaunya, Gunung Malabar berdiri dengan jumawanya, dan angin dingin yang berhembus agaknya dapat menenangkan keramaian suporter PERSIB yang memasuki kota Soreang bersama kami. Motorpun bergerak menjauhi kota Soreng, Mang Didi (begitu saya memanggil sang peneliti yang gemar tersenyum ini) membelokkan motornya ke perkampungan dengan medan yang terus menanjak. Menanjak, menanjak, dan terus menanjak. Di sebelah kiri tampak lembah yang semakin curam. Menanjak…menanjak. Sampai akhirnya kami berhenti di depan sebuah rumah panggung sederhana dengan panggung beratap terpal biru yang tersedia tepat di samping rumah.
Memasuki rumah tersebut, saya dirundung rasa pilu dalam dada. Tak henti saya terkagum sekaligus miris melihat kota Soreang dari ketinggian. Cantik sekali, namun tempat saya berdiri adalah rumah penduduk yang terpencil dengan fasilitas seadanya. Pilu yang terpilu menggetarkan tubuh saya ketika melangkah masuk ke dalam rumah. Disambut oleh senyuman seorang ibu tua yang bernama Emak Esih (68 thn)Saya juga melihat sepetak tempat yang sudah dipenuhi makanan sesaji, daun hanjuang yang ditauti selendang di empat sisi, dan sudah tentu ada pula tarawangsa yang bertengger di atas kecapi indung. Di sebelah kecapi itu duduk Aki yang akan memainkan tarawangsa. Saya duduk di dekat beliau sambil menyapanya dengan Bahasa Sunda standar penutur asing. Sempat dia menyangka saya seorang sinden yang datang untuk mengikuti upacara 14 Maulud malam itu.
Aki Oyo berusia 92 tahun, berprofesi pemain tarawangsa.Beliau menekuni tarawangsa sejak muda, tanpa ada penerusnya. Tiada orang muda yang akan meneruskan kepiawaiannya memainkan tarawangsa. Pilu terasa syahdu saat beliau berlatih memainkan tarawangsa ditemani Mang Didi. Sambil menikmati nada-nada jentreng tarawangsa, saya mengamati sesaji yang ada di depan saya. Banyak macamnya, kue-kue tradisional, buah pisang, kopi, teh, bubur merah, bubur putih, singkong rebus, kelapa muda, rujak pisang, beras dengan telur ayam di tengahnya, telur, ubi rebus, rambutan, salak, opak, pepes, ayam bakakak. Tak ketinggalan bokor kuningan yang berisi cerutu, kemenyan, daun sirih, dan botol minyak. Di luar batas selendang yang ditautkan pada daun hanjuang, terdapat beberapa botol air mineral yang terbuka tutupnya, benda-benda berupa seperangkat alat kosmetik, seperangkat alat mandi, beberapa senjata yang tampak tua. Tak lama, emak datang mengenakan kebaya warna putih dan kain. Emak duduk memegang sebilah golok, diusap, dan dimasukkan dalam wadah air. Senjata-senjata, pusaka itu, dicucinya perlahan. Beberapa orang datang meletakkan senjata-senjata, mereka buka bungkusnya, mengusap pelahan senjatanya, dan meletakkannya berdekatan dengan beberapa senjata yang ditenggelamkan dalam wadah air. Bermacam bentuk, pisau, golong, parang, ujung mata panah sampai jimat logam. Tak lama berselang, datanglah tiga orang wanita setengah baya dengan dandanan agak tebal meletakkan alat-alat komestik macam bedak, lipstik, pelembab wajah, lotion, foundation, pensil alis, maskara, eyeshadow, pelentik bulu mata, sisir. Saat itu saya masih terheran-heran sendiri dengan fenomena sosial skala kecil yang ada hadapan saya. Sambil mengamati sekitar, mata saya bertabrakan dengan pandangan dua orang anak kecil yang kedapatan sedang menatap saya. Mereka kemudian berbisik-bisik tanpa melepaskan pandangan mata dari saya. Saya tersenyum dan mereka ketawa cekikikan. Mata saya menjelajah ruang ukuran sekitar 3m x 6m yang mulai dipenuhi orang-orang. Tua muda, laki-laki perempuan, dan anak-anak kecil. Saat emak menawari makan malam, saya segera menerima tawaran Emak. Sedikit makan malam cukup membuat hati saya sumringah. Ada bebepa anak kecil yang sempat saya tanyai:
“Suka nonton tarawangsa?”
“Sukaaaa,” tiga orang bocah tengil menjawab bersamaan.
Saya terhenyak, rupanya mereka sudah lebih dini mengenal tarawangsa. Dibanding dengan saya yang baru tiga bulan mengenal tarawangsa, mereka sangat beruntung.
Saya pun segera beringsut menuju tempat di samping Mang Didi yang sudah menebar alat-alat rekam suara dan pernak-perniknya. Beliau memang sengaja merekam pertunjukkan baik audio maupun visual untuk penelitiannya tentang konservasi tarawangsa di daerah Banjaran Soreang. Sungguh sebuah usaha pendokumentasian budaya yang patut dilakukan pada kesenian tradisional.
Pemetik kecapi sudah menempati posisinya. Pembacaan doa pun dimulai. Doa syukur dan keselamatan yang dibacakan oleh putra si Aki. Selesai pembacaan doa, Aki pun mengambil alih kendali acara. Saat dupa dinyalakan, Aki pun berkata, “Ieu kangge mestakeun ‘nu geulis’ jeung ‘nu kasep’ (ini untuk memestakan si cantik dan si ganteng).”
Sontak saya segera berbisik mengucapkan kata, “terima kasih.”
Namun rupanya si Aki melanjutkan kata-katanya, “ ‘nu geulis’ teh pare, ‘nu kasep’ teh duit (si cantik itu padi, si ganteng itu uang).” Dan saya tersenyum curang karena tetap beranggapan bahwa si cantik itu adalah saya.
Saya bertanya pada Mang Didi, “buat apa air mineral, pusaka, alat kecantikan, alat mandi bahkan mikrofon dan alat pemutar kaset berjajar di dekat sesaji?”
Mang Didi menjawab,”semua barang yang ada di depan kita itu sedang berkomunikasi. Mereka mempunyai frekwensi sendiri dan saling bercakap-cakap. Sesaji yang ada memiliki aura-aura yang akan diperkaya dengan percikan bunyi tarawangsa dan kecapi. Mereka semua akan mendapat cipratan energi suci.”
Saya semakin tidak mengerti dengan penjelasan itu. Saat bersamaan, seorang teman mengirim pesan pendek yang berbunyi, “jangan dimengerti, dirasakan saja.”
“Mang, apakah boleh saya meletakkan barang-barang kecil?”
“Boleh, dekatkan di sana, supaya terkena perciknya.”
Saya pun meletakan botol minum dan beberapa alat kosmetik. Saya tersenyum ketika beberapa lengan menyodorkan telepon genggam, dompet, ikat kepala untuk diletakkan di dekat area sesaji. Dan saya pun menemukan monopod yang ikut ‘mejeng’ di dekat area tersebut.
Tarawangsa mulai digesek, kecapi mulai dipetik. Emak yang telah berganti baju mengenakan kebaya warna hijau. Doa mulai dibacakan. Wewangian dihisapnya dalam-dalam, asap dupa pun mengepul seakan hendak menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya. Dan emak berkata, “Putu, sumping sadayana (cucu, datang semuanya).” Emak pun sudah dikuasai karuhun. Perlahan emak bangkit, berdiri, menggerakan kedua tangannya dan mulai menari. Emak menari mengikuti irama. Sampai suatu ketika emak berhenti karena lelah. Namun tak lama, emak menari lagi. Berhenti, menari lagi. Berhenti dan menari lagi. Emak menanggung masuknya beberapa roh karuhun yang ingin menari bersamanya. Dan emak lelah. Seorang pria duduk di samping emak, dan berdoa bersama emak. Mereka berdua pun mulai menari lagi. Dua tubuh, dua sesepuh menari. Aki dan emak kelelahan. Pemain kecapi pun kelelahan. Sebelum pertunjukkan berakhir, pemain kecapi beristirahat dan permainannya diteruskan oleh Mang Didi. Karuhun masih ingin menari. Sebuah lagu dimainkan. Kali ini sinden pun ikut menyanyi, lagu ucing-ucingan. Saya baru pertama kali ini mendengar tarawangsa dibareangi dengan nyanyian. Nada dan iramanya sangat dinamis, karuhun menari dengan gerakan pasti. Tampaknya karuhun sangat senang. Tak lama, upacara kecil itu pun selesai.
Pertunjukkan dilanjutkan di luar, di panggung yang telah disediakan. Sinden dan nayaga-nayaga yang sebelumnya mendapat semacam pemberkatan pada saat upacara berlangsung mulai mempertunjukkan kebolehannya. Beberapa lelaki yang mengenakan mantel ala Jenderal Sudirman naik ke panggung menari. Bergaya pencak silat dan dengan asiknya mengikuti lagu yang dimainkan. Saya duduk menyaksikan sang jenderal menari. Di samping saya banyak orang berbaring tidur di tepas rumah itu. Sudah malam. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Dingin menyengat. Saya memutuskan untuk meninggalkan tepas, kembali ke dalam ruangan. Beberapa tentara sedang menimang pusaka-pusaka mereka. Ruangan dipenuhi orang-orang yang mulai mengantuk. Si Aki sudah berbaring. Semua menuju tidurnya.
Duduk di dekat Aki yang sudah tertidur saya memandangi semua alat dan sesaji yang terhapar. Inikah tradisi? Tarawangsa di Cigarogol asing untuk saya. Tidak seperti tarawangsa Rancakalong yang saya lihat pertama kali di acara Seren Taun Cigugur 2007. Lagu yang dimainkan tidak pernah saya dengar sebelumnya, sesajinya pun agak berbeda dengan yang saya lihat sebelumnya. Apalagi penarinya, hanya seorang….hanya emak seorang. Yang kemudian ia kelelahan menanggung masuknya roh karuhun yang ingin menari, berpesta bersama ‘si geulis’ dan ‘si kasep.
Ingatan saya melayang pada saat pertama kali saya melihat pertunjukkan tarawangsa di Cigugur. Saya bertanya lagi, yang mana yang merupakan tradisi. Saat melihat pertunjukkan di Cigugur, tampaknya saya merasakan eforia dalam hati karena itu adalah tarawangsa yang pertama kali saya lihat seumur hidup saya, dan segera setelah itu, saya jatuh cinta kepadanya. Namun saya tidak mendapat fenomena orang-orang yang serius memohon doa, meletakkan harta bendanya keramatnya dan penghasilannya di daerah sesaji, tidak seperti hal yang terjadi di Soreang. Apa karena tarawangsa yang saya lihat di Cigugur terlalu ramai? Terlalu banyak penonton? Terlalu banyak penari? Terlalu banyak asap….atau hanya berupa pertunjukkan semata? Sama halnya pertunjukkan tarawangsa yang ada pada saat Seren Taun di Sindangbarang Bogor 2008? Pertunjukkan yang tampak hanya pertunjukkan. Seni tradisi yang hanya dianggap sebagai sesuatu hal yang profan? Di Soreang terasa lebih intim. Udara yang saya hirup pun terasa hangat, berlawanan dengan suasana dingin di daerah dengan ketinggian lebih dari 800mdpl. Beberapa unsur religius lebih terasa dekat. Penghormatan terhadap padi dan uang dilakukan tanpa ada pemberitaan.


agni malagina

Kamis, 27 November 2008

Seri road to holyland: Ruwatan Kampung Banceuy, saat tumbal terkubur.

Setelah beristirahat dari perjalanan Seren Taun Cigugur, saya melanjtukan lagi perjalanan menuju Kampung Banceuy, sebuah kampung yang memang tak pernah terbayang dalam ingatan saya. Perjalanan kali ini dimulai dari keisengan seorang kawan ntuk mengajak saya melihat sebuah kesenian gembyung, setelah itu say segera berangkat walaupun hanya dengan dana 20ribu rupiah. Tetapi dengan tambahan uang dari seorang teteh akhirnya saya bisa stay disana untuk 1 hari 1 malam.

Perjalanan menuju banceuy dimulai dengan bertem teman di kampus STSI Buah Batu Bandung kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menaikik angkot sampai daerah Lembang setelah itu disambung dengan sebuah angkutan jenis ELF menuju Subang, dan perjalanan menuju tempat ini memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Bandung. Setelah itu kami menaiki ojek dari ciater menuju banceuy, konon daerah ini masih memiliki pemandangan yang masih cantik untuk sekedar dicapture lewat kamera jenis SLR, sehingga kawan saya pun tak luput untuk melewatkan kesempatan ini.

Perjalanan kali ini mengantarkan saya untuk mengikuti acara Ruwatan bumi untuk menyambut Tahun baru Saka 1941 yang belum pernah terputus sejak 200 tahun yang lalu, disebuah kampung di tengah puncak gunung di daerah Subang, yaitu kampung Banceuy Desa Sanca Kabupaten Subang. Konon dari cerita masyarakat setempat kampung Banceuy didirikan sekitar tahun 1807 yang merupakan perpindahan dari kampung Negla yaitu 200 M arah timur dari kampung Banceuy setelah angin puting beliung menghantam kampung Negla yang dibuka oleh Eyang Ito atau Uyut Artawijaya. Nama Banceut diambil dari bahasa sunda “ngabanceuy’ yang artinya bermusyawarah menyelesaikan sebuah urusan. Sebagian besar penduduk Banceuy mempunyai pekerjaan sebagai petani padi dan palawija selain itu ada juga yang menjadi peternak sapi potong. Adapun tingkat pendidikan warganya rata-rata hanya sampai SMP tetapi ada juga pengajian untuk menambah wawasan pengetahuan keagamaan warga masyarakat Banceuy khususnya ibu-ibu.

Saat kami sampai di Banceuy, kami diterima di rumah bapak A. Ruhendi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Iin beserta kelarga dan sesepuh lainnya. Di rumah ini kami sedikit berbincang tentang searah kampung Banceuy, setelah itu kami bertemu dengan rombongan Disbudpar Kabupaten Subang kemudian berbincang kembali sampai pukul 20.00 malam. Setelah itu kami beranjak menuju tempat diadakannya Gembyung lantas ketika prosesi Gembyung selesai kami menginap dirumah Abah Karlan.

Banceuy menurut pengakuan pupuhunya yaitu Abah Karlan mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Cirebon karena ada kemungkinan Uyut Artawijaya atau yang dikenal dengan Eyang Ito merupakan keturunan dari Cirebon, sehingga jenis padi yang dipakai oleh warganya juga sam dengan Cirebon yaitu padi putih. Adapun permasalahan norma atau Pamali hampir sama dengan daerah-daerah adat Sunda yang lainnya, selain itu uniknya di daerah ini tidak ada sar itutur sepuh yang mengharuskan warganya membangun rumah dari bilik bambu sehingga warga masyarakatnya sekarang hampir sebagian besar menggunakan bangunan permanen yang dimulai dari tahun 1958.

Kampung Banceuy saat ini dipimpin oleh seorang sesepuh bernama Karlan Sastradijaya atau Ahrub yang lebih dikenal dengan Abah Karlan, beliau dibantu oleh A. Ruhendi dan Ukar untuk urusan ritual ngaruat dan kesenian lainnya. Kesenian yang terdapat di daerah banceuy antara lain pencak silat, Gembyung dan Dog-dog, tetapi kesenian yang paling terkenal adalah gembyung atau terebang.

Acara Ruwatan yang kali ini dilaksanakan merupakan salah satu rangkaian acara dalam menyambut Tahun baru 1941 Saka atau yang lebih dikenal dengan nama suraan. Pada acara ini yang menjadi sentral dari kegiatannya adalah acara ngaruwat atau ngagembyung dan numbal disamping acara yang lainnya seperti helaran, ziaah ke situs atau makam. Gembyung ini merupakan kesenian asli banceuy yaitu kesenian yang dgunakan untuk ruwatan atau selametan selain itu gemnbyung dimaknai juga sebagai ritual seni yang diujukan untuk menghormati leluhur, sehingga gembyung tidak hanya dilaksanakan pada acara inti seperti mapag taun atau suraan tapi juga pada acara nikahan, selametan rumah dsb. Gembyung pada prosesinya dimainkan oleh 3 pemain rebana, 1 pemain kendang dan 1 pemain kecrek serta 2 penari laki-laki dan 1 penari perempuan dengan diiringi oleh sembilan tembang diantaranya adalah Bismilais, Yau-yau, Benjang, Engkleq, Kepat Endang, Ayun Ambing, Kembang Gadang, Raja Sirna dan Yang Moleyyang.

Selain gembyung yang menjadi acara inti adalah numbal, prosesinya dilaksanakan pada pagi hari yaitu sekitar pukul 8 pagi. Pada prosesnya pertama dibuat lubang kemudian semua sesaji yang telah disiapkan dikubur setelah itu dialirkan darah ayam yang disembelih diatasnya kemudian dikubur dan diatasnya diletakan kepala, sayap, kaki, buntut serta bulu punggung ayam yang disembelih sebelumnya kemudian dikubur kembali lantas ditanami pohon hanjuang, naramsa, jawer kotok dan tebu setelah itu dilafalkan jampi-jampi lantas ditutup dengan menyiram pohon tersebut dengan aur beras merah.

Numbal dalam hal ini digunakan sebagai sebuah jalan untuk memberikan ketentraman pada warganya, karena menurut pengakuan warga sekitar seperti Cicih yan berusia sekitar 40 tahun menyatakan jika numbal tidak dilaksanakan maka akan terjadi bala yang akan menimpa warga banceuy seperti angin puting beliung dan wabah penyakit, dan hal ini dikuatkan oleh pernyataan dari Yati dan Tasrib yang merupakan warga asli banceuy. Dari pelaksanaan prosesi tersebut saya sadar bahwa kemauan orang untuk memegang tradisinya akan membawa mereka menuju hal yang dinamakan ketentraman.

Akan tetapi lebih dari prosesi tersebut hal lain yang menarik untuk saya pribadi adalah sosok pribadi orang tua bernama Abah Karlan yakni seseorang yang telah berusia 75 tahun dengan kewibawaan dan keceriannya selalu menarik perhatian saya. Abah Karlan merupakan kuncen atau pupuhu ketiga setelah Uyut Artawijaya atau Eyang Ito dan Padijaya, pengetahuan serta kemampuannya sampai saat ini belum ada yang menandingi, disamping itu canda guraunya yang sedikit menyita perhatian saya dengan menggunakan budaya lama sebagai acuan guraunya dan juga kerendah hatiannya yang membawa beliau menjadi manusia yang tidak sombong.

Dari pertemuan saya dengan beliau, saya melihat bagaimana sosok tua Abah Karlan masih tetap segar dan mampu membina warga masyarakat Banceuy untuk tetap melestarikan nilai budayanya dengan tetap melaksanakan acara ruwatan bumi pada waktu pergantian taun Saka. Abah Karlan yang merupakan keturunan langsung dari Eyang Ito yaitu orang yang membuka kampung banceuy ini sedikit memperlihatkan kebijaksanaannya dengan tidak pernah mau mengusik pandangan yang menyudutkan posisinya dan tetap berada dalam posisi yang cukup bijaksana dalam melihat perbedaan. Pandangan-pandangannya tentang kebudayaan dan agama sangat berbau kaum posmois yakni meletakan kebijaksanaan tanpa pernah menghujat inilah yang membuat saya sedikit tercengang, karena epistemologi pengetahuan akan tradisi Sunda telah mengantarkan beliau menjadi manusia yang bijak.

Karenanya, pada perjalanan singkat saya kali ini menyiratkan sebuah pertanyaan besar dalam benak saya, yakni apakah nilai-nilai tradisi yang diimani dan diamini dengan teguh lantas akan membawa manusia yang mengamininya menuju kesempurnaan pemahaman akan perbedaan ditengah semua gejolak perbedaan yang membuat pertikaian ?. Tentunya itu merupakan pertanyaan besar yang harus saya jawab dalam perjalanan-perjalanan lain menuju Hollyland.

Pada saat hendak melakukan perjalanan pulang menuju Bandung, saya sempat melihat arak-arakan para penari yang diiringi oleh musik khas sisingaan dan mereka menari sambil terlihat seolah mabuk dan menarik perhatian saya sebenatar karena musiknya seolah membawa para penari menuju puncak trans disamping tambahan minuman keras yang mereka minum yang membuat mereka seolah semakin gila karena ketidaksadaran mereka. Lantas ketika pulang, kami dianrakan oleh 2 orang pegawai Disbudpar Kabupaten Subang sampai kepertigaan Ciater, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandung dengan disertai obrolan-obrolan hangat tentang prosesi ritual yang baru kami alami di Banceuy.


Salam,
Mufti Ali S
muftiali.multiply.com

Seri road to holyland: Cirendeu yang tersembunyi

Setelah beberapa hari istirahat dari perjalanan Cigugur, perjalanan mencari pemahaman jati diri dalam seri Road to Holyland kali ini membawa kami ke acara Tutup Taun Ngemban Taun Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, tertanggal 10 Januari 2008.
Tak terbayangkan sebelumnya apa, bagaimana dan ada apa di daerah itu. Perjalanan dimulai dari kegelisahan saya untuk menengok sebuah upacara Tutup Taun di kampung adat yang terletak berdampingan dengan TPA (tempat pembuangan akhir) Leuwi Gajah nan legendaris karena longsornya pernah menimbun puluhan warga di sekitar TPA tersebut.

Perjalanan menuju Cireundeu dimulai saat ojeg yang membawa saya tersesat entah kemana. Berputar, menjauh, melewati lahan persawahan, panas terik matahari membakar kulit, dan pada intinya adalah NYASAR!! Namun nyasar di Cireundeu adalah salah satu pengalaman manis mencari nilai luhur dan keberagaman ke-Sunda-an.

Cireundeu, dimulai dari masyarakat Cirendeu mulai mengenal Pangeran Madrais (Cigugur) sejak tahun 1918. Abah Asep mengaku sampai sekarang falsafah hidup masyarakat Cireundeu belum banyak berubah sejak puluhan tahun lalu. Mereka masih memegang ajaran moral tentang bagaimana membawa diri dalam hidup ini. Yang paling menarik adalah bahan makanan pokok yang dimakan oleh warga kampung Cireundeu RW 10. Singkong dibuat menjadi nasi singkong. Sesepuh Cirendeu mengaku bahwa mereka sudah makan singkong sejak tahun 1924. Generasi tua Cirendeu pun mengiyakan bahwa mereka tidak mengenal rasa nasi. Saya memikirkan bagaimana rasanya makan singkong selamanya. Tapi mereka mengaku tidak ada masalah dengan memakan singkong. Saya bertanya mengapa warga Cirendeu makan singkong? Beberapa mereka bercerita bahwa pada tahun 1924-an, banyak warga yanng menanak nasi dari hasil sawah mereka. Dalam jangka waktu yang panjang, setiap mereka menanak nasi maka hasilnya tidak baik untuk dimakan, rasa tidak enak dan cepat basi. Kemudian mereka memutuskan untuk mengolah singkong sebagai makanan pokoknya. Meraka mengaku tidak tergantung pada beras, maka saat daerah lain mengalami musim paceklik, mereka tidak mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Mereka menyatakan syukur atas nikmat alam dari Tuhan dengan cara melaksanakan Upacara Tutup Tahun, Ngemban Tahun. Seperti yang saya datangi pada tanggal 10 Januari 2008, Tutup Tahun 1940 S, Ngemban Tahun 1 Sura 1941 Saka.

Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 1 Muharam, atau yang sering disebut 1 Sura. Upacara ini pun kemudian dikenal dengan sebutan Suraan. Sehari sebelum perhelatan Suraan digelar, dikabarkan tidak ada intensitas kesibukan yang tinggi. Hanya persiapan-persiapan rutin tahunan yang sudah biasa digelar. Memasak, menyiapkan hidangan, menyiapkan sesajen, membuat gunungan dari buah-buahan, pertunjukkan kesenian dan doa dalam semangat kebersamaan dan gotong royong. Suraan kali ini dilaksanakan dengan semangat ’mugia rukun repeh rapih sareng sasama hirup’. Sebuah slogan yang sangat menyentuh hati. Kala keharmonisan ditegaskan. Apa makna dibalik semoga hidup rukun antar manusia? Sebuah perenungan yang membutuhkan daya kontemplasi tinggi. Bagaimanakah seharusnya kita hidup saling berdampingan dengan sesama manusia? Pertanyaan yang perlu kita pikirkan bersama. Sasama hirup....apakah hanya dengan manusia saja? Saya rasa tidak...rukun tidak dengan hanya dengan sesama manusia, tapi dengan sesama mahluk hidup lainnya. Hidup berdampingan dengan lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan langit. Bagaimana caranya? Salah seorang sesepuh mengatakan bahwa manusia di Cirendeu dan juga manusia lain harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup lain rasakan. Kuncinya tidak hanya simpati, tapi juga empati. Tapi dimana empati itu kini?
Hanya menjadi wacana rasa yang wararasa?
Dimanakah rasa cinta terhadap sesama manusia? Dimanakah rasa cinta manusia terhadap lingkungannya? Dimanakah rasa cinta manusia terhadap hutannya? Tiada rasa cinta, tiada kerukunan, maka tiada keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alamnya, manusia dengan Tuhan.

Sunda merupakan jati diri, tutur Abah Asep. Sederhana, tahu rasa, dan dekat dengan alam merupakan salah sekian tuntutan hidup sebagai orang sunda. Silih asih, silih asuh, dan silih deudeuhkeun harus menjadi semangat hidup warga Cirendeu. Sebuah masyarakat adat apabila sudah tidak memiliki ciri tradisinya makan akan hilang jati dirinya. Saat hilang jati diri, maka hilanglah sebuah bangsa.

Saya memikirkan beberapa kalimat terakhir. Indonesia dengan beragam masyarakat dengan tradisi masing-masing memiliki kearifan lokalnya sendiri-sendiri. Apabila kearifan lokal Sunda, Bali, Dayak, Suku Anak Dalam dan yang lainnya tidak dilestarikan, bagaimana bangsa Indonesia mengenal jatidirinya? Tanpa ada masyarakat-masyarakat adat tersebut, tentu tidak akan ada Indonesia? Banyak diantara masyarakat adat tersebut mengalami pergeseran budaya akibat seleksi alam dan jaman. Pengaruh globalisasi seakan menggempur dan nyaris menghancurkan nilai tradisi masyarakat adat. Namun yang mengerikan apabila terjadi sebuah keputusan dari kelompok elit yang berusaha menghilangkan masyarakat tradisi karena kepercayaan, tradisi, ritual yang dijalankan tidak sejalan dengan ideologi kelompok elit tersebut, sampai-sampai harus disebut ’aliran sesat’. Apa yang terjadi ketika masyarakat adat Baduy yang menjadi salah satu ikon budaya Jawa Barat disebut aliran sesat oleh MUI? Hal ini perlu direnungkan bersama. Dimanakah negosiasi antara adat dan religi? Entah mau dibawa kemana arah bangsa ini...

Sebelum saya meninggalkan Cirendeu, saya masih sempat menyaksikan anak-anak kecil berebut mengambil buah-buahan yang dihias pada gunungan setinggi 1 meteran. Beberapa diantaranya juga mengambil kue-kue sesaji. Hanya 2 nampan yang tidak mereka sentuh, satu nampan berisi cangkir-cangkir mini (berisi beras, tepung, kopi, gula) dan satu nampan berisi 2 piring bubur merah bubur putih. Kami bersyukur pada Tuhan atas berkah yang diberikan selama satu tahun ini, kami bersyukur bisa terus berkesenian, hidup rukun dengan warga dan alam di sini, ujar Kang Agus yang getol melatih anak-anak usia muda bermain kecapi.
Akhir perjalanan, saya menumpang kru Bandung TV yang dimotori Dadang Domba sang aktor dalam acara Pulang Kampung sambil menikmati lagu-lagu Bang Roma.....minus kacapi suling dan tarawangsa yang bertengger jumawa menguasai isi MP3 player saya. Mati.

Perjalanan selanjutnya, Seren Taun Giri jaya, Cidahu, Sukabumi

salam,
agni malagina

Seri road to holyland: Sindangbarang - saat seni dipasung

Tanggal 8 Desember 2007 lalu, kami, Simpay (paguyuban guar Sunda) FIB UI mengajak beberapa orang siswa SD Pasir Eurih menanam pohon di Kampung Budaya Sindangbarang (KBS). Kegiatan kami dimulai dengan sedikit kesalahan teknis yang berhubungan dengan jam waktu Depok dan jam waktu Sindangbarang, sehingga menyebabkan kami baru berangkat dari stasiun UI pukul 07.15. Beruntung, pupuhu Sindangbarang (Ama Maki) menerima kesepakatan sepihak dari kami bahwa pukul 07.00 ekuivalen dengan pukul 05.30.

Tepat pukul 09.00, kami tiba di KBS. Siswa-siswa dan pramuka sudah berkumpul di Bale Pangriungan. Kami tersenyum sambil colek-colek, " eh anak kecilnya banyak amat ya? Cemilan kurang niyy"
105 anak datang menanam pohon, kami terharu. Acara pagi itu dimulai dengan pembukaan santai dari Ama maki dan rombongan Simpay. Suara anak-anak menggelegar membalasa salam sampurasun: "rampeeees"

Selesai sambutan diselingi canda tawa, anak-anak dikondisikan di lapangan untuk persiapan menanam 26 jenis pohon buah dan pelindung yang berjumlah 56 pohon. Salah satunya adalah falmboyan (tanaman yang kami sediakan karena terobsesi dengan lagu gubahan Iwan Abdulrahman!)

Siswa SD kemudian berkumpul duduk di atas rumput untuk mendengarkan dongeng lingkungan yang dibawakan oleh Kakak Aio. Sementara Pramuka membantu persiapan penanaman pohon. Sesuai jadwal, pukul 10.30, diawali dengan doa bersama yang dipimpin Abah Encem, tanaman-tanaman pun digotong oleh 2-3 anak menuju 56 titik tanam yang tersebar di seluruh KBS. Mereka menanam pohon, menyiram dan memberi nama pada pohon itu. Di akhir acara, anak-anak mendapat ¡¥sertifikat pohon¡¦. Ama Maki berpesan, anak-anak boleh datang kapan saja utnk menengok pohon yang mereka tanam. Kelak jika pohon itu sudah besar dan berbuah, mereka pun boleh mengambil hasilnya. Saat itu, kami melihat anak-anak itu tertawa girang. Celetuk-celetukan mereka membuat suasana menjelang tangkap ikan semakin ramai. Siang hampir tengah hari, anak-anak digiring menuju balong ikan untuk menangkap ikan mas. Satu-satu perwakilan kelompok anak-anak berlomba menangkap ikan yang berkelit di antara lumpur dan rumput-rumput dalam kolam, alhasil anak-anak pun berlarian dan sering mereka terguling, pakaian mereka kotor ternoda lumpur lembur. Saat ikan berada dalam genggaman, mereka tertawa senang. Selesai menangkap ikan, mereka mandi, dan kami pun membakar ikan untuk makan bersama. Saat mereka pulang, gerimis turun, sepertinya ingin megurai panas, melepas dahaga sang pohon yang baru ditanam.

Satu minggu berselang, beberapa dari kami (rombongan sirkus yang sering datang ke KBS) datang untuk berlibur, tujuan kami adalah untuk melepas kepenatan dan menjenguk pohon- pohon. Sekali lagi¡Kterjadi kesalahan teknis¡Kyang menyebabkan kami baru tiba di KBS tepat pukul 12.00 siang hari bolong.

Sesampainya di KBS kami melihat Imah Gede ramai, dan selidik punya selidik, ternyata Ama Maki sedang wawancara siaran langsung dengan sebuah stasiun radio ternama di Bogor. Kami mendapat informasi bahwa saat itu Ama sedang diwawancara mengenai dihilangkannya dana anggaran untuk Seren Taun Sindangabarang dari anggaran daerah, malah para dewan menganggarkan 15 M untuk sepak bola. Saya sedikit terkejut dengan adanya berita itu. Walaupun saya tau bahwa pemerintah dapat bertindak apapun dan kapanpun mereka mau, tapi saya sedikit terhenyak ketika mengetahui bahwa dana utnuk mengembangan seni dan budata justru dihapuskan!

Okeee laaaah¡K.bola itu penting, tapi jika menelan biaya sampai 15 M???? Apa yang terjadi? Padahal bola juga ga pernah jadi jawara internasional? Apakah terobsesi ingin menyamai klub-klub bola terkenal di dunia? Bola siiy okelaaah...tapi kalo menelan dana sampai 15 M? Sedangkan tidak ada sepeserpun untuk seni dan budaya? Bagaimana ini? Apakah pemerintah daerah tidak mau mengembangan proyek seni dan budaya yang notabene katanya tidak komersil, tidak menguntungkan¡Kbahkan hanya menjadi parasit?!!
Pendapat macam apa yang dikeluarkan oleh anggota pemerintahan? Anggota dewan yang mengatakan seni tidak penting? Apa siiy yang ada dalam benak mereka? Mengapa mereka tidak ada hubungan emosi dengan seni dan budaya? Apakah akhirnya bola lebih penting dari seni dan budaya?

Banyak pertanyaan yang akan saya tulis dalam curhatan ini¡Ktermasuk apakah bola sebegitu pentingnya dalam hajat hidup orang bayak? Apakah dana 15 M yang dialokasikan untuk bola dapat meningkatkan taraf hidup orang banyak di daerah? Dana 15 M ini pastilah digunakan untuk operasional bola dan perbolaan. Termasuk membayar pemain asing yang tentunya honornya lebih tinggi dari pemain local. Atau membayar pelatih-pelatih? Atau mendanai perjalanan-perjalan ke luar kota ? Atau mungkin membayar dana jalur birokrasi? Aaah Non Sense
Mengapa pemerintah daerah bisa memberi dana 15 M untuk bola tapi tidak bisa mengalokasikan dana untuk seni?
Entah berapa banyak daerah di Jawa Barat, dan daerah di seluruh Indonesia yang mengalami hal serupa dengan Kampung Singdangbarang Bogor.

Saya sedikit sedih mendengar berita itu. Dana-dana untuk kampung adat lain di seluruh Jawa Barat mungkin juga tidak ada. Pada saat kearifan lokal sedang menjadi daya kekuatan Indonesia , justru tidak ada dukungan keuangan dari pemerintah daerah. tak heran, banyak kesenian lokal yang terancam punah¡Kdan bahkan sudah mati. Sedih sekali saya membayangkan generasi yang akan datang tidak akan lagi mengenal seni pantun Sunda, seni ronggeng gunung dan lain-lain. Mungkin mereka hanya akan mengenal seni-seni itu di museum¡Kpun kalau museum itu ada. Coba tengok warga negara asing yang datang ke Indonesia untuk belajar seni lokal, meneliti, dan menuliskannya dengan dana pribadi maupun dukungan pemerintahnya. Mengapa justru orang asing yang peduli dengan seni lokal Indonesia ? Mengapa bukan kita sendiri? Kalau pun ada orang Indonesia yang berjuang mati-matian untuk seni dan budaya Indonesia , perhatian pemerintah hanya seadanya. Apakah akan terjadi lagi kasus-kasus pencurian hak cipta kekayaan intelektual Indonesia oleh pihak di luar negeri? Bukankah ini adalah sebuah keprihatinan yang patut kita selipkan sedikit dalam khasanah pemikiran kita?
Pertanyaan itu memenuhi benak saya..dan tak mungkin terjawab lagi, sama seperti pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam seri tulisan Road to Holyland (amalagina.multiply.com).
Sore itu¡K..16 Desember 2007, sedih, kecewa menjadi bagian jiwa saya, sampai saat menjelang kepulangan kami ke Depok. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh kedatangan sekelompok anak kecil, yang berbisik-bisik:
"Itu kak Agi yaa?" dan saya mendatangi mereka berkata, "kenapa ya?"
"kak, kami boleh mupuk pohon ga?"
Saya terhenyak..lemas sesaat,kekecewaan saya sontak hilang
Dan mereka memperlihatkan pupuk urea atau KCl yang mereka bawa dari rumah.
"Masih ingat pohonnya ditanaman dimana? Kamu tanam pohon apa?"
Mereka berebut menjawab,"di sana , di sana . Aku tanam mangga."
"Aku tanam rambutan."
"Aku tanam buni."
Aku berkata, "carilah pohon kalian, siram yaa."
Tanpa menjawab, mereka berhamburan
Saat itu saya, kawan-kawan, pupuhu hanya bisa tersenyum dan kami berteriak, "pupuk dan siraaam yaa!"
Samar-samar dari kejauhan aku mendengar teriakan melengking, "iyaaaaaaaaaaaa."


Terima kasih untuk kawan-kawan seperjuangan: Lola, Mufti, Kenny, Aryo, kak Ocid, Risna. Kita ngariung lagi di Seren Taun Sindangbarang 23-27 Januari 2008!
Hatur Nuhun untuk sesepuh Simpay: Pak Agus Aris Munandar, kang Mumu spk


Salam,
Agni

Seri Road to holyland: Giri Jaya - Sejenak bernafas di Giri Jaya

Sekali lagi, perjalanan ke arah pemahaman jati diri mengantarkan saya ke tempat-tempat yang tak pernah saya pikirkan sebelumya. Giri Jaya...saya tidak pernah tau apa nama Giri Jaya itu. Apa artinya. Yang saya tau hanya Jaya Giri, itupun karena saya mendengar lagu Abah Iwan yang berjudul Melati dari Jaya Giri plus nonton latar tempat kawah putih Jaya Giri di dalam film GIE. Betapa saya ini seperti katak dalam tempurung, tidak tahu apa-apa....tentang Jaya Giri apalagi Giri Jaya.

Dari Sindangbarang saya ikut menaiki truk ukuran sedang bersama 2 orang utusan dari Kampung Budaya Sindangbarang dengan misi meminjam lisung (alat penumbuk padi yang terbuat dari gelondongan kayu sebuah pohon) kepada Abah Eneng, pupuhu kampung adat Kasepuhan Giri Jaya. Perjalanan kali ini agak santai karena saya terlebih dulu mendengar kabar bahwa medan yang akan kami tuju tidak sekejam seperti jalanan menuju Ciptagelar yang sempat membuat saya JetLag selama satu minggu. Hari Sabtu, tanggal 2 September 2007, pagi hari kami meluncur meninggalkan Kampung Budaya Sindangbarang. Dengan berat hati saya meninggalkan kawan-kawan seperjuangan yang sedang membantu Ama Maki(Achmad Mikami Sumawijaya) di Pusat Media.

Sebelum meninggalkan Bogor, Mang Ujang dan Kang Dodol mengajak saya untuk sarapan di sebuah kedai soto kaki di bilangan jalan Empang, Bogor. Yang jelas, kedai makan itu terletak di dekat masjid Al Mutaqin. Terpana saya melihat kedai soto itu. Meja hanya ada 2 bagian. Digunakan sebagai tempat makan sekaligus memajang makanan. Hebat. Daging, urat, kulit kaki yang telah direbus bumbu kuning terhampar dengan jumawanya. Banyak orang yang sudah antri mengambil daging-daging tersebut. Antri menunggu giliran dagingnya diproses oleh sang penjual. Giliran saya tiba, suapan pertama merupakan pengalaman batin yang tak terlupakan. Daging kenyal yang saya duga keras ternyata begitu empuknya, menyatu rasa dengan kuah soto yang kuning bening. Soto yang sudah 25 tahun berjaya itu tetap menyajikan resep turun temurun yang teruji. Terbukti dari panjangnya antriannya.

Puas menghabiskan tetes terakhir sang soto, kami pun mulai bergerak meninggalkan Bogor menuju Sukabumi. Langsung meluncur ke Giri Jaya. Rupanya saya menuju sisi timur Gunung Salak, sebuah gunung yang menjadi inspirasi bagi pendiri Pajajaran untuk merepresentasikan Paku yang Berjajar (puncak-puncak Gunung Salak) dalam nama Pakwan Pajajaran, dan memilih lokasi kerajaan tersebut di antara dua buah sungai yang berjajar….Nenek moyangku luar biasaaa….[1]

Semakin dekat dengan sisi timur Gunung Salak, semakin menanjak jalannya. Namun tampaknya pemda setempat (Sukabumi) sudah memberi perhatian khusus pada jalan-jalan akses menuju kasepuhan Giri Jaya. Jalan aspal memang tidak sesempurna daerah perkotaan, namun tampaknya jalan yang cukup bersahabat tersebut turut memajukan perekonomian, mobilitas penduduk, dan aksesibilitas yang tinggi di daerah sekitarnya. Hampir 3 jam perjalanan saya rasakan dengan sangat nyaman. Melintasi jalan naik turun berliku berkelok, melewati persawahan dan sungai, tak lupa pula melewati dua pabrik AQUA di Cidahu.

Ketika sampai di Giri Jaya, saya dapat merasakan segarnya udara bersih. Harumnya udara di sana terasa sangat ramah, hembusan anginnya pun sangat lembut menyentuh permukaan kulit saya. Keramahan udara di sana pun sebanding dengan keramahan warga dan keluarga Abah Eneng. Setelah menyampaikan maksud dan undangan Festival Budaya Jawa Barat kepada Abah eneng, kami disuguhi ketela rebus yang dimakan dengan gula pasir plus segelas teh manis panas….luar biasa….
Dengan terbata-bata… saya pun sok akrab dengan bertanya tentang sebuah rumah besar berarsitektur, arsitektur yang sangat saya kenal…karena mirip dengan rumah kakek di Jogjakarta. Karena saya agak terkejut, mengapa bentuk rumahnya bukan seperti imah gede yang ada di Ciptagelar atau Sindangbarang.Terlebih dulu saya harus meyakinkan Abah Eneng bahwa saya bukan penutur bahasa Sunda yang aktif berbahasa Sunda, hanya saja memang ada darah Sunda yang mengalir dalam tubuh ini. Untunglah Abah Eneng cukup memahami keterbatasan saya sebagai orang yang mengaku orang Sunda namun tidak bisa berbahasa Sunda. Dan mulailah beliau bercerita…
“Neng, rumah itu dibangun tahun 1830 oleh Abah Abu. Nah Abah Abu teh datang ke sini (Giri Jaya) tahun 1927 dari Solo.”
Sepenggal kalimat itu masih saya ingat sampai sekarang. Dari sepenggal kalimat itu saya pun menjadi banyak bertanya….bertanya lagi…bertanya lagi….entah berapa pertanyaan yang sudah muncul dalam seri Road to Holy Land ini. Saya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan awal seri ini…”Siapakah Saya?”
Saya berpikir akan mendapat jawaban dari pertanyaan saya dalam perjalanan-perjalanan yang saya lakukan bersama kawan-kawan dari FIB UI. Namun semakin lama berjalan…semakin banyak pertanyaan yang terlintas…
Giri Jaya pun membuat saya bertanya lagi….

Sejarah keluarga Abah Abu di Giri Jaya sudah dituliskan. Jelas bahwa keluarga ini berasala dari Solo...dan masih ada hubungan dengan keraton Surakarta. Namun mengapa mereka memilih Gunung Salak sebagai tempat tinggal mereka merupakan pertanyaan tersendiri. Mengapa Kasepuhan ini ada di Giri Jaya?…padahal masa mereka ada sangat jauh dari masa Pakwan Pajajaran. Namun menurut Bapak Agus Aris Munandar keberadaan kasepuhan Giri Jaya merupakan hal penting di sekitar Mandala Gunung Salak. Begitu pula naskah kuno yang disimpan oleh Abah Eneng. Naskah yang menggunakan tulisan huruf Jawa masih menungu untuk dibaca. Menguak tabir sejarah keberadaan kasepuhan Giri Jaya. Fakta yang menarik adalah….Abah Eneng yang notabene adalah keturunan Keraton Surakarta ternyata tidak bisa membaca huruf Jawa yang ada dalam naskah tersebut atau pun berbahasa Jawa. Tradisi Solo pun tidak ada di kampung ini. Hanya ada berupa bangunan Imah Gede yang masih menggunakan ragam hias dan arsitektur rumah adat Jawa Tengah. Pun mereka melaksanakan upacara Seren Taun setiap tahunnya. Sama seperti kasepuhan Ciptagelar, Cigugur dan lainnya. Menarik sekali…permasalahan identitas di sini menjadi sangat beragam. Mulai dengan pertanyaan dari mana asal Abah Abu membuat saya bertanya, apa yang Abah Abu pikirkan ketika memutuskan pindah/lari ke sisi timur Gunung Salak. Apakah Abah Abu yang konon adalah bangsawan Solo tidak menurunkan adat istiadat dari keraton Surakarta kepada penerusnya…? Mengapa kasepuhan Giri Jaya yang masih mempunyai darah Solo justru sekarang sudah menjadi orang Sunda, berbahasa Sunda dengan baik dan menganut tradisi Sunda, salah satunya Seren Taun? Upacara Seren Taun pun menjadi penanda terjadinya identitas hybrid dalam kasepuhuan Giri Jaya. Abah eneng tidak lagi bisa berbahasa Jawa. Saat ini beliau adalah kepala kasepuhan Giri Jaya….sayang…pertemuan kami sangat terbatas. Hanya 30 menit…tidak mungkin menjawab semua pertanyaan yang bersliweran dalam benak saya pada saat itu…

Pencarian pemahaman jati diri segelintir anak muda ini masih panjang. Masih banyak perjalanan-perjalanan yang akan kami lakukan. Dan masih akan ada lagi tulisan-tulisan seri Road to Holy Land untuk mencari secercah cahaya pelipur lara, mendapatkan setetes air peluruh dahaga…..dan tetap dimulai dari Sindangbarang…pencarian jati diri ini kami harap dapat mewakili mungkin ada beberapa perasaan yang sama dengan kami di luar sana…entah di mana….entah siapa….

Kami pun pamit bergerak pulang menuju Sindangbarang. Saya akan segera bertemu kawan-kawan yang sedang bersemangat membantu kampung Budaya Sindangbarang. Mungkin saya akan kembali lagi saat mengembalikan lisung Giri Jaya yang turut bergerak menuju Sindangbarang. Kembali lagi ke Giri Jaya untuk mencari jawaban….mencari….tidak hanya sekedar menanti….Menanti Sebuah Jawaban seperti kata grup band PADI.

Salam
Agni malagina


[1] Tulisan tentang Gunung Salak yang berhubungan dengan nama Pakwan Pajajaran adalah hasil pemikiran bapak Agus Aris Munandar (FIB UI). Keterangan lebih lanjut, silahkan menghubungi beliau. Pada saat ini, beliau sudah mengemukakan pendapatnya dalam tulisan ilmiahnya.

Seri Road to Holyland: Ciptagelar - Seren Taun 2007- Debus VS Pongdut

Saya mengukuti perjalanan ke Ciptagelar bersama kasepuhan Sindangbarang. Perjalanan selama 7 jam dari Bogor sangatlah mengejutkan. Medan berat kami lalui selepas Pelabuhan Ratu menuju Ciptagelar melalui desa Cengkuk dan Ciptarasa.
Hampir selama 3 jam tubuh ini tergoncang dalam mobil yang menembus hutan berjalan di atas bebatuan dengan kontur tanah yang nyaris terjal. Beginikah perjalanan menelusuri budaya Sunda? Beginikah pejalanan mencari pemahaman jati diri? Luar biasaaa…


Pukul 4 sore, kami sampai di Ciptagelar. Syukurlah….kami tiba dalam keadaan sehat mengingat medan yang kami tempuh sebelumnya sangat menguras tenaga. Ramai suasana di sana, Land Rover pun berjajar, bikers-bikers pun memarkirkan sepeda-sepeda mereka. Ramai….Dingin stabil mulai saya rasakan. Namun dinginnya lingkungan Gunung Halimun itu terpecah ketika saya mendengar keriaan pongdut di lapangan bawah Ciptageler. Naluri dangduters saya segera membawa kaki saya melangkah mencari keriaan tersebut. Melewati perkampugan penduduk yang ramai, melewati banyak tenda pedagang yang menjual bermacam komoditas dari kerajinan masyarakat adat sampai Coca Cola. Ada juga rupanya Coca Cola samapai di Ciptagelar. Luar biasa Amerika…

Terperangahlah saya ketika mendekati panggung pongdut tersebut….seorang penyanyi dangdut dengan kostum warna biru meliuk-liuk mengguyangkan pinggulnya. Hebat…ia mengenakan hotpants jeans dan kemben warna biru. Bergerak erotis mengikuti musik pengiring lagu Kucing Garong. Tak terduga…menjelang upacaa Seren Taun …menjelang upacara adat yang sudah berlangsung selama 600 tahunan ada pertunjukkan pongdut sedahsyat itu. Tak ketinggalan saweran pun mulai bertebaran….1000, 10000, sampai 50000. saya rasa pongdut merupakan mesin uang produktif. Hebat.

Hari semakin sore dan dingin, lapar pun menyerang. Saya dan seorang kawan memutuskan keluar dari keramaian untuk mencari udara segar dan suasana sepi. Kami mendapati perlombaan panjat pinang. Seru sekali. Laki-laki, perempuan, tua muda bahu membahu untuk mengambil hadiah-hadiah yang tergantung di puncak kayu pinang, termasuk mengambil sebotol Coca Cola. Melihat Coca Cola tergantung pun kami merasa sudah seharusnya segera mencari penawar dahaga. Saya menuruni tanah kering berdebu menuju sisi lain perkampungan Ciptagelar. Sinyal kuat kami menangkap frekwensi mi instan rebus. Segeralah kami menuju warung mungil dekat leuit-leuit (lumbung padi) yang berdiri angkuh, tegar, dan berjumlah puluhan. “Ceu, sama nasi ya…”
“Iya neng, makan di rumah aja yuk, biar santai.”
“Nuhun Ceu, enak di warung aja.”
Tak lama datanglah dua mangkuk mi rebus dan sepiring nasi beras merah.
“Neng, kalo di sini kita ga boleh jual nasi. Neng boleh minta nasi sesuka Neng.”
“Waw….hatur tengkyu Ceu.”
Luar biasa

Semakin gelap, malam, dingin. Kami beristirahat di wisma Sudin Budpar Sukabumi. Sambil mendengar suara pertunjukkan Jipeng di panggung dekat wisma budpar. Tapi lama kelamaan..telinga saya agak terkejut mendengar lagu Kucing Garong yang tampaknya keluar dari speaker besar di panggung Jipeng. Saya tengok melalui jendela…dan…waaw…..pongdut kembali berjaya.
Saya kembali tergugah untuk melihat pertunjukkan di panggung Jipeng. Dan benar adanya…walaupun seniman Jipeng masih duduk di panggung namun pertunjukkan sudah digantikan oleh pongdut Ciptagelar. Semakin malam, semakin dingin, gerak erotis dangduters pun semakin bombastis.
Laki-laki pun sudah berani untuk naik ke panggung ikut menari bersama penyanyi tersebut. Tidak seperti pada panggung siang hari….tampak malu-malu.
Gerak dinamis dan erotis pun sempat mendapat sentilan pedas dari pengunjung yang datang dari Bandung. Namun apa boleh buat dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung. Saya rasa fenomena Pongdut di Kampung Masyarakat Adat Ciptagelar dapat menjadi sebuah kajian budaya dari multidisiplin. Malam makin dingin, dingin pun memaksa saya untuk meninggalkan keramaian panggung. Saya memilih membungkus tubuh dengan sleepingbag. Dan terlelap dalam gelap malam.

Upacara Seren Taun dilaksanakan pukul 9. Arak-arakan pun menjadi keramaian tersendiri. Debus, rengkong, angklung gubrak menjadi andalan arak-arakan Seren Taun Ciptagelar. Sampailah pada penghujung acara, ritual memasukkan padi ke adalam leuit Si JImat yang dipimpin Abah Anom dan diikuti istri pertama beserta ketiga anak mereka. Prosesi berjalan hikmat. Pantun Sunda dilantunkan untuk memuji Tuhan, diiringi petikan kecapi. Upacara selesai dan rangkaian acara Seren Taun Ciptagelar pun selesai.

Saya hanya dapat mengambil beberapa gambar dan memikirkan beberapa masalah dan keriaan yang saya temukan pada kunjungan perma saya ke Ciptagelar…mungkin juga menjadi kunjungan terakhir saya.
Beberapa kisah dan pemandangan yang saya dapatkan selama 14 jam di Ciptagelar membuat saya senang sekaligus bingung. Hahahaha…..dan lagi-lagi muncul banyak pertanyaan dalam benak saya….menggelitik….
Bagaimana caranya keluarga Abah Anom bisa sampai ke Ciptagelar? Sudah 600 tahunan mereka ada di kaki Halimun, adakah keinginan mereka kembali ke daerah asal mereka (Pakwan Pajajaran dahulu)? Adakah mereka mencari akarnya? Perempuan-perempuan di Ciptagelar begitu bersih, putih, dan memiliki ciri fisik yang mirip etnis Cina, adakah mereka memiliki hubungan darah dengan ras Mongoloid? Permukiman mereka sangat solid, bagaimana mereka bias tinggal di tempat yang terpencil seperti itu? Bagaimana cara mereka survive? Bagaimana pergaulan antar penduduk di dalamnya? Bagaimanakah sistem kekerabatan dan perkawinan antar penduduk? Bagaimana kehidupan prempuan-perempuan dalam masyarakat adapt, mengingat…..mereka sudah menikah dalam usia yang sangat muda? Bagaimana pengaruh Pongdut dalam kesenian di lingkungan masyarakat adat Ciptagelar? Bagaimana kehidupan ruang publik di daerah tersebut? Bagaimana memori kolektif masyarakat Ciptagelar bertahan sampai sekarang? Apakah sudah ada pergeseran tradisi dalam kehidupan mereka? Ketika Pongdut lebih diminati daripada kesenian seperti debus, jipeng, dll yang berkembang di kampong adapt…….entahlah..banyak pertanyaan lagi….
Perjalanan kami Road to Holy Land membawa kami ke CIptagelar…..dan kami akan terus mencari…


salam,
agni malagina

Seri Road to holyland: Sindangbarang - bersemi bersihati

Agni Malagina

Punten, ieu rangkuman kagiatan di Lembur Adat Sindangbarang, Dukuh Kemang, Bogor.
Nuhun ka Kang Mumu anu tos nerjemahkeun ti bahasa Indonesia ka bahasa Sunda

Hatur nuhun sakali deui untuk Ama Maki nu tos ngijinkeun tim ti FIB UI (kuring spk) hadir di Sidangbarang.


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Bogor ngayakeun arasehan Budayawan Daerah dina Raraga Mieling Kota Bogor ka-525? Ieu acara teh diayakeun di Kampung Budaya Sindangbarang, Pasir Eurih, Taman Sari, Bogor , dina poe Rebo, 13 Juni 2007, tabuh 08.00 wib.
Nu jadi narasumber dina ieu diskusi teh nya eta: Mayjen. Sudradjat Nataatmadja (Bupati Bogor manten), Eman Sulaeman (Budayawan Bogor ), Dr. Agus Aris Munandar (Arkeolog Fakultas Ilmu Budaya UI), Munawar Holil, M.Hum. (Filolog Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI), jeung Anis Djatisunda (Budayawan Bogor).
Acara dibuka ku pangbagea Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bogor, nu diwakilan ku Bapak Drs. Hadiyanto. Rengse Pa Hadiyanto biantara, Pa Sudradjat giliran MusPida (Musti Pidato). Numutkeun anjeunna, para pamingpin teh diperedih pikeun ngamakmurkeun jeung ngawaluyakeun nagara jeung rahayatna saperti nu dicontokeun ku Prabu Siliwangi nu marentah kalawan wijaksana, bisa nata Pajajaran nepi ka jadi nagara nu makmur, gemah ripah loh jinawi. Pa Ajat oge netelakeun yen Bogor teh pakuna Indonesia . Sagala kagiatan di Indonesia teh pasti dimimitian ku ayana kagiatan di kota Bogor . Numutkeun Pa Ajat, pikeun ngamajukeun Sunda teh perlu diteangan pamingpin nu bisa manggihan angka hiji. Hartina, pamingpin nu bisa ngabaladah; ngamimitian hiji pagawean. Gerakan budaya jeung sastra Sunda perlu diayakeun deui, ngan perlu ayana emahaman?yen gerakan budaya jeung sastra teh lain hiji gerakan pulitik....

Catetan singget Sarasehan Budaya Sunda
Eman Sulaeman:
Bogor diadegkeun tahun 1482, nya eta waktu Prabu Siliwangi mangku kakawasaan di Karajaan Pajajaran. Dina kateranganana, Pa Eman ngajentrekeun asal-muasal kecap Bogor jeung makna pilosopisna. Dicaritakeun oge, dina pamarentahan Prabu Siliwangi kota Bogor teh jadi pusat pikeun nyiar pangaweruh dina widang elmu kawijaksanaan, etika, jeung palsapah.
Pa Eman oge nyaritakeun yen Anjeunna keur nalungtik toponimi di daerah Bogor . Ayeuna teh geus kakumpulkeun 75 toponomi ngaran-ngaran tempat di Bogor , tina target 150 ngaran daerah.

Dr. Agus Aris Munandar
Situs Sindangbarang munggaran didongdon taun 2006 ku rekomendasina Pa Inochi jeung Kang Hendra. Numutkeun Pa Agus, situs-situs di Sindangbarang teh lolos tina panalungtikan urang Walanda nu biasana taliti pisan. Hal ieu numuwuhkeun sababaraha tafsiran. Dumasar kana pangalaman di daerah sejen, biasana mah urang Walanda teh datang ka hiji situs lamun aya laporan ti nu mukim di daerah situs. Lian ti eta, dina ngalaksanakeun ekspedisi militerna teh Walanda biasana sok ngirimkeun para ahli pikeun ngadatangan hiji tempat. Aya kamungkinan, ceuk katerangan salah saurang sesepuh di Bogor , urang Walanda oge geus ngadatangan eta tempat tapi sesepuh di dinya nyumputkeun?(teu mere katerangan).
Titinggal karuhun di daerah Sindangbarang teh euyeb pisan, di antarana wae, nya eta batu tapak, dolmen, menhir, punden berundak, batu pelor, jeung batu dakon. Awalna eta artefak-artefak teh ditaksir titinggal karuhun ti jaman prasejarah, tapi sanggeus ditalungtik deui ari pek teh lain ti jaman prasejarah tapi ti jaman karajaan Sunda kira-kira abad 13-15.
Di ieu daerah teh ngalir sababara walungan nu jadi ciri yen ieu daerah mibanda peran nu penting dina tradisi eradaban?baheula jeung deui toponimi kampung sabeudeureunana mageuhan eta asumsi. Sok sanajan kitu, ieu teh masih mangrupa hipotesis ku sabab aya keneh sababaraha ganjelan din proses interpretasi kana ieu tempat nu nyangkut data barang jeung data tulisan. Dina katerangan saterusna Pa Agus ngusulkeun lengkah-lengkah nu sakuduna dilakukeun: ti kawit ngainventarisasi nepi ka ngajadikeun daerah Sindangbarang jadi daerah tujuan wisata saluyu jeung geus ngadegna kampung budaya Sindangbarang di Dukuh Kemang.

Munawar Holil, M.Hum.
Kang Mumu ngaran akrabna mah. Wanoh ka Sindangbarang teh waktu aya acara seren taun nu bewarana meunang tina internet. Numutkeun anjeunna, Sindangbarang teh ngan dipikiwanoh tina situs arkeologi wungkul, sedengkeun sumber lisan jeung tulis can aya nu ngagarap. Sumber lisan nu dimaksud ku anjeunna teh kaasup folklor lisan nu ngawengku: Basa Rahayat nu mangrupa eunteung tina tradisi basa nu digunakeun ku hiji masarakat ti mangsa ka mangsa, nu bisa jadi ngalaman parobahan ku ayana barobahna jaman; ungkapan tradisional saperti babasan, paribasa, jste.; pertanyaan tradisional saperti teka-teki; puisi rahayat kayaning pantun, sisindiran, jste; carita prosa rahayat kayaning dongeng, legenda, mite; jeung nyanyian rahayat. Tah, eta sumber lisan teh salah sahiji tatapakan nu kudu digunakeun pikeun ngalengkepan dina ngamutalaah kabudayan hiji daerah, pangpangna ajarah?hiji tempat.
Di sagedengeun eta, aya oge sumber tulis nu mangrupa naskah (tulisan nu paling henteu umurnya leuwih ti 50 taun). Naskah Sunda nu geus kapaluruh ku Prof Edi S. Ekadjati dina katalog Katalog Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan (1988) jumlahnya aya 1831. Naskah nu disimpen di lembaga-lembaga kayaning perpustakaan jeung museum, panglobana di Perpustakaan Universitas Leiden , Belanda nya eta 785, nu kadua panglobana di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta , 400-an (can kaasup naskah nu bahanna lontar). Naskah nu aya keneh di koleksi-koleksi pribadi jumlahnya 554. Kang Mumu teu percaya yen eta jumlah naskah teh ngan sakitu. Pasti seueur keneh nu bacacar di masarakat, kaasup Bogor . Komo deui Bogor teh baheula pernah jadi puseur Karajaan Pajajaran (Sunda). Buktina, anjeunna nunjukkeun hiji naskah milik urang Sindangbarang nu ditambutkeun ku urang dinya samemeh acara diskusi.
Dua sumber nu disebut teh ngahasilkeun prospek panalungtikan ka hareupna nu kudu digarap kalawan soson-soson. Garapan nu bisa dilakukeun teh dimimitian ku ngainventarisasi sumber-sumber, ngadokumentasikeun, nyebarluaskeun (publikasi), jeung panalungtikeun nu leuwih gemet tina sagala widang elmu. Dipiharep ku ayana panalungtikan kawas kitu teh urang Sunda bisa ngajaga tradisina pikeun galieun ka hareupna.

Anis Djatisunda
Ngaran daerah Sindangbarang teh kurang pas keur nyebut tempat ngadegna kampung adat Sunda ku saba wawangunan kampung adat teh ngadeg di daerah Cimenteng. Ku sabab kitu pikeun Pa Anis mah leuwih hade kampung adat teh disebut Lembur Budaya Mandala Parakan Jati. Nu jadi tatapakan ngadegkeun kampung adat teh ku sabab upacara seren taun teu miboga sarana jeung fasilitas pikeun ngawadahanana.
Dina naskah Sanghiyang Siksa Kandang Karesian dicarikeun masalah etika tatalimarga, konsep pamarentahan. Di kampung budaya kudu aya rama nu jadi sentral dina ngadegkeun kampung, aya resi nu ngurus kesejahteraan jeung aya sang prebu nu ngurus masalah pamarentahan.
Pa Anis oge ngabahas masalah makna filosofis wangunan-wangunan lembur budaya, nu ceuk anjeunna, aya kaitanana jeung konsepsi bulan, bentang, panonpoe atawa wilayah luhur, tengah, jeung handap atawa alam asal, alam kahirupan, jeung alam kematian. Lian ti eta, di hareupeun imah gede aya tangkal pakujajar nu mangrupa pepelakan asli Bogor jeung dihias oge ku kolecer jeung calintuh nu maksudnya supaya pare bisa buru-buru dipanen.

Catetan pamungkas notulensi ti si kuring:
Aya sababaraha hal penting nu bisa dilakukeun ku pihak mana wae pikeun ngadongsok lumangsungna hirup-huripna Sindangbarang. Sababaraha hal eta teh mangrupa hasil diskusi ti para narasumber jeung hasil olahan tim notulensi (barudak ngora kosmopolitan nu keur neangan jati dirina):
Inventarisasi sui generis (genetic resource/sumber genetik, expression of folklore/ekspresi folklore, traditional knowledge/pengetahuan tradisional) Sindangbarang jeung sabudeureunana.
Panalungtikeun nu leuwih jero (penelitian lebih lanjut)
Publikasi
Promosi
Mere ngaran kampung adapt nu keur diwangun, upamana ku ngaran nu diusulkeun ku Pa Anis, nya eta Kampung Budaya Mandala Parakan Jati
Revitalisasi fisik jeung budaya kampung budaya
Ngeusian kampung budaya Sindangbarang ku mekarkeun seni (musik, tari, tembang, sendratari, jeung nyaritakeun tradisi atawa tokoh kawentar di Sindangbarang, ngagondang, karajinan, pemberdayaan SDM
Perlu diayakeun gotrasawala (diskusi), riungan ilmiah jeung semi-ilmiah kalayan maneuh (mingguan, bulanan, dua bulanan, tilu bulanan, tahunan, jst)
Ngadegkeun museum mini
Publikasi nu ngajak milu aubna warga masarakat Jawa Barat pikeun ngamumule budaya Sunda, misalna wae: ngalaporkeun naskah (manuskrip) nu aya di masarakat kalawan tanggungan pamarentah, tapi eta naskah teh tetep kapimilik kunu bogana.
HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dina sui generis Sindangbarang.