Tampilkan postingan dengan label seren taun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seren taun. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2008

Undangand dan Susundan Acara: Seren Taun Guru Bumi Sidangbarang 2009

Kepada Yang Terhormat Bapak/Ibu/Saudara:Pupuhu Kampung Budaya Sindangbarang mengundang Anda untuk menjadi bagian sejarah perjalanan Seren Taun Guru Bumi yang akan dilaksanakan pada:
Hari/ tanggal: Senin - Minggu / 5 - 11 Januari 2009 (Acara Puncak tanggal 11 Januari 2009)Tempat : Kampung Budaya Sindangbarang, Pasir Eurih, Tamansari, Kabupaten Bogor
Bersama ratron ini kami menyertakan susunan acara. Informasi lebih lanjut silakan mengunjungi laman kami: www.kp-sindangbarang.comAtas perhartian Anda, kami ucapkan terima kasih

Pupuhu,A.Mikami Sumawijaya(Rama Heulang)


Susunan acara Tanggal Acara Lokasi jam

5/01/09 Neteukeun Imah Gede KBS 19.00 WIB

6/01/09 Ngembang Imah bali ke makam
leluhur KBS 08.30 WIB

6/01/09 Manakiban Imah Kolot 19.30 WIB

7/01/09 Sawer Sudat Imah Gede 08.00 WIB
Ngalage Saung Talu 10.00 WIB

08/01/09 Sebret kasep Bale pangriungan 08.00 WIB
Munday Sungai Cieureu barang14.00 WIB

09/01/09 Ngukuluan Imah Kolot 14.00 WIB
Ngangkat Imah Kolot 20.00 WIB

10/01/09 Sedekah kue Imah Gede 08.00 WIB
Helaran Lapangan inpres 09.00 WIB
Nugel munding Lapangan inpres 09.30 WIB
Sedekah daging Imah Kolot 15.00 WIB
Pintonan kesenian Saung Talu 19.30 WIB
Pintonan kesenian Lapangan inpres 19.30 WIB

11/01/09 Helaran rengkong
dongdang,kesenian Imah kolot ke
Imah Gede KBS 08.00 WIB
Majiekeun Pare Alun2 kajeroan 09.00 WIB
Sambutan Pupuhu
Parebut dongdang Alun2 kajeroan 11.00 WIB
Pintonan kesenian Alun2 kajeroan 11.30 WIB

Jumat, 28 November 2008

Seri road to holyland:nagrak - ruwatan bumi, romantisme seni tradisi

Januari 2008 merupakan bulan penuh ritual ucapan syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen. Masih teringat saat saat mengakhiri perjalanan Seren taun Cigigur yang mengakomodir keberagaman suku agama di Cigugur, saya diajak oleh seorang kawan dari STSI untuk datang ke Ruwatan Kampung Banceuy Subang. Saat itu saya menolak ajakan itu karena sudah memiliki agenda mengunjungi Upacara Tutup taun ngemban Taun di Cirendeu yang konon masih berafiliasi dengan Cigugur. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kawan dari Bandung TV mengajak mengunjungi kampung Nagrak pada tanggal 16 Januari 2007 untuk mengikuti upacara Ruwatan Bumi.

Perjalanan diawali dengan menantikan kru bandung TV menjemput saya di Toko Buku Baca-Baca yang terletak di Sabuga. Jam 5 pagi datanglah kawan-kawan yang selalu ceria itu. Segeralah Kang Kiwil meluncur membawa mobil dan 4 orang yang mengaku kopilot menuju Lembang. Sempat kami beristirahat di rumah salah seorang penggerak pariwisata Nagrak sambil menikmati uli bumbu pedas dan semangkuk bubur ayam. Dinginnya lembang pagi itu tidak terasa menusuk, hiruk-pikuk pasar Lembang pun menjadi ‘pemanas’ udara saat itu.

Pukul 7, kami berangkat menuju Nagrak. Melewati taman wisata Sari Ater, jalan pun terus menanjak dan turun tiada beraspal total. Bocel-cocel jalanan pun semakin diperparah dengan konsisi licin setelah hujan. Namun keahlian Kang Kiwil membawa mobil memang sudah tidak perlu diragukan, entah bagaimana caranya, dia bisa meyakinkan saya yang duduk di jok depan bahwa dia memang handal. Dan tiba-tiba, mobil pun sudah berada di depan balai desa Nagrak.

Ruwatan Bumi Kampung Nagrak tahun 2008 ini adalah upacara yang dilakasanakan ke 63 kalinya. Tahun 2008 ini adalah upacara ruwatan yang istiwewa karena merupakan ruwatan yang menguburkan kepala kerbau. Setiap tahun biasanya menguburkan ayam, namun setiap tiga tahun sekali menggunakan kepala kerbau. Menurut kepala desa Nagrak, Bapak Dadang, Upacara Ruwatan Bumi ini mengandung banyak arti bagi warga Nagrak yakni untuk simbol ucapan syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen, selalu mengingatkan warga kepada leluhurnya, menjaga persatuan warga, dan mendekatkan warga Nagrak pada alam sekitarnya.


Pukul 9, segera setelah semua sesaji, pendukung acara siap, dimulailah upacara ngarak kepala munding menuju makam Eyang Embah Raden untuk ziarah. Arak-arakan dimulai dengan kuda yang dituntun oleh 2 orang ibu sambil memayungi sang kuda. Diikuti dengan jampana kepala munding, pemain gambyung, 2 kuda yang ditunggangi kepala desa dan pejabat desa, arak-arakan warga dan anak-anak, dan terakhir rombongan kuda lumping. Perjalanan cukup jauh, melewati sawah-sawah hijau dan air yang tumpah ruah, hijau, subur, air mengalir, dan gerimis. Wangi tanah yang tersegar hari itu. Perjalanan menuju makan Eyang Embah Dalem memiliki makna ritual yaitu perjalanan perjuangan mengingat leluhur sekaligus berdoa pada Tuhan mengucap syukur atas nikmat dan karunia, serta meminta keselamatan dan kesejahteraan untuk satu tahun mendatang. Sekembalinya dari ziarah, rombongan kembali ke desa Nagrak, melanjutkan upacara berikutnya yaitu numbal, penanaman kepala kerbau di pusat desa.

Upacara penguburan kepala kerbau dipimpin oleh Bapak Kalsim dan Bapak Dusim, sesepuh Kampung Nagrak. Sepetak tanah sati kali satu meter sudah tergali. Hiasan sawen pun telah tergantung. Di samping lubang tersebut terongok kepala kerbau yang sudah menjadi tulang benulang berwarna kehitaman. Tiga tahun yang lalu ia terkubur. Pak Kalsim membaca rajah pamunah dan beberapa doa agama Islam kemudian menyelipkan uang koin pada buah kelapa muda, meletakkan buah tersebut ke dalam lubang. Lalu berturut-turut beliau memasukkan bumbu dapur berupa cabe, kencur, garam, kelapa, beras, telur, pisang. Terakhir, kepala kerbau bertengger di atas sesaji tersebut. Tanah ditutup. Tebu dan hanjuang ditancapkan menjadi tanda bahwa warga harus mengingat apa yang yang menjadi ciri khas jiwa mereka. Terakhir, mereka menyiram petak tanah itu dengan air dari mata air terdekat dengan harapan supaya hati warga masyarakat Nagrak tetap dingin. Penggunaan semua sesaji dalam acara ini dimaknai masyarakat Nagrak sebagai sesuatu yang sakral. Misalnya saja penggunaan bumbu dapur mempunyai perumpamaan bahwa hidup adalah jalinan cerita yang memiliki rasa sebagaimana rasa bumpu dapur. Ada pedas, asin, pahang, manis, pahit, panas, dingin. Bahwa dalam hidup penuh dengan warna-warna dan rasa, susah senang sedih bahagia kaya miskin, namun kesemuanya ada dalam satu tempat yaitu di desa Nagrak. Pisang hijau dimaknai sebagai hasil bumi nagrak yang terus berbuah tanpa memandang musim. Telur ayam merupakan penanda bahwa hidup ini mempunyai asal dan akan kembali ke asal, menjadikan warga untuk tetap waspada. Semua sesaji yang disediakan juga merupakan sesaji yang diperuntukkan bagi leluhur. Makanan kesukaan leluhur pun disajikan. Hidangan puncak manik pun menjadi pusat harapan. Sangat romantis.

Agaknya Nagrak perlu mengembangkan diri untuk menjadi salah satu sentra kesenian dan kerajinan. Kesenian yang ada dalam khasanan perbendaharaan seni nagrak pun bermacam-macam, tari, jaipong, gambyung, wayang, terebang, gambyung sapingping dan lain-lain sepertinya perlahan akan mati ditelan jaman. Entah siapa yang akan membawanya ke pentas nasional atau ke pentas dunia. Mungkin kesenian tradisional semacam ini akan tergeser oleh hiruk-pikuk seni modern yang menjadi ikon globalisasi. Si lokal akan terhempas tersandung batu-batu besar efek rumah kaca.
Salah satu curhatan warga ketika ditanya: “Pak, apakah kesenian di sini bisa tampil di taman Sari Ater itu?”
Dijawab: “Wah….yang bisa tampil di situ mah pilihan. Seni tradisi mah tidak bisa tampil, kan orang kampong yang maen. Sedangkan yang nonton di sana orang kota semua.”
Seperti disambar petir mendengar celotehan macam itu. Hh…tapi apa yang bisa kami buat untuk seni tradisi? Hanya bisa mencurahkan kata hati.
Belum lagi kami mendengar curhatan salah seorang warga yang ikut makan nasi kuning di rumah Kepala Desa Nagrak saat itu.
“Desa kami ini pengrajin ukiran kayu. Lucu-lucu. Tapi dibeli oleh orang dari kota dalam jumlah besar dan barang-barang kami sampai ke luar negeri. Tapi orang itu membeli dari kami dengan harga yang renda.”
Saya menjawab, “itulah bisnis pak. Bagaimana dengan koperasi.”
Dijawab, “sudah mati.”
Entah bagaimana lagi Nagrak bisa berdiri di kaki sendiri? Apakah pemerintah daerahnya akan membantu menjadikan Nagrak dan desa-desa di sekitarnya menjadi pusat seni dan kerajinan? Entah….saya hanya bergumam…..”suatu hari nanti…mungkin suatu hari nanti.”

Perjalanan Road to holy land kali ini masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari seri RTHL seri pertama. Masih terus akan berjalan. Berjalan. Jalan saja…tidak perlu mencari…menghadirkan tradisi masyarakat di tatar Sunda dengan jujur.

PS: haduuuh...saha anu tiasa nulungan abdi ieu tulung diterjemahkeun ka bahasa sunda. kang mumu nuju riweuh deui, murangkalihna nuju teu damang...hiks

Salam,
Agni Malagina

Kamis, 27 November 2008

Seri road to holyland: Ruwatan Kampung Banceuy, saat tumbal terkubur.

Setelah beristirahat dari perjalanan Seren Taun Cigugur, saya melanjtukan lagi perjalanan menuju Kampung Banceuy, sebuah kampung yang memang tak pernah terbayang dalam ingatan saya. Perjalanan kali ini dimulai dari keisengan seorang kawan ntuk mengajak saya melihat sebuah kesenian gembyung, setelah itu say segera berangkat walaupun hanya dengan dana 20ribu rupiah. Tetapi dengan tambahan uang dari seorang teteh akhirnya saya bisa stay disana untuk 1 hari 1 malam.

Perjalanan menuju banceuy dimulai dengan bertem teman di kampus STSI Buah Batu Bandung kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menaikik angkot sampai daerah Lembang setelah itu disambung dengan sebuah angkutan jenis ELF menuju Subang, dan perjalanan menuju tempat ini memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Bandung. Setelah itu kami menaiki ojek dari ciater menuju banceuy, konon daerah ini masih memiliki pemandangan yang masih cantik untuk sekedar dicapture lewat kamera jenis SLR, sehingga kawan saya pun tak luput untuk melewatkan kesempatan ini.

Perjalanan kali ini mengantarkan saya untuk mengikuti acara Ruwatan bumi untuk menyambut Tahun baru Saka 1941 yang belum pernah terputus sejak 200 tahun yang lalu, disebuah kampung di tengah puncak gunung di daerah Subang, yaitu kampung Banceuy Desa Sanca Kabupaten Subang. Konon dari cerita masyarakat setempat kampung Banceuy didirikan sekitar tahun 1807 yang merupakan perpindahan dari kampung Negla yaitu 200 M arah timur dari kampung Banceuy setelah angin puting beliung menghantam kampung Negla yang dibuka oleh Eyang Ito atau Uyut Artawijaya. Nama Banceut diambil dari bahasa sunda “ngabanceuy’ yang artinya bermusyawarah menyelesaikan sebuah urusan. Sebagian besar penduduk Banceuy mempunyai pekerjaan sebagai petani padi dan palawija selain itu ada juga yang menjadi peternak sapi potong. Adapun tingkat pendidikan warganya rata-rata hanya sampai SMP tetapi ada juga pengajian untuk menambah wawasan pengetahuan keagamaan warga masyarakat Banceuy khususnya ibu-ibu.

Saat kami sampai di Banceuy, kami diterima di rumah bapak A. Ruhendi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Iin beserta kelarga dan sesepuh lainnya. Di rumah ini kami sedikit berbincang tentang searah kampung Banceuy, setelah itu kami bertemu dengan rombongan Disbudpar Kabupaten Subang kemudian berbincang kembali sampai pukul 20.00 malam. Setelah itu kami beranjak menuju tempat diadakannya Gembyung lantas ketika prosesi Gembyung selesai kami menginap dirumah Abah Karlan.

Banceuy menurut pengakuan pupuhunya yaitu Abah Karlan mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Cirebon karena ada kemungkinan Uyut Artawijaya atau yang dikenal dengan Eyang Ito merupakan keturunan dari Cirebon, sehingga jenis padi yang dipakai oleh warganya juga sam dengan Cirebon yaitu padi putih. Adapun permasalahan norma atau Pamali hampir sama dengan daerah-daerah adat Sunda yang lainnya, selain itu uniknya di daerah ini tidak ada sar itutur sepuh yang mengharuskan warganya membangun rumah dari bilik bambu sehingga warga masyarakatnya sekarang hampir sebagian besar menggunakan bangunan permanen yang dimulai dari tahun 1958.

Kampung Banceuy saat ini dipimpin oleh seorang sesepuh bernama Karlan Sastradijaya atau Ahrub yang lebih dikenal dengan Abah Karlan, beliau dibantu oleh A. Ruhendi dan Ukar untuk urusan ritual ngaruat dan kesenian lainnya. Kesenian yang terdapat di daerah banceuy antara lain pencak silat, Gembyung dan Dog-dog, tetapi kesenian yang paling terkenal adalah gembyung atau terebang.

Acara Ruwatan yang kali ini dilaksanakan merupakan salah satu rangkaian acara dalam menyambut Tahun baru 1941 Saka atau yang lebih dikenal dengan nama suraan. Pada acara ini yang menjadi sentral dari kegiatannya adalah acara ngaruwat atau ngagembyung dan numbal disamping acara yang lainnya seperti helaran, ziaah ke situs atau makam. Gembyung ini merupakan kesenian asli banceuy yaitu kesenian yang dgunakan untuk ruwatan atau selametan selain itu gemnbyung dimaknai juga sebagai ritual seni yang diujukan untuk menghormati leluhur, sehingga gembyung tidak hanya dilaksanakan pada acara inti seperti mapag taun atau suraan tapi juga pada acara nikahan, selametan rumah dsb. Gembyung pada prosesinya dimainkan oleh 3 pemain rebana, 1 pemain kendang dan 1 pemain kecrek serta 2 penari laki-laki dan 1 penari perempuan dengan diiringi oleh sembilan tembang diantaranya adalah Bismilais, Yau-yau, Benjang, Engkleq, Kepat Endang, Ayun Ambing, Kembang Gadang, Raja Sirna dan Yang Moleyyang.

Selain gembyung yang menjadi acara inti adalah numbal, prosesinya dilaksanakan pada pagi hari yaitu sekitar pukul 8 pagi. Pada prosesnya pertama dibuat lubang kemudian semua sesaji yang telah disiapkan dikubur setelah itu dialirkan darah ayam yang disembelih diatasnya kemudian dikubur dan diatasnya diletakan kepala, sayap, kaki, buntut serta bulu punggung ayam yang disembelih sebelumnya kemudian dikubur kembali lantas ditanami pohon hanjuang, naramsa, jawer kotok dan tebu setelah itu dilafalkan jampi-jampi lantas ditutup dengan menyiram pohon tersebut dengan aur beras merah.

Numbal dalam hal ini digunakan sebagai sebuah jalan untuk memberikan ketentraman pada warganya, karena menurut pengakuan warga sekitar seperti Cicih yan berusia sekitar 40 tahun menyatakan jika numbal tidak dilaksanakan maka akan terjadi bala yang akan menimpa warga banceuy seperti angin puting beliung dan wabah penyakit, dan hal ini dikuatkan oleh pernyataan dari Yati dan Tasrib yang merupakan warga asli banceuy. Dari pelaksanaan prosesi tersebut saya sadar bahwa kemauan orang untuk memegang tradisinya akan membawa mereka menuju hal yang dinamakan ketentraman.

Akan tetapi lebih dari prosesi tersebut hal lain yang menarik untuk saya pribadi adalah sosok pribadi orang tua bernama Abah Karlan yakni seseorang yang telah berusia 75 tahun dengan kewibawaan dan keceriannya selalu menarik perhatian saya. Abah Karlan merupakan kuncen atau pupuhu ketiga setelah Uyut Artawijaya atau Eyang Ito dan Padijaya, pengetahuan serta kemampuannya sampai saat ini belum ada yang menandingi, disamping itu canda guraunya yang sedikit menyita perhatian saya dengan menggunakan budaya lama sebagai acuan guraunya dan juga kerendah hatiannya yang membawa beliau menjadi manusia yang tidak sombong.

Dari pertemuan saya dengan beliau, saya melihat bagaimana sosok tua Abah Karlan masih tetap segar dan mampu membina warga masyarakat Banceuy untuk tetap melestarikan nilai budayanya dengan tetap melaksanakan acara ruwatan bumi pada waktu pergantian taun Saka. Abah Karlan yang merupakan keturunan langsung dari Eyang Ito yaitu orang yang membuka kampung banceuy ini sedikit memperlihatkan kebijaksanaannya dengan tidak pernah mau mengusik pandangan yang menyudutkan posisinya dan tetap berada dalam posisi yang cukup bijaksana dalam melihat perbedaan. Pandangan-pandangannya tentang kebudayaan dan agama sangat berbau kaum posmois yakni meletakan kebijaksanaan tanpa pernah menghujat inilah yang membuat saya sedikit tercengang, karena epistemologi pengetahuan akan tradisi Sunda telah mengantarkan beliau menjadi manusia yang bijak.

Karenanya, pada perjalanan singkat saya kali ini menyiratkan sebuah pertanyaan besar dalam benak saya, yakni apakah nilai-nilai tradisi yang diimani dan diamini dengan teguh lantas akan membawa manusia yang mengamininya menuju kesempurnaan pemahaman akan perbedaan ditengah semua gejolak perbedaan yang membuat pertikaian ?. Tentunya itu merupakan pertanyaan besar yang harus saya jawab dalam perjalanan-perjalanan lain menuju Hollyland.

Pada saat hendak melakukan perjalanan pulang menuju Bandung, saya sempat melihat arak-arakan para penari yang diiringi oleh musik khas sisingaan dan mereka menari sambil terlihat seolah mabuk dan menarik perhatian saya sebenatar karena musiknya seolah membawa para penari menuju puncak trans disamping tambahan minuman keras yang mereka minum yang membuat mereka seolah semakin gila karena ketidaksadaran mereka. Lantas ketika pulang, kami dianrakan oleh 2 orang pegawai Disbudpar Kabupaten Subang sampai kepertigaan Ciater, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandung dengan disertai obrolan-obrolan hangat tentang prosesi ritual yang baru kami alami di Banceuy.


Salam,
Mufti Ali S
muftiali.multiply.com

Seri road to holyland: Cirendeu yang tersembunyi

Setelah beberapa hari istirahat dari perjalanan Cigugur, perjalanan mencari pemahaman jati diri dalam seri Road to Holyland kali ini membawa kami ke acara Tutup Taun Ngemban Taun Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, tertanggal 10 Januari 2008.
Tak terbayangkan sebelumnya apa, bagaimana dan ada apa di daerah itu. Perjalanan dimulai dari kegelisahan saya untuk menengok sebuah upacara Tutup Taun di kampung adat yang terletak berdampingan dengan TPA (tempat pembuangan akhir) Leuwi Gajah nan legendaris karena longsornya pernah menimbun puluhan warga di sekitar TPA tersebut.

Perjalanan menuju Cireundeu dimulai saat ojeg yang membawa saya tersesat entah kemana. Berputar, menjauh, melewati lahan persawahan, panas terik matahari membakar kulit, dan pada intinya adalah NYASAR!! Namun nyasar di Cireundeu adalah salah satu pengalaman manis mencari nilai luhur dan keberagaman ke-Sunda-an.

Cireundeu, dimulai dari masyarakat Cirendeu mulai mengenal Pangeran Madrais (Cigugur) sejak tahun 1918. Abah Asep mengaku sampai sekarang falsafah hidup masyarakat Cireundeu belum banyak berubah sejak puluhan tahun lalu. Mereka masih memegang ajaran moral tentang bagaimana membawa diri dalam hidup ini. Yang paling menarik adalah bahan makanan pokok yang dimakan oleh warga kampung Cireundeu RW 10. Singkong dibuat menjadi nasi singkong. Sesepuh Cirendeu mengaku bahwa mereka sudah makan singkong sejak tahun 1924. Generasi tua Cirendeu pun mengiyakan bahwa mereka tidak mengenal rasa nasi. Saya memikirkan bagaimana rasanya makan singkong selamanya. Tapi mereka mengaku tidak ada masalah dengan memakan singkong. Saya bertanya mengapa warga Cirendeu makan singkong? Beberapa mereka bercerita bahwa pada tahun 1924-an, banyak warga yanng menanak nasi dari hasil sawah mereka. Dalam jangka waktu yang panjang, setiap mereka menanak nasi maka hasilnya tidak baik untuk dimakan, rasa tidak enak dan cepat basi. Kemudian mereka memutuskan untuk mengolah singkong sebagai makanan pokoknya. Meraka mengaku tidak tergantung pada beras, maka saat daerah lain mengalami musim paceklik, mereka tidak mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Mereka menyatakan syukur atas nikmat alam dari Tuhan dengan cara melaksanakan Upacara Tutup Tahun, Ngemban Tahun. Seperti yang saya datangi pada tanggal 10 Januari 2008, Tutup Tahun 1940 S, Ngemban Tahun 1 Sura 1941 Saka.

Upacara ini dilaksanakan pada tanggal 1 Muharam, atau yang sering disebut 1 Sura. Upacara ini pun kemudian dikenal dengan sebutan Suraan. Sehari sebelum perhelatan Suraan digelar, dikabarkan tidak ada intensitas kesibukan yang tinggi. Hanya persiapan-persiapan rutin tahunan yang sudah biasa digelar. Memasak, menyiapkan hidangan, menyiapkan sesajen, membuat gunungan dari buah-buahan, pertunjukkan kesenian dan doa dalam semangat kebersamaan dan gotong royong. Suraan kali ini dilaksanakan dengan semangat ’mugia rukun repeh rapih sareng sasama hirup’. Sebuah slogan yang sangat menyentuh hati. Kala keharmonisan ditegaskan. Apa makna dibalik semoga hidup rukun antar manusia? Sebuah perenungan yang membutuhkan daya kontemplasi tinggi. Bagaimanakah seharusnya kita hidup saling berdampingan dengan sesama manusia? Pertanyaan yang perlu kita pikirkan bersama. Sasama hirup....apakah hanya dengan manusia saja? Saya rasa tidak...rukun tidak dengan hanya dengan sesama manusia, tapi dengan sesama mahluk hidup lainnya. Hidup berdampingan dengan lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan langit. Bagaimana caranya? Salah seorang sesepuh mengatakan bahwa manusia di Cirendeu dan juga manusia lain harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup lain rasakan. Kuncinya tidak hanya simpati, tapi juga empati. Tapi dimana empati itu kini?
Hanya menjadi wacana rasa yang wararasa?
Dimanakah rasa cinta terhadap sesama manusia? Dimanakah rasa cinta manusia terhadap lingkungannya? Dimanakah rasa cinta manusia terhadap hutannya? Tiada rasa cinta, tiada kerukunan, maka tiada keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alamnya, manusia dengan Tuhan.

Sunda merupakan jati diri, tutur Abah Asep. Sederhana, tahu rasa, dan dekat dengan alam merupakan salah sekian tuntutan hidup sebagai orang sunda. Silih asih, silih asuh, dan silih deudeuhkeun harus menjadi semangat hidup warga Cirendeu. Sebuah masyarakat adat apabila sudah tidak memiliki ciri tradisinya makan akan hilang jati dirinya. Saat hilang jati diri, maka hilanglah sebuah bangsa.

Saya memikirkan beberapa kalimat terakhir. Indonesia dengan beragam masyarakat dengan tradisi masing-masing memiliki kearifan lokalnya sendiri-sendiri. Apabila kearifan lokal Sunda, Bali, Dayak, Suku Anak Dalam dan yang lainnya tidak dilestarikan, bagaimana bangsa Indonesia mengenal jatidirinya? Tanpa ada masyarakat-masyarakat adat tersebut, tentu tidak akan ada Indonesia? Banyak diantara masyarakat adat tersebut mengalami pergeseran budaya akibat seleksi alam dan jaman. Pengaruh globalisasi seakan menggempur dan nyaris menghancurkan nilai tradisi masyarakat adat. Namun yang mengerikan apabila terjadi sebuah keputusan dari kelompok elit yang berusaha menghilangkan masyarakat tradisi karena kepercayaan, tradisi, ritual yang dijalankan tidak sejalan dengan ideologi kelompok elit tersebut, sampai-sampai harus disebut ’aliran sesat’. Apa yang terjadi ketika masyarakat adat Baduy yang menjadi salah satu ikon budaya Jawa Barat disebut aliran sesat oleh MUI? Hal ini perlu direnungkan bersama. Dimanakah negosiasi antara adat dan religi? Entah mau dibawa kemana arah bangsa ini...

Sebelum saya meninggalkan Cirendeu, saya masih sempat menyaksikan anak-anak kecil berebut mengambil buah-buahan yang dihias pada gunungan setinggi 1 meteran. Beberapa diantaranya juga mengambil kue-kue sesaji. Hanya 2 nampan yang tidak mereka sentuh, satu nampan berisi cangkir-cangkir mini (berisi beras, tepung, kopi, gula) dan satu nampan berisi 2 piring bubur merah bubur putih. Kami bersyukur pada Tuhan atas berkah yang diberikan selama satu tahun ini, kami bersyukur bisa terus berkesenian, hidup rukun dengan warga dan alam di sini, ujar Kang Agus yang getol melatih anak-anak usia muda bermain kecapi.
Akhir perjalanan, saya menumpang kru Bandung TV yang dimotori Dadang Domba sang aktor dalam acara Pulang Kampung sambil menikmati lagu-lagu Bang Roma.....minus kacapi suling dan tarawangsa yang bertengger jumawa menguasai isi MP3 player saya. Mati.

Perjalanan selanjutnya, Seren Taun Giri jaya, Cidahu, Sukabumi

salam,
agni malagina