Ungkal Biang: Memoar Eksistensi Seni Tradisi
Agni Malagina
Sebuah prosesi unik bernama Ungkal Biang telah dilaksanakan di sebuah tempat yang dikelilingi 78 titik situs bersejarah berupa menhir, dolmen, punden berundak, batu tapak, batu dakon, batu kursi, sumber mata air suci, Sindangabarang Bogor. Sebuah tempat yang dihembusi titik air dari Gunung Salak itu, Minggu, 16 November 2008, ungkal biang (batu induk) berupa batu tugu ciri penanda berdirinya sebuah kampung adat ditegakkan.
Sejarah ungkal biang konon sudah ada sejak jaman kerajaan Pajajaran (923 – 1579). Pada saat Sri Baduga Maharaja (1482-1521) memimpin, ia menancapkan ungkal biang disamping prasasti Batu Tulis – Bogor sebagai penanda masa kepemimpinannya. Beberapa kampung adat sunda pun memiliki ungkal biang sebagai penanda keberadaan kampung tersebut, seperti kampung Tegal Umbu di Banten Selatan misalnya. Pupuhu (ketua adat) kampung budaya Sindangabarang – Ahmad Mikami Sumawijaya – pun menegaskan bahwa ungkal biang ini juga merupakan lambang persatuan lembur (desa) Sindangbarang.
Memilih batu tugu merupakan salah satu hal yang cukup sulit. Pupuhu yang akrab dipanggil Rama Maki pun dibantu oleh budayawan Sunda – Anis Djatisunda – dalam menentukan batu tugu. Ungkal biang pun diperoleh tak jauh dari titik Taman Sri Bagenda dan Sumur Jalatunda yang sudah diresmikan menjadi situs purbakala oleh dinas pariwisata kabupaten Bogor. “Ungkal biang diangkat dari pinggir sungai oleh 30 orang,”ujar Abah Encem, sesepuh adat Sindangbarang. Prosesi dimulai dengan acara menegakkan ungkal biang. Susah payah para kokolot mendirikan batu dengan menggunakan tuas dan tambang, tiada teknologi modern ikut serta dalam pengangkatan batu tersebut. Batu tugu pun segera berdiri dengan kokohnya sembari disirami air kembang 7 mata air yang dianggap keramat bagi warga Sindangbarang sebagai simbol penghilangan energi buruk yang ada dalam batu tersebut. Prosesi di sekitar ungkal biang ditutup dengan melontar ayam jago putih ke udara. Upacara pagi hari itu pun diakhiri dengan upacara murag tumpeng atau makan tumpeng bersama.
“Tadi pada saat prosesi ada elang melintas kan?” tanya Pupuhu. Saya spotan mengiyakan. ”Itu leluhur yang ikut menghadiri upacara,”sahut Rama Maki dan menambahkan bahwa upacara menegakkan batu tugu bukanlah bentuk penyembahan terhadap batu,”ungkal biang ini hanya memoar untuk anak-cucu, bahwa di sini berdiri kampung budaya Sindangbarang.”
Pada saat yang bersamaan, semua yang hadir dalam upacara yang hanya sekali dilaksanakan oleh sebuah kampung adat itu pun dihibur oleh pelbagai kesenian Sunda, hasil kreativitas dan kontemplasi para seniman Kampung Budaya Sindangbarang yang tergabung dalam Padepokan Giri Sunda Pura. Jaipong, reog, dan angklung gubrak (dipalajari dari seniman di daerah Cipining) pun menjadi andalan kesenian kampung budaya yang baru mengalami proses revitalisasi pada tahun 2007. Rampak pencak dan parebut seeng yang memiliki dasar seni beladiri Cimande juga turut dikembangkan menjadi seni pertunjukan. Di kampung yang juga memiliki ratusan pengrajin sepatu inilah, seni tradisi Sunda dikembangkan. Sebuah usaha untuk membentuk ketahanan budaya dengan proses modifikasi sebagai penyesuaian terhadap tuntutan masyarakat yang dekat dengan paradigma globalisasi. Komodifikasi seni tradisi pun menjadi salah satu alternatif untuk menggenjot gairah berkesenian. Sembari tetap berharap, seni tradisi tetap eksis bersama berdirinya sebuah replika kampung adat. Kreativitas atau revitalisasi berkesenian bukan untuk menghilangkan budaya tradisi, namun membuatnya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang dekat berbaur dengan kekinian.
Tampilkan postingan dengan label Sindangbarang Bogor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sindangbarang Bogor. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 November 2008
Batu Kuya: kisah tentang batu
Batu Kuya: sepenggal kisah tentang riwayat batu
agni malagina
Batu pun laku jual!
Itulah bukti kekayaan Indonesia. Bahkan sebongkah batu unik pun laku jual hingga menembus angka 9 digit. Kita bisa menengok kasus Batu Kuya di salah satu titik daerah Kabupaten Bogor, yaitu Kampung Cisusuh, Desa Cileksa Kecamatan Sukajaya. Tak jauh jaraknya dari tempat yang diduga sebagai pusat ritual keagamaan jaman kerajaan Sunda Pajajaran sekitar abad 15 – 16 M. Atau mungkin lebih tua lagi, Sindangbarang, kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Batu Kuya ramai dibicarakan pada bulan September, beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri 2008. Saat itu beritanya muncul di beberapa harian terkemuka ibu kota. Batu Kuya, batu besar unik berbentuk kura-kura sempat dibawa keluar sarangnya oleh sekelompok orang karena batu tersebut akan dijual ke Korea dengan nilai sangat tinggi. Tak tanggung-tanggung, angka 40 milyar akan menjadi bagian dari transaksi si Kuya. Sejak pemberitaan itu, Batu Kuya mendapat perhatian dari Pemda kabupaten Bogor yang diwakili oleh dinas pariwisatanya. Polemik pun terjadi. Sejumlah peneliti, arkeolog pun diminta untuk meneliti batu Kuya dari sudut pandang arkeologi. Tak lama, seorang arkeolog gaek dari FIB UI, Mang Hasan, memberikan pernyataan bahwa batu Kuya adalah batu alam biasa walaupun dia berada dalam wilayah bentangan situs-situs bersejarah. Pernyataan inipun sempat mengejutkan pihak dinas pariwisata. Namun apa daya, pakar sudah berbicara.
Mengapa batu alam si Kuya sampai ditaksir berharga milyaran?
Pastilah batu tersebut memiliki ‘sesuatu’, entah nilai arkeologi, nilai sejarah, nilai budaya, nilai spiritual, nilai estetika dan nilai-nilai lainnya. Menyitir beberapa pendapat warga setempat, batu Kuya merupakan perlambang dan memiliki nilai mistis bagi warga di sekitarnya. Bahkan ada yang memberi tafsiran bahwa diangkatnya batu Kuya dari daerah tersebut merupakan pertanda bahwa pemimpin bermental Kuya telah dihilangkan. Naaaah…ini yang perlu dikritisi. Mental Kuya? Seperti apakah mental Kuya? Mental yang buruk? Hal ini menggelitik hati saya. Perbincangan saya dengan bapak Agus Arismunandar mengenai batu Kuya memiliki tafsiran lain. Kuya atau kura-kura dalam kebudayaan peradaban masa lalu - masa Hindu, Cina, Bali dan beberapa tempat lainnya – merupakan simbol kemakmuran, kesejahteraan, panjang umur. Bagaimana dengan kuya dalam kebudayaan Sunda? Pak Agus menceritakan bahwa di daerah Cirebon selatan ada sebuah kolam berisi kura-kura, disebut Kolam Belawa. Anda penasaran dengan kolam ini? Silakan mampir ke FIB UI dan bercakap-cakap dengan Pak Agus Arismunandar. Beliau juga menyebutkan bahwa konsep kura-kura di Sunda ini berhubungan dengan masa Tarumanegara ketika Purnawarman memimpin. Purnawarman disebut-sebut sebagai titisan Dewa Wisnu, dewa yang kadang disimbolkan dengan kura-kura, perlambang kesejahteraan dan kesuburan.
Bentuk menyerupai kura-kura si Kuya ini kemungkinan adalah bentuk alami. Saat inilah, batu alami mempunya nilai unik bagi beberapa negara yang memiliki kebudayaan seni batu. Korea, salah satu negara yang memulai seni batu sejak 2.000 tahun yang lalu. Seni batu ini datang dari Cina sejak jaman Dinasti Tang (618 – 907 SM). Di Jepang terkenal dengan suiseki. Tradisi seni batu ini erat kaitannya dengan tradisi Konfusian dan Daois. Bentuk yang sering disuguhkah oleh seni batu ini adalah bentuk-bentuk batu alami yang unik, memiliki bentuk pemandangan gunung, bentuk abstrak, bentuk figure Budha, bentuk hewan-hewan mitologi, bentuk stalagnit dan stalagtit, bentuk yang dianggap magis dan bentuk menyerupai flora. Batu-batu alam ini sering diletakkan di taman sebagai unsur penting dalam landskap taman di Cina, Korea dan Jepang. Juga sebagai koleksi yang diletakkan di dalam ruang sebagai pelengkap interior. Karena batu alami dan seni batu merupakan bagian dari tradisi Konfusian dan Daois, tak heran, semakin magis dan alami bentuk batu tersebut, semakin mahal harganya. Karena batu tersebut tidak hanya berhubungan dengan gengsi si pemilik tapi juga berhubungan dengan ketulusan hubungan si pemilik dengan ‘Langit’, filsafat, dan leluhurnya.
Tak heran, batu Kuya dihargai sampai bermilyar rupiah. Betapa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya raya, bahkan batu pun laku jual! Saat seperti inilah…saya bengga menjadi warga Indonesia. Tapi tidak di saat saya melihat betapa ‘aneh’nya sistem dan politik negeri yang kaya-raya ini. Ketika batu Kuya menjadi bahan perdebatan di antara anggota dewan di Bogor, jelas tampak ada kalangan yang bersi keras batu tersebut dijual, namun ada yang tetap berusaha mempertahankan batu itu tetap ‘in situ’, tetap berada di tempat asalnya. Batu Kuya seakan hanya menjadi kambing hitam ajang kesempatan para pemimpin daerah untuk memperjuangkan pelbagai kepentingan golongannya. Sangat disayangkan.
Salam,
Agni Malagina
tulisan ini dibuat di Sindangbarang 9 Oktober 2009
terima kasih Pak Agus, Ama Maki atas cerita-ceritanya yang menarik
agni malagina
Batu pun laku jual!
Itulah bukti kekayaan Indonesia. Bahkan sebongkah batu unik pun laku jual hingga menembus angka 9 digit. Kita bisa menengok kasus Batu Kuya di salah satu titik daerah Kabupaten Bogor, yaitu Kampung Cisusuh, Desa Cileksa Kecamatan Sukajaya. Tak jauh jaraknya dari tempat yang diduga sebagai pusat ritual keagamaan jaman kerajaan Sunda Pajajaran sekitar abad 15 – 16 M. Atau mungkin lebih tua lagi, Sindangbarang, kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Batu Kuya ramai dibicarakan pada bulan September, beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri 2008. Saat itu beritanya muncul di beberapa harian terkemuka ibu kota. Batu Kuya, batu besar unik berbentuk kura-kura sempat dibawa keluar sarangnya oleh sekelompok orang karena batu tersebut akan dijual ke Korea dengan nilai sangat tinggi. Tak tanggung-tanggung, angka 40 milyar akan menjadi bagian dari transaksi si Kuya. Sejak pemberitaan itu, Batu Kuya mendapat perhatian dari Pemda kabupaten Bogor yang diwakili oleh dinas pariwisatanya. Polemik pun terjadi. Sejumlah peneliti, arkeolog pun diminta untuk meneliti batu Kuya dari sudut pandang arkeologi. Tak lama, seorang arkeolog gaek dari FIB UI, Mang Hasan, memberikan pernyataan bahwa batu Kuya adalah batu alam biasa walaupun dia berada dalam wilayah bentangan situs-situs bersejarah. Pernyataan inipun sempat mengejutkan pihak dinas pariwisata. Namun apa daya, pakar sudah berbicara.
Mengapa batu alam si Kuya sampai ditaksir berharga milyaran?
Pastilah batu tersebut memiliki ‘sesuatu’, entah nilai arkeologi, nilai sejarah, nilai budaya, nilai spiritual, nilai estetika dan nilai-nilai lainnya. Menyitir beberapa pendapat warga setempat, batu Kuya merupakan perlambang dan memiliki nilai mistis bagi warga di sekitarnya. Bahkan ada yang memberi tafsiran bahwa diangkatnya batu Kuya dari daerah tersebut merupakan pertanda bahwa pemimpin bermental Kuya telah dihilangkan. Naaaah…ini yang perlu dikritisi. Mental Kuya? Seperti apakah mental Kuya? Mental yang buruk? Hal ini menggelitik hati saya. Perbincangan saya dengan bapak Agus Arismunandar mengenai batu Kuya memiliki tafsiran lain. Kuya atau kura-kura dalam kebudayaan peradaban masa lalu - masa Hindu, Cina, Bali dan beberapa tempat lainnya – merupakan simbol kemakmuran, kesejahteraan, panjang umur. Bagaimana dengan kuya dalam kebudayaan Sunda? Pak Agus menceritakan bahwa di daerah Cirebon selatan ada sebuah kolam berisi kura-kura, disebut Kolam Belawa. Anda penasaran dengan kolam ini? Silakan mampir ke FIB UI dan bercakap-cakap dengan Pak Agus Arismunandar. Beliau juga menyebutkan bahwa konsep kura-kura di Sunda ini berhubungan dengan masa Tarumanegara ketika Purnawarman memimpin. Purnawarman disebut-sebut sebagai titisan Dewa Wisnu, dewa yang kadang disimbolkan dengan kura-kura, perlambang kesejahteraan dan kesuburan.
Bentuk menyerupai kura-kura si Kuya ini kemungkinan adalah bentuk alami. Saat inilah, batu alami mempunya nilai unik bagi beberapa negara yang memiliki kebudayaan seni batu. Korea, salah satu negara yang memulai seni batu sejak 2.000 tahun yang lalu. Seni batu ini datang dari Cina sejak jaman Dinasti Tang (618 – 907 SM). Di Jepang terkenal dengan suiseki. Tradisi seni batu ini erat kaitannya dengan tradisi Konfusian dan Daois. Bentuk yang sering disuguhkah oleh seni batu ini adalah bentuk-bentuk batu alami yang unik, memiliki bentuk pemandangan gunung, bentuk abstrak, bentuk figure Budha, bentuk hewan-hewan mitologi, bentuk stalagnit dan stalagtit, bentuk yang dianggap magis dan bentuk menyerupai flora. Batu-batu alam ini sering diletakkan di taman sebagai unsur penting dalam landskap taman di Cina, Korea dan Jepang. Juga sebagai koleksi yang diletakkan di dalam ruang sebagai pelengkap interior. Karena batu alami dan seni batu merupakan bagian dari tradisi Konfusian dan Daois, tak heran, semakin magis dan alami bentuk batu tersebut, semakin mahal harganya. Karena batu tersebut tidak hanya berhubungan dengan gengsi si pemilik tapi juga berhubungan dengan ketulusan hubungan si pemilik dengan ‘Langit’, filsafat, dan leluhurnya.
Tak heran, batu Kuya dihargai sampai bermilyar rupiah. Betapa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya raya, bahkan batu pun laku jual! Saat seperti inilah…saya bengga menjadi warga Indonesia. Tapi tidak di saat saya melihat betapa ‘aneh’nya sistem dan politik negeri yang kaya-raya ini. Ketika batu Kuya menjadi bahan perdebatan di antara anggota dewan di Bogor, jelas tampak ada kalangan yang bersi keras batu tersebut dijual, namun ada yang tetap berusaha mempertahankan batu itu tetap ‘in situ’, tetap berada di tempat asalnya. Batu Kuya seakan hanya menjadi kambing hitam ajang kesempatan para pemimpin daerah untuk memperjuangkan pelbagai kepentingan golongannya. Sangat disayangkan.
Salam,
Agni Malagina
tulisan ini dibuat di Sindangbarang 9 Oktober 2009
terima kasih Pak Agus, Ama Maki atas cerita-ceritanya yang menarik
Kamis, 27 November 2008
Seri road to holyland: Sindangbarang - saat seni dipasung
Tanggal 8 Desember 2007 lalu, kami, Simpay (paguyuban guar Sunda) FIB UI mengajak beberapa orang siswa SD Pasir Eurih menanam pohon di Kampung Budaya Sindangbarang (KBS). Kegiatan kami dimulai dengan sedikit kesalahan teknis yang berhubungan dengan jam waktu Depok dan jam waktu Sindangbarang, sehingga menyebabkan kami baru berangkat dari stasiun UI pukul 07.15. Beruntung, pupuhu Sindangbarang (Ama Maki) menerima kesepakatan sepihak dari kami bahwa pukul 07.00 ekuivalen dengan pukul 05.30.
Tepat pukul 09.00, kami tiba di KBS. Siswa-siswa dan pramuka sudah berkumpul di Bale Pangriungan. Kami tersenyum sambil colek-colek, " eh anak kecilnya banyak amat ya? Cemilan kurang niyy"
105 anak datang menanam pohon, kami terharu. Acara pagi itu dimulai dengan pembukaan santai dari Ama maki dan rombongan Simpay. Suara anak-anak menggelegar membalasa salam sampurasun: "rampeeees"
Selesai sambutan diselingi canda tawa, anak-anak dikondisikan di lapangan untuk persiapan menanam 26 jenis pohon buah dan pelindung yang berjumlah 56 pohon. Salah satunya adalah falmboyan (tanaman yang kami sediakan karena terobsesi dengan lagu gubahan Iwan Abdulrahman!)
Siswa SD kemudian berkumpul duduk di atas rumput untuk mendengarkan dongeng lingkungan yang dibawakan oleh Kakak Aio. Sementara Pramuka membantu persiapan penanaman pohon. Sesuai jadwal, pukul 10.30, diawali dengan doa bersama yang dipimpin Abah Encem, tanaman-tanaman pun digotong oleh 2-3 anak menuju 56 titik tanam yang tersebar di seluruh KBS. Mereka menanam pohon, menyiram dan memberi nama pada pohon itu. Di akhir acara, anak-anak mendapat ¡¥sertifikat pohon¡¦. Ama Maki berpesan, anak-anak boleh datang kapan saja utnk menengok pohon yang mereka tanam. Kelak jika pohon itu sudah besar dan berbuah, mereka pun boleh mengambil hasilnya. Saat itu, kami melihat anak-anak itu tertawa girang. Celetuk-celetukan mereka membuat suasana menjelang tangkap ikan semakin ramai. Siang hampir tengah hari, anak-anak digiring menuju balong ikan untuk menangkap ikan mas. Satu-satu perwakilan kelompok anak-anak berlomba menangkap ikan yang berkelit di antara lumpur dan rumput-rumput dalam kolam, alhasil anak-anak pun berlarian dan sering mereka terguling, pakaian mereka kotor ternoda lumpur lembur. Saat ikan berada dalam genggaman, mereka tertawa senang. Selesai menangkap ikan, mereka mandi, dan kami pun membakar ikan untuk makan bersama. Saat mereka pulang, gerimis turun, sepertinya ingin megurai panas, melepas dahaga sang pohon yang baru ditanam.
Satu minggu berselang, beberapa dari kami (rombongan sirkus yang sering datang ke KBS) datang untuk berlibur, tujuan kami adalah untuk melepas kepenatan dan menjenguk pohon- pohon. Sekali lagi¡Kterjadi kesalahan teknis¡Kyang menyebabkan kami baru tiba di KBS tepat pukul 12.00 siang hari bolong.
Sesampainya di KBS kami melihat Imah Gede ramai, dan selidik punya selidik, ternyata Ama Maki sedang wawancara siaran langsung dengan sebuah stasiun radio ternama di Bogor. Kami mendapat informasi bahwa saat itu Ama sedang diwawancara mengenai dihilangkannya dana anggaran untuk Seren Taun Sindangabarang dari anggaran daerah, malah para dewan menganggarkan 15 M untuk sepak bola. Saya sedikit terkejut dengan adanya berita itu. Walaupun saya tau bahwa pemerintah dapat bertindak apapun dan kapanpun mereka mau, tapi saya sedikit terhenyak ketika mengetahui bahwa dana utnuk mengembangan seni dan budata justru dihapuskan!
Okeee laaaah¡K.bola itu penting, tapi jika menelan biaya sampai 15 M???? Apa yang terjadi? Padahal bola juga ga pernah jadi jawara internasional? Apakah terobsesi ingin menyamai klub-klub bola terkenal di dunia? Bola siiy okelaaah...tapi kalo menelan dana sampai 15 M? Sedangkan tidak ada sepeserpun untuk seni dan budaya? Bagaimana ini? Apakah pemerintah daerah tidak mau mengembangan proyek seni dan budaya yang notabene katanya tidak komersil, tidak menguntungkan¡Kbahkan hanya menjadi parasit?!!
Pendapat macam apa yang dikeluarkan oleh anggota pemerintahan? Anggota dewan yang mengatakan seni tidak penting? Apa siiy yang ada dalam benak mereka? Mengapa mereka tidak ada hubungan emosi dengan seni dan budaya? Apakah akhirnya bola lebih penting dari seni dan budaya?
Banyak pertanyaan yang akan saya tulis dalam curhatan ini¡Ktermasuk apakah bola sebegitu pentingnya dalam hajat hidup orang bayak? Apakah dana 15 M yang dialokasikan untuk bola dapat meningkatkan taraf hidup orang banyak di daerah? Dana 15 M ini pastilah digunakan untuk operasional bola dan perbolaan. Termasuk membayar pemain asing yang tentunya honornya lebih tinggi dari pemain local. Atau membayar pelatih-pelatih? Atau mendanai perjalanan-perjalan ke luar kota ? Atau mungkin membayar dana jalur birokrasi? Aaah Non Sense
Mengapa pemerintah daerah bisa memberi dana 15 M untuk bola tapi tidak bisa mengalokasikan dana untuk seni?
Entah berapa banyak daerah di Jawa Barat, dan daerah di seluruh Indonesia yang mengalami hal serupa dengan Kampung Singdangbarang Bogor.
Saya sedikit sedih mendengar berita itu. Dana-dana untuk kampung adat lain di seluruh Jawa Barat mungkin juga tidak ada. Pada saat kearifan lokal sedang menjadi daya kekuatan Indonesia , justru tidak ada dukungan keuangan dari pemerintah daerah. tak heran, banyak kesenian lokal yang terancam punah¡Kdan bahkan sudah mati. Sedih sekali saya membayangkan generasi yang akan datang tidak akan lagi mengenal seni pantun Sunda, seni ronggeng gunung dan lain-lain. Mungkin mereka hanya akan mengenal seni-seni itu di museum¡Kpun kalau museum itu ada. Coba tengok warga negara asing yang datang ke Indonesia untuk belajar seni lokal, meneliti, dan menuliskannya dengan dana pribadi maupun dukungan pemerintahnya. Mengapa justru orang asing yang peduli dengan seni lokal Indonesia ? Mengapa bukan kita sendiri? Kalau pun ada orang Indonesia yang berjuang mati-matian untuk seni dan budaya Indonesia , perhatian pemerintah hanya seadanya. Apakah akan terjadi lagi kasus-kasus pencurian hak cipta kekayaan intelektual Indonesia oleh pihak di luar negeri? Bukankah ini adalah sebuah keprihatinan yang patut kita selipkan sedikit dalam khasanah pemikiran kita?
Pertanyaan itu memenuhi benak saya..dan tak mungkin terjawab lagi, sama seperti pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam seri tulisan Road to Holyland (amalagina.multiply.com).
Sore itu¡K..16 Desember 2007, sedih, kecewa menjadi bagian jiwa saya, sampai saat menjelang kepulangan kami ke Depok. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh kedatangan sekelompok anak kecil, yang berbisik-bisik:
"Itu kak Agi yaa?" dan saya mendatangi mereka berkata, "kenapa ya?"
"kak, kami boleh mupuk pohon ga?"
Saya terhenyak..lemas sesaat,kekecewaan saya sontak hilang
Dan mereka memperlihatkan pupuk urea atau KCl yang mereka bawa dari rumah.
"Masih ingat pohonnya ditanaman dimana? Kamu tanam pohon apa?"
Mereka berebut menjawab,"di sana , di sana . Aku tanam mangga."
"Aku tanam rambutan."
"Aku tanam buni."
Aku berkata, "carilah pohon kalian, siram yaa."
Tanpa menjawab, mereka berhamburan
Saat itu saya, kawan-kawan, pupuhu hanya bisa tersenyum dan kami berteriak, "pupuk dan siraaam yaa!"
Samar-samar dari kejauhan aku mendengar teriakan melengking, "iyaaaaaaaaaaaa."
Terima kasih untuk kawan-kawan seperjuangan: Lola, Mufti, Kenny, Aryo, kak Ocid, Risna. Kita ngariung lagi di Seren Taun Sindangbarang 23-27 Januari 2008!
Hatur Nuhun untuk sesepuh Simpay: Pak Agus Aris Munandar, kang Mumu spk
Salam,
Agni
Tepat pukul 09.00, kami tiba di KBS. Siswa-siswa dan pramuka sudah berkumpul di Bale Pangriungan. Kami tersenyum sambil colek-colek, " eh anak kecilnya banyak amat ya? Cemilan kurang niyy"
105 anak datang menanam pohon, kami terharu. Acara pagi itu dimulai dengan pembukaan santai dari Ama maki dan rombongan Simpay. Suara anak-anak menggelegar membalasa salam sampurasun: "rampeeees"
Selesai sambutan diselingi canda tawa, anak-anak dikondisikan di lapangan untuk persiapan menanam 26 jenis pohon buah dan pelindung yang berjumlah 56 pohon. Salah satunya adalah falmboyan (tanaman yang kami sediakan karena terobsesi dengan lagu gubahan Iwan Abdulrahman!)
Siswa SD kemudian berkumpul duduk di atas rumput untuk mendengarkan dongeng lingkungan yang dibawakan oleh Kakak Aio. Sementara Pramuka membantu persiapan penanaman pohon. Sesuai jadwal, pukul 10.30, diawali dengan doa bersama yang dipimpin Abah Encem, tanaman-tanaman pun digotong oleh 2-3 anak menuju 56 titik tanam yang tersebar di seluruh KBS. Mereka menanam pohon, menyiram dan memberi nama pada pohon itu. Di akhir acara, anak-anak mendapat ¡¥sertifikat pohon¡¦. Ama Maki berpesan, anak-anak boleh datang kapan saja utnk menengok pohon yang mereka tanam. Kelak jika pohon itu sudah besar dan berbuah, mereka pun boleh mengambil hasilnya. Saat itu, kami melihat anak-anak itu tertawa girang. Celetuk-celetukan mereka membuat suasana menjelang tangkap ikan semakin ramai. Siang hampir tengah hari, anak-anak digiring menuju balong ikan untuk menangkap ikan mas. Satu-satu perwakilan kelompok anak-anak berlomba menangkap ikan yang berkelit di antara lumpur dan rumput-rumput dalam kolam, alhasil anak-anak pun berlarian dan sering mereka terguling, pakaian mereka kotor ternoda lumpur lembur. Saat ikan berada dalam genggaman, mereka tertawa senang. Selesai menangkap ikan, mereka mandi, dan kami pun membakar ikan untuk makan bersama. Saat mereka pulang, gerimis turun, sepertinya ingin megurai panas, melepas dahaga sang pohon yang baru ditanam.
Satu minggu berselang, beberapa dari kami (rombongan sirkus yang sering datang ke KBS) datang untuk berlibur, tujuan kami adalah untuk melepas kepenatan dan menjenguk pohon- pohon. Sekali lagi¡Kterjadi kesalahan teknis¡Kyang menyebabkan kami baru tiba di KBS tepat pukul 12.00 siang hari bolong.
Sesampainya di KBS kami melihat Imah Gede ramai, dan selidik punya selidik, ternyata Ama Maki sedang wawancara siaran langsung dengan sebuah stasiun radio ternama di Bogor. Kami mendapat informasi bahwa saat itu Ama sedang diwawancara mengenai dihilangkannya dana anggaran untuk Seren Taun Sindangabarang dari anggaran daerah, malah para dewan menganggarkan 15 M untuk sepak bola. Saya sedikit terkejut dengan adanya berita itu. Walaupun saya tau bahwa pemerintah dapat bertindak apapun dan kapanpun mereka mau, tapi saya sedikit terhenyak ketika mengetahui bahwa dana utnuk mengembangan seni dan budata justru dihapuskan!
Okeee laaaah¡K.bola itu penting, tapi jika menelan biaya sampai 15 M???? Apa yang terjadi? Padahal bola juga ga pernah jadi jawara internasional? Apakah terobsesi ingin menyamai klub-klub bola terkenal di dunia? Bola siiy okelaaah...tapi kalo menelan dana sampai 15 M? Sedangkan tidak ada sepeserpun untuk seni dan budaya? Bagaimana ini? Apakah pemerintah daerah tidak mau mengembangan proyek seni dan budaya yang notabene katanya tidak komersil, tidak menguntungkan¡Kbahkan hanya menjadi parasit?!!
Pendapat macam apa yang dikeluarkan oleh anggota pemerintahan? Anggota dewan yang mengatakan seni tidak penting? Apa siiy yang ada dalam benak mereka? Mengapa mereka tidak ada hubungan emosi dengan seni dan budaya? Apakah akhirnya bola lebih penting dari seni dan budaya?
Banyak pertanyaan yang akan saya tulis dalam curhatan ini¡Ktermasuk apakah bola sebegitu pentingnya dalam hajat hidup orang bayak? Apakah dana 15 M yang dialokasikan untuk bola dapat meningkatkan taraf hidup orang banyak di daerah? Dana 15 M ini pastilah digunakan untuk operasional bola dan perbolaan. Termasuk membayar pemain asing yang tentunya honornya lebih tinggi dari pemain local. Atau membayar pelatih-pelatih? Atau mendanai perjalanan-perjalan ke luar kota ? Atau mungkin membayar dana jalur birokrasi? Aaah Non Sense
Mengapa pemerintah daerah bisa memberi dana 15 M untuk bola tapi tidak bisa mengalokasikan dana untuk seni?
Entah berapa banyak daerah di Jawa Barat, dan daerah di seluruh Indonesia yang mengalami hal serupa dengan Kampung Singdangbarang Bogor.
Saya sedikit sedih mendengar berita itu. Dana-dana untuk kampung adat lain di seluruh Jawa Barat mungkin juga tidak ada. Pada saat kearifan lokal sedang menjadi daya kekuatan Indonesia , justru tidak ada dukungan keuangan dari pemerintah daerah. tak heran, banyak kesenian lokal yang terancam punah¡Kdan bahkan sudah mati. Sedih sekali saya membayangkan generasi yang akan datang tidak akan lagi mengenal seni pantun Sunda, seni ronggeng gunung dan lain-lain. Mungkin mereka hanya akan mengenal seni-seni itu di museum¡Kpun kalau museum itu ada. Coba tengok warga negara asing yang datang ke Indonesia untuk belajar seni lokal, meneliti, dan menuliskannya dengan dana pribadi maupun dukungan pemerintahnya. Mengapa justru orang asing yang peduli dengan seni lokal Indonesia ? Mengapa bukan kita sendiri? Kalau pun ada orang Indonesia yang berjuang mati-matian untuk seni dan budaya Indonesia , perhatian pemerintah hanya seadanya. Apakah akan terjadi lagi kasus-kasus pencurian hak cipta kekayaan intelektual Indonesia oleh pihak di luar negeri? Bukankah ini adalah sebuah keprihatinan yang patut kita selipkan sedikit dalam khasanah pemikiran kita?
Pertanyaan itu memenuhi benak saya..dan tak mungkin terjawab lagi, sama seperti pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam seri tulisan Road to Holyland (amalagina.multiply.com).
Sore itu¡K..16 Desember 2007, sedih, kecewa menjadi bagian jiwa saya, sampai saat menjelang kepulangan kami ke Depok. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh kedatangan sekelompok anak kecil, yang berbisik-bisik:
"Itu kak Agi yaa?" dan saya mendatangi mereka berkata, "kenapa ya?"
"kak, kami boleh mupuk pohon ga?"
Saya terhenyak..lemas sesaat,kekecewaan saya sontak hilang
Dan mereka memperlihatkan pupuk urea atau KCl yang mereka bawa dari rumah.
"Masih ingat pohonnya ditanaman dimana? Kamu tanam pohon apa?"
Mereka berebut menjawab,"di sana , di sana . Aku tanam mangga."
"Aku tanam rambutan."
"Aku tanam buni."
Aku berkata, "carilah pohon kalian, siram yaa."
Tanpa menjawab, mereka berhamburan
Saat itu saya, kawan-kawan, pupuhu hanya bisa tersenyum dan kami berteriak, "pupuk dan siraaam yaa!"
Samar-samar dari kejauhan aku mendengar teriakan melengking, "iyaaaaaaaaaaaa."
Terima kasih untuk kawan-kawan seperjuangan: Lola, Mufti, Kenny, Aryo, kak Ocid, Risna. Kita ngariung lagi di Seren Taun Sindangbarang 23-27 Januari 2008!
Hatur Nuhun untuk sesepuh Simpay: Pak Agus Aris Munandar, kang Mumu spk
Salam,
Agni
Seri Road to holyland: Sindangbarang - bersemi bersihati
Agni Malagina
Punten, ieu rangkuman kagiatan di Lembur Adat Sindangbarang, Dukuh Kemang, Bogor.
Nuhun ka Kang Mumu anu tos nerjemahkeun ti bahasa Indonesia ka bahasa Sunda
Hatur nuhun sakali deui untuk Ama Maki nu tos ngijinkeun tim ti FIB UI (kuring spk) hadir di Sidangbarang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Bogor ngayakeun arasehan Budayawan Daerah dina Raraga Mieling Kota Bogor ka-525? Ieu acara teh diayakeun di Kampung Budaya Sindangbarang, Pasir Eurih, Taman Sari, Bogor , dina poe Rebo, 13 Juni 2007, tabuh 08.00 wib.
Nu jadi narasumber dina ieu diskusi teh nya eta: Mayjen. Sudradjat Nataatmadja (Bupati Bogor manten), Eman Sulaeman (Budayawan Bogor ), Dr. Agus Aris Munandar (Arkeolog Fakultas Ilmu Budaya UI), Munawar Holil, M.Hum. (Filolog Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI), jeung Anis Djatisunda (Budayawan Bogor).
Acara dibuka ku pangbagea Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bogor, nu diwakilan ku Bapak Drs. Hadiyanto. Rengse Pa Hadiyanto biantara, Pa Sudradjat giliran MusPida (Musti Pidato). Numutkeun anjeunna, para pamingpin teh diperedih pikeun ngamakmurkeun jeung ngawaluyakeun nagara jeung rahayatna saperti nu dicontokeun ku Prabu Siliwangi nu marentah kalawan wijaksana, bisa nata Pajajaran nepi ka jadi nagara nu makmur, gemah ripah loh jinawi. Pa Ajat oge netelakeun yen Bogor teh pakuna Indonesia . Sagala kagiatan di Indonesia teh pasti dimimitian ku ayana kagiatan di kota Bogor . Numutkeun Pa Ajat, pikeun ngamajukeun Sunda teh perlu diteangan pamingpin nu bisa manggihan angka hiji. Hartina, pamingpin nu bisa ngabaladah; ngamimitian hiji pagawean. Gerakan budaya jeung sastra Sunda perlu diayakeun deui, ngan perlu ayana emahaman?yen gerakan budaya jeung sastra teh lain hiji gerakan pulitik....
Catetan singget Sarasehan Budaya Sunda
Eman Sulaeman:
Bogor diadegkeun tahun 1482, nya eta waktu Prabu Siliwangi mangku kakawasaan di Karajaan Pajajaran. Dina kateranganana, Pa Eman ngajentrekeun asal-muasal kecap Bogor jeung makna pilosopisna. Dicaritakeun oge, dina pamarentahan Prabu Siliwangi kota Bogor teh jadi pusat pikeun nyiar pangaweruh dina widang elmu kawijaksanaan, etika, jeung palsapah.
Pa Eman oge nyaritakeun yen Anjeunna keur nalungtik toponimi di daerah Bogor . Ayeuna teh geus kakumpulkeun 75 toponomi ngaran-ngaran tempat di Bogor , tina target 150 ngaran daerah.
Dr. Agus Aris Munandar
Situs Sindangbarang munggaran didongdon taun 2006 ku rekomendasina Pa Inochi jeung Kang Hendra. Numutkeun Pa Agus, situs-situs di Sindangbarang teh lolos tina panalungtikan urang Walanda nu biasana taliti pisan. Hal ieu numuwuhkeun sababaraha tafsiran. Dumasar kana pangalaman di daerah sejen, biasana mah urang Walanda teh datang ka hiji situs lamun aya laporan ti nu mukim di daerah situs. Lian ti eta, dina ngalaksanakeun ekspedisi militerna teh Walanda biasana sok ngirimkeun para ahli pikeun ngadatangan hiji tempat. Aya kamungkinan, ceuk katerangan salah saurang sesepuh di Bogor , urang Walanda oge geus ngadatangan eta tempat tapi sesepuh di dinya nyumputkeun?(teu mere katerangan).
Titinggal karuhun di daerah Sindangbarang teh euyeb pisan, di antarana wae, nya eta batu tapak, dolmen, menhir, punden berundak, batu pelor, jeung batu dakon. Awalna eta artefak-artefak teh ditaksir titinggal karuhun ti jaman prasejarah, tapi sanggeus ditalungtik deui ari pek teh lain ti jaman prasejarah tapi ti jaman karajaan Sunda kira-kira abad 13-15.
Di ieu daerah teh ngalir sababara walungan nu jadi ciri yen ieu daerah mibanda peran nu penting dina tradisi eradaban?baheula jeung deui toponimi kampung sabeudeureunana mageuhan eta asumsi. Sok sanajan kitu, ieu teh masih mangrupa hipotesis ku sabab aya keneh sababaraha ganjelan din proses interpretasi kana ieu tempat nu nyangkut data barang jeung data tulisan. Dina katerangan saterusna Pa Agus ngusulkeun lengkah-lengkah nu sakuduna dilakukeun: ti kawit ngainventarisasi nepi ka ngajadikeun daerah Sindangbarang jadi daerah tujuan wisata saluyu jeung geus ngadegna kampung budaya Sindangbarang di Dukuh Kemang.
Munawar Holil, M.Hum.
Kang Mumu ngaran akrabna mah. Wanoh ka Sindangbarang teh waktu aya acara seren taun nu bewarana meunang tina internet. Numutkeun anjeunna, Sindangbarang teh ngan dipikiwanoh tina situs arkeologi wungkul, sedengkeun sumber lisan jeung tulis can aya nu ngagarap. Sumber lisan nu dimaksud ku anjeunna teh kaasup folklor lisan nu ngawengku: Basa Rahayat nu mangrupa eunteung tina tradisi basa nu digunakeun ku hiji masarakat ti mangsa ka mangsa, nu bisa jadi ngalaman parobahan ku ayana barobahna jaman; ungkapan tradisional saperti babasan, paribasa, jste.; pertanyaan tradisional saperti teka-teki; puisi rahayat kayaning pantun, sisindiran, jste; carita prosa rahayat kayaning dongeng, legenda, mite; jeung nyanyian rahayat. Tah, eta sumber lisan teh salah sahiji tatapakan nu kudu digunakeun pikeun ngalengkepan dina ngamutalaah kabudayan hiji daerah, pangpangna ajarah?hiji tempat.
Di sagedengeun eta, aya oge sumber tulis nu mangrupa naskah (tulisan nu paling henteu umurnya leuwih ti 50 taun). Naskah Sunda nu geus kapaluruh ku Prof Edi S. Ekadjati dina katalog Katalog Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan (1988) jumlahnya aya 1831. Naskah nu disimpen di lembaga-lembaga kayaning perpustakaan jeung museum, panglobana di Perpustakaan Universitas Leiden , Belanda nya eta 785, nu kadua panglobana di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta , 400-an (can kaasup naskah nu bahanna lontar). Naskah nu aya keneh di koleksi-koleksi pribadi jumlahnya 554. Kang Mumu teu percaya yen eta jumlah naskah teh ngan sakitu. Pasti seueur keneh nu bacacar di masarakat, kaasup Bogor . Komo deui Bogor teh baheula pernah jadi puseur Karajaan Pajajaran (Sunda). Buktina, anjeunna nunjukkeun hiji naskah milik urang Sindangbarang nu ditambutkeun ku urang dinya samemeh acara diskusi.
Dua sumber nu disebut teh ngahasilkeun prospek panalungtikan ka hareupna nu kudu digarap kalawan soson-soson. Garapan nu bisa dilakukeun teh dimimitian ku ngainventarisasi sumber-sumber, ngadokumentasikeun, nyebarluaskeun (publikasi), jeung panalungtikeun nu leuwih gemet tina sagala widang elmu. Dipiharep ku ayana panalungtikan kawas kitu teh urang Sunda bisa ngajaga tradisina pikeun galieun ka hareupna.
Anis Djatisunda
Ngaran daerah Sindangbarang teh kurang pas keur nyebut tempat ngadegna kampung adat Sunda ku saba wawangunan kampung adat teh ngadeg di daerah Cimenteng. Ku sabab kitu pikeun Pa Anis mah leuwih hade kampung adat teh disebut Lembur Budaya Mandala Parakan Jati. Nu jadi tatapakan ngadegkeun kampung adat teh ku sabab upacara seren taun teu miboga sarana jeung fasilitas pikeun ngawadahanana.
Dina naskah Sanghiyang Siksa Kandang Karesian dicarikeun masalah etika tatalimarga, konsep pamarentahan. Di kampung budaya kudu aya rama nu jadi sentral dina ngadegkeun kampung, aya resi nu ngurus kesejahteraan jeung aya sang prebu nu ngurus masalah pamarentahan.
Pa Anis oge ngabahas masalah makna filosofis wangunan-wangunan lembur budaya, nu ceuk anjeunna, aya kaitanana jeung konsepsi bulan, bentang, panonpoe atawa wilayah luhur, tengah, jeung handap atawa alam asal, alam kahirupan, jeung alam kematian. Lian ti eta, di hareupeun imah gede aya tangkal pakujajar nu mangrupa pepelakan asli Bogor jeung dihias oge ku kolecer jeung calintuh nu maksudnya supaya pare bisa buru-buru dipanen.
Catetan pamungkas notulensi ti si kuring:
Aya sababaraha hal penting nu bisa dilakukeun ku pihak mana wae pikeun ngadongsok lumangsungna hirup-huripna Sindangbarang. Sababaraha hal eta teh mangrupa hasil diskusi ti para narasumber jeung hasil olahan tim notulensi (barudak ngora kosmopolitan nu keur neangan jati dirina):
Inventarisasi sui generis (genetic resource/sumber genetik, expression of folklore/ekspresi folklore, traditional knowledge/pengetahuan tradisional) Sindangbarang jeung sabudeureunana.
Panalungtikeun nu leuwih jero (penelitian lebih lanjut)
Publikasi
Promosi
Mere ngaran kampung adapt nu keur diwangun, upamana ku ngaran nu diusulkeun ku Pa Anis, nya eta Kampung Budaya Mandala Parakan Jati
Revitalisasi fisik jeung budaya kampung budaya
Ngeusian kampung budaya Sindangbarang ku mekarkeun seni (musik, tari, tembang, sendratari, jeung nyaritakeun tradisi atawa tokoh kawentar di Sindangbarang, ngagondang, karajinan, pemberdayaan SDM
Perlu diayakeun gotrasawala (diskusi), riungan ilmiah jeung semi-ilmiah kalayan maneuh (mingguan, bulanan, dua bulanan, tilu bulanan, tahunan, jst)
Ngadegkeun museum mini
Publikasi nu ngajak milu aubna warga masarakat Jawa Barat pikeun ngamumule budaya Sunda, misalna wae: ngalaporkeun naskah (manuskrip) nu aya di masarakat kalawan tanggungan pamarentah, tapi eta naskah teh tetep kapimilik kunu bogana.
HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dina sui generis Sindangbarang.
Punten, ieu rangkuman kagiatan di Lembur Adat Sindangbarang, Dukuh Kemang, Bogor.
Nuhun ka Kang Mumu anu tos nerjemahkeun ti bahasa Indonesia ka bahasa Sunda
Hatur nuhun sakali deui untuk Ama Maki nu tos ngijinkeun tim ti FIB UI (kuring spk) hadir di Sidangbarang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Bogor ngayakeun arasehan Budayawan Daerah dina Raraga Mieling Kota Bogor ka-525? Ieu acara teh diayakeun di Kampung Budaya Sindangbarang, Pasir Eurih, Taman Sari, Bogor , dina poe Rebo, 13 Juni 2007, tabuh 08.00 wib.
Nu jadi narasumber dina ieu diskusi teh nya eta: Mayjen. Sudradjat Nataatmadja (Bupati Bogor manten), Eman Sulaeman (Budayawan Bogor ), Dr. Agus Aris Munandar (Arkeolog Fakultas Ilmu Budaya UI), Munawar Holil, M.Hum. (Filolog Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI), jeung Anis Djatisunda (Budayawan Bogor).
Acara dibuka ku pangbagea Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bogor, nu diwakilan ku Bapak Drs. Hadiyanto. Rengse Pa Hadiyanto biantara, Pa Sudradjat giliran MusPida (Musti Pidato). Numutkeun anjeunna, para pamingpin teh diperedih pikeun ngamakmurkeun jeung ngawaluyakeun nagara jeung rahayatna saperti nu dicontokeun ku Prabu Siliwangi nu marentah kalawan wijaksana, bisa nata Pajajaran nepi ka jadi nagara nu makmur, gemah ripah loh jinawi. Pa Ajat oge netelakeun yen Bogor teh pakuna Indonesia . Sagala kagiatan di Indonesia teh pasti dimimitian ku ayana kagiatan di kota Bogor . Numutkeun Pa Ajat, pikeun ngamajukeun Sunda teh perlu diteangan pamingpin nu bisa manggihan angka hiji. Hartina, pamingpin nu bisa ngabaladah; ngamimitian hiji pagawean. Gerakan budaya jeung sastra Sunda perlu diayakeun deui, ngan perlu ayana emahaman?yen gerakan budaya jeung sastra teh lain hiji gerakan pulitik....
Catetan singget Sarasehan Budaya Sunda
Eman Sulaeman:
Bogor diadegkeun tahun 1482, nya eta waktu Prabu Siliwangi mangku kakawasaan di Karajaan Pajajaran. Dina kateranganana, Pa Eman ngajentrekeun asal-muasal kecap Bogor jeung makna pilosopisna. Dicaritakeun oge, dina pamarentahan Prabu Siliwangi kota Bogor teh jadi pusat pikeun nyiar pangaweruh dina widang elmu kawijaksanaan, etika, jeung palsapah.
Pa Eman oge nyaritakeun yen Anjeunna keur nalungtik toponimi di daerah Bogor . Ayeuna teh geus kakumpulkeun 75 toponomi ngaran-ngaran tempat di Bogor , tina target 150 ngaran daerah.
Dr. Agus Aris Munandar
Situs Sindangbarang munggaran didongdon taun 2006 ku rekomendasina Pa Inochi jeung Kang Hendra. Numutkeun Pa Agus, situs-situs di Sindangbarang teh lolos tina panalungtikan urang Walanda nu biasana taliti pisan. Hal ieu numuwuhkeun sababaraha tafsiran. Dumasar kana pangalaman di daerah sejen, biasana mah urang Walanda teh datang ka hiji situs lamun aya laporan ti nu mukim di daerah situs. Lian ti eta, dina ngalaksanakeun ekspedisi militerna teh Walanda biasana sok ngirimkeun para ahli pikeun ngadatangan hiji tempat. Aya kamungkinan, ceuk katerangan salah saurang sesepuh di Bogor , urang Walanda oge geus ngadatangan eta tempat tapi sesepuh di dinya nyumputkeun?(teu mere katerangan).
Titinggal karuhun di daerah Sindangbarang teh euyeb pisan, di antarana wae, nya eta batu tapak, dolmen, menhir, punden berundak, batu pelor, jeung batu dakon. Awalna eta artefak-artefak teh ditaksir titinggal karuhun ti jaman prasejarah, tapi sanggeus ditalungtik deui ari pek teh lain ti jaman prasejarah tapi ti jaman karajaan Sunda kira-kira abad 13-15.
Di ieu daerah teh ngalir sababara walungan nu jadi ciri yen ieu daerah mibanda peran nu penting dina tradisi eradaban?baheula jeung deui toponimi kampung sabeudeureunana mageuhan eta asumsi. Sok sanajan kitu, ieu teh masih mangrupa hipotesis ku sabab aya keneh sababaraha ganjelan din proses interpretasi kana ieu tempat nu nyangkut data barang jeung data tulisan. Dina katerangan saterusna Pa Agus ngusulkeun lengkah-lengkah nu sakuduna dilakukeun: ti kawit ngainventarisasi nepi ka ngajadikeun daerah Sindangbarang jadi daerah tujuan wisata saluyu jeung geus ngadegna kampung budaya Sindangbarang di Dukuh Kemang.
Munawar Holil, M.Hum.
Kang Mumu ngaran akrabna mah. Wanoh ka Sindangbarang teh waktu aya acara seren taun nu bewarana meunang tina internet. Numutkeun anjeunna, Sindangbarang teh ngan dipikiwanoh tina situs arkeologi wungkul, sedengkeun sumber lisan jeung tulis can aya nu ngagarap. Sumber lisan nu dimaksud ku anjeunna teh kaasup folklor lisan nu ngawengku: Basa Rahayat nu mangrupa eunteung tina tradisi basa nu digunakeun ku hiji masarakat ti mangsa ka mangsa, nu bisa jadi ngalaman parobahan ku ayana barobahna jaman; ungkapan tradisional saperti babasan, paribasa, jste.; pertanyaan tradisional saperti teka-teki; puisi rahayat kayaning pantun, sisindiran, jste; carita prosa rahayat kayaning dongeng, legenda, mite; jeung nyanyian rahayat. Tah, eta sumber lisan teh salah sahiji tatapakan nu kudu digunakeun pikeun ngalengkepan dina ngamutalaah kabudayan hiji daerah, pangpangna ajarah?hiji tempat.
Di sagedengeun eta, aya oge sumber tulis nu mangrupa naskah (tulisan nu paling henteu umurnya leuwih ti 50 taun). Naskah Sunda nu geus kapaluruh ku Prof Edi S. Ekadjati dina katalog Katalog Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan (1988) jumlahnya aya 1831. Naskah nu disimpen di lembaga-lembaga kayaning perpustakaan jeung museum, panglobana di Perpustakaan Universitas Leiden , Belanda nya eta 785, nu kadua panglobana di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta , 400-an (can kaasup naskah nu bahanna lontar). Naskah nu aya keneh di koleksi-koleksi pribadi jumlahnya 554. Kang Mumu teu percaya yen eta jumlah naskah teh ngan sakitu. Pasti seueur keneh nu bacacar di masarakat, kaasup Bogor . Komo deui Bogor teh baheula pernah jadi puseur Karajaan Pajajaran (Sunda). Buktina, anjeunna nunjukkeun hiji naskah milik urang Sindangbarang nu ditambutkeun ku urang dinya samemeh acara diskusi.
Dua sumber nu disebut teh ngahasilkeun prospek panalungtikan ka hareupna nu kudu digarap kalawan soson-soson. Garapan nu bisa dilakukeun teh dimimitian ku ngainventarisasi sumber-sumber, ngadokumentasikeun, nyebarluaskeun (publikasi), jeung panalungtikeun nu leuwih gemet tina sagala widang elmu. Dipiharep ku ayana panalungtikan kawas kitu teh urang Sunda bisa ngajaga tradisina pikeun galieun ka hareupna.
Anis Djatisunda
Ngaran daerah Sindangbarang teh kurang pas keur nyebut tempat ngadegna kampung adat Sunda ku saba wawangunan kampung adat teh ngadeg di daerah Cimenteng. Ku sabab kitu pikeun Pa Anis mah leuwih hade kampung adat teh disebut Lembur Budaya Mandala Parakan Jati. Nu jadi tatapakan ngadegkeun kampung adat teh ku sabab upacara seren taun teu miboga sarana jeung fasilitas pikeun ngawadahanana.
Dina naskah Sanghiyang Siksa Kandang Karesian dicarikeun masalah etika tatalimarga, konsep pamarentahan. Di kampung budaya kudu aya rama nu jadi sentral dina ngadegkeun kampung, aya resi nu ngurus kesejahteraan jeung aya sang prebu nu ngurus masalah pamarentahan.
Pa Anis oge ngabahas masalah makna filosofis wangunan-wangunan lembur budaya, nu ceuk anjeunna, aya kaitanana jeung konsepsi bulan, bentang, panonpoe atawa wilayah luhur, tengah, jeung handap atawa alam asal, alam kahirupan, jeung alam kematian. Lian ti eta, di hareupeun imah gede aya tangkal pakujajar nu mangrupa pepelakan asli Bogor jeung dihias oge ku kolecer jeung calintuh nu maksudnya supaya pare bisa buru-buru dipanen.
Catetan pamungkas notulensi ti si kuring:
Aya sababaraha hal penting nu bisa dilakukeun ku pihak mana wae pikeun ngadongsok lumangsungna hirup-huripna Sindangbarang. Sababaraha hal eta teh mangrupa hasil diskusi ti para narasumber jeung hasil olahan tim notulensi (barudak ngora kosmopolitan nu keur neangan jati dirina):
Inventarisasi sui generis (genetic resource/sumber genetik, expression of folklore/ekspresi folklore, traditional knowledge/pengetahuan tradisional) Sindangbarang jeung sabudeureunana.
Panalungtikeun nu leuwih jero (penelitian lebih lanjut)
Publikasi
Promosi
Mere ngaran kampung adapt nu keur diwangun, upamana ku ngaran nu diusulkeun ku Pa Anis, nya eta Kampung Budaya Mandala Parakan Jati
Revitalisasi fisik jeung budaya kampung budaya
Ngeusian kampung budaya Sindangbarang ku mekarkeun seni (musik, tari, tembang, sendratari, jeung nyaritakeun tradisi atawa tokoh kawentar di Sindangbarang, ngagondang, karajinan, pemberdayaan SDM
Perlu diayakeun gotrasawala (diskusi), riungan ilmiah jeung semi-ilmiah kalayan maneuh (mingguan, bulanan, dua bulanan, tilu bulanan, tahunan, jst)
Ngadegkeun museum mini
Publikasi nu ngajak milu aubna warga masarakat Jawa Barat pikeun ngamumule budaya Sunda, misalna wae: ngalaporkeun naskah (manuskrip) nu aya di masarakat kalawan tanggungan pamarentah, tapi eta naskah teh tetep kapimilik kunu bogana.
HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dina sui generis Sindangbarang.
Seri Road to Holyland: Sindangbarang - Malagina berdiri di atas Malagina
Seri Road to Holy land
Agni Malagina
Malagina yang satu ini ditemukan pada tanggal 13 Juni 2007. Lokasinya terletak di tepi sungai Ciapus dukuh Kemang Sindangbarang…. Di atas Malagina saya berdiri. Malagina berdiri di atas punden Malagina. Tempat yang saya injak waktu itu pernah dijadikan tempat sakral. Diduga pernah terjadi aktivitas keagamaan yang intensif di sekitar daerah Sindangbarang pada abad 14-15. Dan salah satu punden itu sekarang diberi nama saya, Malagina.
Hahaha….nama punden Malagina ini diberikan kepada sebuah situs batu temu gelang yang saya temukan. Pak Agus Aris Munandar spontan memberi nama Malagina pada situs itu…”malagina saja, kalo diberi nama agni nanti jadi nama yang berhubungan dengan Hindu.”
Saya hanya tersenyum, punden itu namanya Malagina…
Sesaat saya berdiri di tengah batu temu gelang yang melingkari saya. Saya pandangi…saya rasai…angin…suara angin yang menyentuh telinga saya. Ia datang dan bergesekan dengan pohon dahan ranting dan daun yang menutupi situ situ. Ada suara air mengalir mendesak bebatuan di bawah sana…di sungai Ciapus.
Punden Malagina itu tidak sebesar punden Majusi atau punden Surawisesa ataupun punden Pasir Eurih. Mungkin hanya berdiameter 3 meter. Dan berundak 3. Punden itu adalah punden yang pertama saya temukan…dan diberi nama belakang saya. Saya berpikir…hebat benar…nama Malagina ada di tepi sungai. Tesembunyi. Dan pernah menjadi tempat ritus keagamaan Sunda Kuna. Saat berdiri sendiri setelah ditinggalkan Pak Agus yang turun ke sungai Ciapus, saya masih terdiam dan berpikir, dulu, orang Sunda jaman dulu mencari Tuhan sampai di tempat ini. Memberi persembahan pada karuhun dan Hyang di tempat ini. Mendapatkan Hyang, Tuhannya dalam rupa yang maha sempurna. Asli yang seasli-aslinya, Jujur yang sejujurnya. Saya merasakan alam sesungguhnya. Ada angin dan matahari yang mencekam dalam kesepian. Ada air dan batu yang menelan sunyi sendiri pagi itu. Mungkin juga ada tangis dan gumam yang terkatakan di masa lalu kepada batu-batu berlumut yang jumawa ini.
Fantasi saya bermain dalam montase-montase terpotong-potong dalam kepala saya. Mungkinkan di masa lalu ada orang-orang yang datang ketempat ini membawa persembahan. Dengan tujuan memuja leluhur dan Sang Hyang Taya. Besar pengorbanan mereka untuk sampai ke tempat ini tentunya. Begitu jauhya perjalanan mencari Tuhan. Saya masih berdiri. Tegap. Memandang bongkahan batu-batu besar di sekeliling saya. Di sini…di sini pernah ada pemujaan. Pemujaan terhadap karuhun dan Hyang. Hyang yang muncul dalam bentuk Guriang Tujuh. Tujuh batu yang mengelilingi saya…..angka tujuh…misterius.
Pencarian Tuhan sampai ke kaki Gunung Salak. Membuat punden dan batu temu gelang. Saya membayangkan saya adalah peziarah yang datang ke punden itu…entah dulu namanya apa. Mungkinkah dulu ada seorang yang berdiri tegap di tempat saya berdiri sekarang? Sambil memandang batu yang sama, melihat sungai yang sama, melihat pohon yang sama, dan mendengar bisik angin yang sama? Mungkinkah dia dulu juga berpikir hal yang sama? Berpikir tentang Tuhan dan leluhurnya? Mungkinkah dia juga berpikir: dimanakah Tuhan? Adakah Tuhan tau aku sudah hilang rupa dan binasa? Dan aku ada di sini menemukan Tuhanku, dalam bentuknya yang asli dan jujur. Dan aku tidak dapat berpaling dari Tuhanku.
Ingatan saya terhenti pada buku tulisan Pak Agus Aris tentang penelitian awal situs Sindangbarang. Karuhun dan Hyang yang disebut-sebut begitu sangat dihormati oleh masyarakat Sunda Kuno pada waktu itu. Karuhun, leluhur…membuat saya berpikir saat melangkah meninggalkan punden Malagina. Saya terlahir sebagai anak Janda (Jawa-Sunda). Dan itu membuat saya bertanya….darah Sunda yang saya punya datangnya darimana? Saya bertanya pada ibu saya, “ooo…itu eyang yang tau. Tapi kalo tidak salah eyang pernah bilang, kita ini keturunan dari Pakwan Pajajaran.”
Halah….kok bisa? Saya bertanya pada nenek, dan beliau menjawab,”wah…kalo silsilah keluarga kita panjang. Sampai juga di keluarga Pakwan Pajajaran. Keluarga kita, contohnya Ibumu itu dilindungi oleh leluhur kita.”
Saya bertanya, “dalam bentuk apa?”
Dijawab, “harimau putih.”
Sejurus berlalu….saya tidak percaya hal itu. Namun tiba-tiba saya teringat salah satu situs yang dituliskan dalam buku Pak Agus yaitu Paniisan Meong Bodas (tempat harimau putih ngadem lah…itu adalah simbol seorang raja Pajajaran yang mengundurkan diri dan bersuci).
Saya berpikir lagi, benarkah leluhur saya sampai sejauh itu asalnya? Tergelitik saya ingin mencari siapa saya dan dari mana darah Sunda yang mengalir dalam tubuh ini. Sekali lagi, tampaknya benar-benar akan menjadi perjalanan panjang untuk mencari leluhur…..seperti Road to Holy Land ini.
Pencarian saya dan beberapa orang kawan tentang leluhur tentunya akan sangat panjang. Beruntung kami bisa memulai pencarian jati diri kami ini berangkat dari Sindangbarang. Sebelumnya saya selalu kebingungan, dari mana harus memulai perjalanan mencari jati diri. Dalam beberapa celotehan kecil bersama kawan-kawan, kami selalu kebingungan jika bertanya…siapakah aku? Darimana aku berasal? Darimana mulai mencari pun menjadi semacam lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkal. Mungkin sama dengan lingkaran hermeneutik yang selalu kebingungan mencari ujung pangkal sebuah penafsiran. Dalam lingkaran ini mungkin tidak ada benar salah….semuanya absolut? Atau anomali? Entah lah…kami akan mencarinya….berangkat dari Sindangbarang.
Agni Malagina
Malagina yang satu ini ditemukan pada tanggal 13 Juni 2007. Lokasinya terletak di tepi sungai Ciapus dukuh Kemang Sindangbarang…. Di atas Malagina saya berdiri. Malagina berdiri di atas punden Malagina. Tempat yang saya injak waktu itu pernah dijadikan tempat sakral. Diduga pernah terjadi aktivitas keagamaan yang intensif di sekitar daerah Sindangbarang pada abad 14-15. Dan salah satu punden itu sekarang diberi nama saya, Malagina.
Hahaha….nama punden Malagina ini diberikan kepada sebuah situs batu temu gelang yang saya temukan. Pak Agus Aris Munandar spontan memberi nama Malagina pada situs itu…”malagina saja, kalo diberi nama agni nanti jadi nama yang berhubungan dengan Hindu.”
Saya hanya tersenyum, punden itu namanya Malagina…
Sesaat saya berdiri di tengah batu temu gelang yang melingkari saya. Saya pandangi…saya rasai…angin…suara angin yang menyentuh telinga saya. Ia datang dan bergesekan dengan pohon dahan ranting dan daun yang menutupi situ situ. Ada suara air mengalir mendesak bebatuan di bawah sana…di sungai Ciapus.
Punden Malagina itu tidak sebesar punden Majusi atau punden Surawisesa ataupun punden Pasir Eurih. Mungkin hanya berdiameter 3 meter. Dan berundak 3. Punden itu adalah punden yang pertama saya temukan…dan diberi nama belakang saya. Saya berpikir…hebat benar…nama Malagina ada di tepi sungai. Tesembunyi. Dan pernah menjadi tempat ritus keagamaan Sunda Kuna. Saat berdiri sendiri setelah ditinggalkan Pak Agus yang turun ke sungai Ciapus, saya masih terdiam dan berpikir, dulu, orang Sunda jaman dulu mencari Tuhan sampai di tempat ini. Memberi persembahan pada karuhun dan Hyang di tempat ini. Mendapatkan Hyang, Tuhannya dalam rupa yang maha sempurna. Asli yang seasli-aslinya, Jujur yang sejujurnya. Saya merasakan alam sesungguhnya. Ada angin dan matahari yang mencekam dalam kesepian. Ada air dan batu yang menelan sunyi sendiri pagi itu. Mungkin juga ada tangis dan gumam yang terkatakan di masa lalu kepada batu-batu berlumut yang jumawa ini.
Fantasi saya bermain dalam montase-montase terpotong-potong dalam kepala saya. Mungkinkan di masa lalu ada orang-orang yang datang ketempat ini membawa persembahan. Dengan tujuan memuja leluhur dan Sang Hyang Taya. Besar pengorbanan mereka untuk sampai ke tempat ini tentunya. Begitu jauhya perjalanan mencari Tuhan. Saya masih berdiri. Tegap. Memandang bongkahan batu-batu besar di sekeliling saya. Di sini…di sini pernah ada pemujaan. Pemujaan terhadap karuhun dan Hyang. Hyang yang muncul dalam bentuk Guriang Tujuh. Tujuh batu yang mengelilingi saya…..angka tujuh…misterius.
Pencarian Tuhan sampai ke kaki Gunung Salak. Membuat punden dan batu temu gelang. Saya membayangkan saya adalah peziarah yang datang ke punden itu…entah dulu namanya apa. Mungkinkah dulu ada seorang yang berdiri tegap di tempat saya berdiri sekarang? Sambil memandang batu yang sama, melihat sungai yang sama, melihat pohon yang sama, dan mendengar bisik angin yang sama? Mungkinkah dia dulu juga berpikir hal yang sama? Berpikir tentang Tuhan dan leluhurnya? Mungkinkah dia juga berpikir: dimanakah Tuhan? Adakah Tuhan tau aku sudah hilang rupa dan binasa? Dan aku ada di sini menemukan Tuhanku, dalam bentuknya yang asli dan jujur. Dan aku tidak dapat berpaling dari Tuhanku.
Ingatan saya terhenti pada buku tulisan Pak Agus Aris tentang penelitian awal situs Sindangbarang. Karuhun dan Hyang yang disebut-sebut begitu sangat dihormati oleh masyarakat Sunda Kuno pada waktu itu. Karuhun, leluhur…membuat saya berpikir saat melangkah meninggalkan punden Malagina. Saya terlahir sebagai anak Janda (Jawa-Sunda). Dan itu membuat saya bertanya….darah Sunda yang saya punya datangnya darimana? Saya bertanya pada ibu saya, “ooo…itu eyang yang tau. Tapi kalo tidak salah eyang pernah bilang, kita ini keturunan dari Pakwan Pajajaran.”
Halah….kok bisa? Saya bertanya pada nenek, dan beliau menjawab,”wah…kalo silsilah keluarga kita panjang. Sampai juga di keluarga Pakwan Pajajaran. Keluarga kita, contohnya Ibumu itu dilindungi oleh leluhur kita.”
Saya bertanya, “dalam bentuk apa?”
Dijawab, “harimau putih.”
Sejurus berlalu….saya tidak percaya hal itu. Namun tiba-tiba saya teringat salah satu situs yang dituliskan dalam buku Pak Agus yaitu Paniisan Meong Bodas (tempat harimau putih ngadem lah…itu adalah simbol seorang raja Pajajaran yang mengundurkan diri dan bersuci).
Saya berpikir lagi, benarkah leluhur saya sampai sejauh itu asalnya? Tergelitik saya ingin mencari siapa saya dan dari mana darah Sunda yang mengalir dalam tubuh ini. Sekali lagi, tampaknya benar-benar akan menjadi perjalanan panjang untuk mencari leluhur…..seperti Road to Holy Land ini.
Pencarian saya dan beberapa orang kawan tentang leluhur tentunya akan sangat panjang. Beruntung kami bisa memulai pencarian jati diri kami ini berangkat dari Sindangbarang. Sebelumnya saya selalu kebingungan, dari mana harus memulai perjalanan mencari jati diri. Dalam beberapa celotehan kecil bersama kawan-kawan, kami selalu kebingungan jika bertanya…siapakah aku? Darimana aku berasal? Darimana mulai mencari pun menjadi semacam lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkal. Mungkin sama dengan lingkaran hermeneutik yang selalu kebingungan mencari ujung pangkal sebuah penafsiran. Dalam lingkaran ini mungkin tidak ada benar salah….semuanya absolut? Atau anomali? Entah lah…kami akan mencarinya….berangkat dari Sindangbarang.
Seri Road to Holyland: Sindangbarang - sebuah pemahaman jati diri
Tubuhmu adalah kecapiku
Kulihat jariku
Ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking...
Ingin kugerakkan satu persatu
Memetik senar bisu tubuhmu
Kujentikkan telunjukku pada dawai tipis ujung rambutmu
Kutekan senar jingga di kabut matamu
Kupetik serabut merah darahmu
Kumainkan sebuah komposisi tak berlaras
Tiada pelog, tiada salendro, tiada madenda
Kusatukan dengan alam
Membuat sonoritas terbuka di alamku
Tubuhmu meronta bersemuka denganku
Aku mengaggumi nada semu katamu
Tubuhmu adalah kecapiku
Kan kumainkan sampai retas airmataku di ujung gelap cumbumu
27 Mei 2007 kegundahanku dalam gelap
Kecapi banyak kita jumpai di pelbagai tempat di pelbagai negara. Sebutlah kecapi, sitar, siter, zithar, koto di Jepang, gucheng di Cina. Alat musik petik dengan tabung resonansi segi empat memanjang pada umumnya. Cara memainkannya adalah dengan dipetik menggunakan jari jemari kedua tangan. Ada banyak jenis kecapi dan sitar ini. Yaaa...itu urusan ahli etnomusikologi dan pengamat musik lah. Saya mah hanya ingin menuliskan kesan-kesan mendengar bunyi kecapi dan sitar.
Pada perjalanan ke Sindangbarang pada saat Seren Taun dilaksanakan (Maret 2007), saya sempat kepincut dengan permainan kecapi suling di panggung depan Rumah Bali (rumah Pak Maki). Sayang....karena hujan yang terus mengguyur, saya tidak bisa menikmati permainan kecapi suling tersebut. Alih-alih saya lebih memilih jalan-jalan ke warung Ceuceu untuk mencicipi hangat-hangat goreng pisang sekaligus minum kopi item instant. Nah....sebelum masuk ke kecapi...ngobrol-ngobrol tentang kopi niy...kemaren tanggal 26 Mei di Sindangbarang teh...saya disuguhi kopi tengah malam yang luar biasa enaknya. Entah terbuat dari komposisi apa...rasa kopi ini baru saya temui. Baru saya jumpai dan rasakan kopi hitam manis panas yang mungkin sepadan dengan nasgitel (panas legit kentel). Luar biasa! Saya dibuatnya ngejegleg sampai jam 4.30 pagi. Menurut Kang Mumu, konon, di Bogor ada yang namanya Kopi Bogor, dan hanya ada di Bogor. Mungkin kopi Bogor inilah yang saya tenggak sampai habis malam itu. Luar Biasa....
Kembali ke kecapi....
Di panggung kampung adat Sindangbarang saya melihat ada dua buah alat musik petik, yaitu sitar dan kecapi yang seperti perahu bentuknya. Kecapi indung ya? Semula saya bingung membedakan kecapi dengan sitar. Tapi setelah mendapat petunjuk tentang bentuk fisik setidaknya kesalahan mengidentifikasi kedua benda tersebut dapat diminimalisasikan.
Saya agak terperangah melihat ukuran kecapi indung yang sedemikian besarnya. Saya bayangkan...pasti berat sangat ya?!
Tak lama setelah sibuk dengan tetek bengek peralatan kamera, saya melihat abah Ucup sudah dalam keadaan PW (puosisi wuenak) di depan kacapi indung. Tak lama setelah menata pelbagai alat dan sesajen, abah mulai mendendangkan cerita pantun diiringi petikan kecapinya. Rasanya begitu bernyawa, begitu berjiwa. Petikan ekspresif penuh kejutan. Berbeda dengan petikan suara kecapi yang saya dengar siang hari Sabtu tanggal 26 Mei. Saat itu sebuah sitar dipetik oleh Kang Didi, seorang pantuner/tembanger/kecapis yang belajar main kecapi sejak tahun 89. beliau berasal dari Sindangheula Kabupaten Brebes, tentunya dekat dengan Gunung Kumbang yang legendaris itu. Sitar pun bergantian dipetik juga oleh Kang Dedy seorang kecapis/sitaris dari STSI Bandung yang sudah manggung berkolaborasi dengan musikus di panggung nasional dan internasional. Nada-nada melodius yang dipadukan dengan lantunan tembang. Saya sempat terkagum-kagum ketika mengabadikan gambar dan suara tersebut. Ada yaaa.....musik yang bisa membuat saya merasa tenang. Mungkin bisa disejajarkan dengan kelezatan hidangan buatan Ibu Maki yang Luar Biasaaaa....
Malam dini hari setelah pantun Abah Ucup selesai, tepatnya pukul 01:06, saya dan 3 orang kawan (Ocid, Risna, Mufhti) segera meminta Kang Dedy, Kang Didi, dan Kang Nata untuk mengadakan ’renungan’ ...atau lebih tepatnya memaksa mereka untuk mengadakan resital kecapi. Sebenarnya kami sudah siap menerima jawaban tidak, tapi rupanya akang-akang teh tidak bisa menolak permintaan kami yang menatap mereka dengan tatapan nanar dan memelas. Dan terjadilah apa yang harus terjadi dalam skenario. Resital kecapi plus kuliah tentang kecapi, tembang, pantun sekaligus diselingi obrolan ringan dan celoteh celetuk ga nyambung. Jaka Sembung makan ikan tongkol, ga nyambung dodol! Luar biasa.....
Menjelang pukul 2 pagi, bunyi-bunyi kecapi dimeriahkan oleh nyanyian Kang Nata yang penuh semangat membahana menyanyikan sepotong lagu....saya hanya dengar sedikit....seperti ini: Pajajaran kari ngaran, pangrango geus narik kolot, mandala wangi ngeleungit.....keren banget.
Selesai beberapa baris... pertunjukkan nyanyian dan kecapi pun dialihkan ke kang Didi. Kali ini suara Kang Didi sangat ramah menyapa telinga saya. Sedikit berbeda dengan suara Kang Nata yang menggelegar di gelap malam. Hahahha.....(Kang Nata, suara kang mah luar biasaaaa! Semangat yaaa)
Yang saya ingat waktu itu Kang Didi menyanyikan tembang yang ada kata-kata Pangapungan, Lalayang Salaka Domas, puputon kembang keraton. Saat mendengar Kang Didi nembang, terbersit pertanyaan lagi...lagi-lagi pertanyaan seperti sudah berapa lama kang Didi belajar nembang ini? Dari Brebes, masih muda tapi sudah memiliki kemampuan yang ...Luar Biasaaaaa.....
Selesai pertunjukkan singkat itu, Kak Ocid mulai mengorek informasi dari Kang Dedy tentang kecapi dan sitar. Dasar semua itu adalah bahwa kami sangat ingin mendengar komposisi ciptaan Kang Dedy yang liar. Belakangan kami sebut Kang Dedy si siter edan! Luar Biasaaaa...
Kuliah pun dimulai dengan teknik memetik. Perbedaan petikan tradisional dan yang sudah dimodifikasi. Tak lupa juga dibahas tentang iringan dan lirik saling mengisi...ngarumpaka lagu, ngalaguan rumpaka. Pun disinggung tentang
2 ekspresi dalam penciptaan lagu, yaitu ekspresi yang diciptakan untuk kebutuhan musikal atau ekspresi berupa struktur lagu untuk kebutuhan ekspresi lagu. Banyak proses dalam pembentukan lagu dalam musik tradisional Sunda, misalnya lirik hanya difungsikan semacam pemukul alat tabuh. Sudah tidak memperhatikan lagi pemenggalan kata. Tergantung kebutuhan. Namun dalam lagu tradisional masih memperhatikan keduanya. Aturan sastra maupun pelafalan.
Seperti kuliah musik layaknya. Celetuk seorang kawan pun muncul: ”belajar setaun juga ga akan bisa seedan Kang Dedy euy!” Luar Biasaaaa.....
Kami sempat bertanya apa perbedaan tembang, kawih, mamaos, pantun...dan penjelasan singkat pun terkatakan dari si pendekar siter edan ini ditambah celetukan dari Kang Didi. Terkadang Kang Nata pun menjawab semena-mena karena ga nyambung! Ada beberapa catatan seperti: Iringan yang dipakai untuk mamaos sering tidak ada beat atau beat tidak menentu. Lain dengan tembang yang punya kekonstanan aksentuasi. Diperkenalkan juga cara metik ala Mang Koko yang banyak dijadikan standar permainan kecapi di Bandung. Petikan ala Mang Koko ini paling populer, stuktur komposisinya lebih nyaman didengar. Aturan sistem nadanya lebih dianggap tidak mengganggu telinga. Karena pada petikan tradisional ada nada yang tidak sesuai dengan struktur kenong, struktur kendangan. Jadi Mang Koko sering dijadikan rujukan. Karena terasa lebih mudah dinikmati oleh telinga-telinga masa kini yang kadang sulit mendengar petikan kecapi tradisional
Kang Dedy yang belajar main kecapi sejak umur 10 tahum juga menambahkan bahwa ia mengembangkan teknik bermain kecapi, bidangnya adalah yang liar-liar. Bukan sesuatu yang baru secara teknis, namun bisa disebut mengadaptasi. Kadang mengadaptasi gucheng kecapi dari Cina. Atau memainkan kecapi dengan inspirasi dari bunyi slap bass. Ada juga memetik ala ngagenjreng gitar, seperti yang biasa dimainkan di kacapi biola atau di kacapi kopi. Kata orang dari tradisi cianjuran sering ada celetukan ”kecapi kok digucrek-gucrek”. Kang Dedy rupanya melihat ada yang bisa berkembang dari kecapi. Sebuah senar kecapi bisa menghasilkan beberapa bunyi dengan perlbagai teknik petikan yang dikembangkan...sampai ke nada mikrotone. Apapun yang bisa memungkinkan menjadi bunyi pun dieksplorasi. Sebelum membuat komposisi dicari dulu kemungkinan bunyi yang bisa terjadi. Sitar pun bisa dieksplorasi, kunci disetel bisa menghasilkan bermacam laras....salendro, pelog, madenda, bahkan laras yang digunakan oleh kecapi Cina, laras dalam gambang kromong, dan beberapa komposisi sitar dari Jawa Tengah. Luar biasaaaaa....
Malam makin larut pagi menjelah Subuh, kami pun menodong Kang Dedy memainkan satu komposisi yang kami nobatkan sebagi salah satu komposisi edan. Waktu itu kang Dedy mengambil sebuah lagu tradisional Lalayang Salaka Domas yang ia interpretasikan dengan gayanya. Entah apa yang bisa saya katakan waktu mendengar komposisi itu. Imajinasi saya tak terbebaskan, terkungkung dengan putaran nada yang bervariasi. Musik macam apa ini? Luar Biasaaa....
Saya hanya memikirkan, sepiawai ini permainan kecapinya membutuhkan waktu berapa lama untuk menguasainya? Saya berusaha mencari kekurangan dan kelemahannya, tetap belum saya temukan. Saya tonton rekaman videonya pun tetap tidak menemukan kelamahannya. Luar Biasaaaa....
Resital pun diakhiri dengan berbagai bentuk iringan sitar yang mengiringi lagu-lagu tradisional seperti Es Lilin, Jangkrik Genggong, si Jali-Jali. Saya sangat menyukai komposisi Es Lilin yang juga dinyanyikan oleh Kang Didi. Entah komposisi macam mana yang bisa sangat ramah di telinga saya. Kecapi yang dipetik kang Dedy, dan suara Kang Didi rasanya tak boleh dipisahkan lagi. Biarkan mereka menyatu pagi itu. Tarik menarik kedua kuasa, tradisional dan kontemporer sepertinya menambah kekayaan ragam budaya Sunda masa kini. Entah apakah jenis ini bisa disebut budaya Sunda? Masih adakah kontroversi antara mana yang asli tradisional dan mana yang liar? Bagaimana keduanya kelak dapat berjalan beriringan? Apakah keduanya dapat saling mengisi sesuai dengan kebutuhan masa kini? Apakah budaya lokal bisa bersaing dengan budaya global? Dapatkan yang lokal ini terus hidup dalam keglobalan? Apakah justru bisa bersatu sehingga dapat disebut glokalisasi? Hhh.....pentanyaan lagi....pertanyaan lagi....saat ini mungkin kami hanya bisa bertanya...sambil terus mencari jawabnya. Kami yakin, jawabnya ada di depan mata, hanya saja belum terlihat. Suatu saat kami yakin akan muncul jawaban jujur yang sejujurnya, asli yang seaslinya seperti kata Pak Agus Aris Munandar yang berlaiu kutip dari naskah Sunda kuno, Sirnaraga
4.30 pagi. Gelap masih yang tergelap. Dingin pun masih yang terdingin. Seusai Subuh, kami semua memilih nangkub di kamar sambil bersarung. Kami si geulis-geulis sempat diskusi, seharian ini kami banyak belajar. Sedikit tahu tentang seorang pantuner gaek si Abah Ucup, sedikit tahu tentang si siteredan, sedikit tahu tentang pantuner gunung kumbang, sedikit tahu tentang sejarah Sunda, sedikit tahu cerita bangunan istana Pajajaran, sedikit tahu tentang kisah Dewi Asri. Luar Biasaaaaa....
Sedikit tahu tapi membuat mata kami terbuka. Begitu kayanya budaya Sunda. Terbayang begitu banyaknya budaya di Indonesia...kami ada dimana? Kami milik siapa?
Abah Ucup, Kang Didi, Kang Dedy memiliki sinarnya masing-masing. Mutiara-mutiara tatar Sunda yang punya rohnya sendiri-sendiri. Perjalanan kami, ROAD TO HOLY LAND[1] akan mencoba mencari mutiara-mutiara yang masih menyembunyikan sinarannya. ROAD TO HOLY LAND akan mencari akarnya....ROAD TO THE ROOT...sepertinya akan menjadi perjalanan panjang kami-kami generasi muda kosmopolitan yang mencari akarnya....
agni malagina
[1] ROAD TO HOLY LAND ini kami gunakan hanya untuk keren-kerenan pada awalnya. Namun akhirnya ada motif untuk lebih serius menggunakan terminologi ini. Ada alasan kuat mengapa kami menggunakan kalimat Road to Holy Land. Kami mangacu pada keterangan pada tulisan Dr. Agus Aris Munandar yang berisi tentang penelusurannya terhadap situs Sindangbarang dan sekitarnya. Dalam beberapa naskah Sunda kuno disebutkan bahwa Sindangbarang disebut Lembur Luhur yang mengacu sebagai tempat suci di kaki Gunung Salak. Dr. Agus Aris Munandar juga menyebutkan dalam tulisannya, bahwa dari banyaknya punden berundak diduga pernah terjadi aktivitas keagamaan di Sindangbarang sekitar abad 14-15 an. Penemuan tersebut juga diperkuat dengan penemuan beberapa menhir, batu dakon, batu beryantra dan batu tapak kaki (tapak kaki manusia). Road to Holy Land ini mungkin alih-alih akan kami sebut dengan ‘perjalanan ke tanah suci’. Tanah suci di sini bukan mengacu pada tanah suci dalam agama Islam (Arab), atau Land of Religions di Yerusalem. Perjalanan ke tanah suci ini hanya digunakan oleh kami dalam rangka mengapresiasi dan bentuk kekaguman kami pada Sindangbarang dalam konteksnya abad 14-15an
Kulihat jariku
Ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking...
Ingin kugerakkan satu persatu
Memetik senar bisu tubuhmu
Kujentikkan telunjukku pada dawai tipis ujung rambutmu
Kutekan senar jingga di kabut matamu
Kupetik serabut merah darahmu
Kumainkan sebuah komposisi tak berlaras
Tiada pelog, tiada salendro, tiada madenda
Kusatukan dengan alam
Membuat sonoritas terbuka di alamku
Tubuhmu meronta bersemuka denganku
Aku mengaggumi nada semu katamu
Tubuhmu adalah kecapiku
Kan kumainkan sampai retas airmataku di ujung gelap cumbumu
27 Mei 2007 kegundahanku dalam gelap
Kecapi banyak kita jumpai di pelbagai tempat di pelbagai negara. Sebutlah kecapi, sitar, siter, zithar, koto di Jepang, gucheng di Cina. Alat musik petik dengan tabung resonansi segi empat memanjang pada umumnya. Cara memainkannya adalah dengan dipetik menggunakan jari jemari kedua tangan. Ada banyak jenis kecapi dan sitar ini. Yaaa...itu urusan ahli etnomusikologi dan pengamat musik lah. Saya mah hanya ingin menuliskan kesan-kesan mendengar bunyi kecapi dan sitar.
Pada perjalanan ke Sindangbarang pada saat Seren Taun dilaksanakan (Maret 2007), saya sempat kepincut dengan permainan kecapi suling di panggung depan Rumah Bali (rumah Pak Maki). Sayang....karena hujan yang terus mengguyur, saya tidak bisa menikmati permainan kecapi suling tersebut. Alih-alih saya lebih memilih jalan-jalan ke warung Ceuceu untuk mencicipi hangat-hangat goreng pisang sekaligus minum kopi item instant. Nah....sebelum masuk ke kecapi...ngobrol-ngobrol tentang kopi niy...kemaren tanggal 26 Mei di Sindangbarang teh...saya disuguhi kopi tengah malam yang luar biasa enaknya. Entah terbuat dari komposisi apa...rasa kopi ini baru saya temui. Baru saya jumpai dan rasakan kopi hitam manis panas yang mungkin sepadan dengan nasgitel (panas legit kentel). Luar biasa! Saya dibuatnya ngejegleg sampai jam 4.30 pagi. Menurut Kang Mumu, konon, di Bogor ada yang namanya Kopi Bogor, dan hanya ada di Bogor. Mungkin kopi Bogor inilah yang saya tenggak sampai habis malam itu. Luar Biasa....
Kembali ke kecapi....
Di panggung kampung adat Sindangbarang saya melihat ada dua buah alat musik petik, yaitu sitar dan kecapi yang seperti perahu bentuknya. Kecapi indung ya? Semula saya bingung membedakan kecapi dengan sitar. Tapi setelah mendapat petunjuk tentang bentuk fisik setidaknya kesalahan mengidentifikasi kedua benda tersebut dapat diminimalisasikan.
Saya agak terperangah melihat ukuran kecapi indung yang sedemikian besarnya. Saya bayangkan...pasti berat sangat ya?!
Tak lama setelah sibuk dengan tetek bengek peralatan kamera, saya melihat abah Ucup sudah dalam keadaan PW (puosisi wuenak) di depan kacapi indung. Tak lama setelah menata pelbagai alat dan sesajen, abah mulai mendendangkan cerita pantun diiringi petikan kecapinya. Rasanya begitu bernyawa, begitu berjiwa. Petikan ekspresif penuh kejutan. Berbeda dengan petikan suara kecapi yang saya dengar siang hari Sabtu tanggal 26 Mei. Saat itu sebuah sitar dipetik oleh Kang Didi, seorang pantuner/tembanger/kecapis yang belajar main kecapi sejak tahun 89. beliau berasal dari Sindangheula Kabupaten Brebes, tentunya dekat dengan Gunung Kumbang yang legendaris itu. Sitar pun bergantian dipetik juga oleh Kang Dedy seorang kecapis/sitaris dari STSI Bandung yang sudah manggung berkolaborasi dengan musikus di panggung nasional dan internasional. Nada-nada melodius yang dipadukan dengan lantunan tembang. Saya sempat terkagum-kagum ketika mengabadikan gambar dan suara tersebut. Ada yaaa.....musik yang bisa membuat saya merasa tenang. Mungkin bisa disejajarkan dengan kelezatan hidangan buatan Ibu Maki yang Luar Biasaaaa....
Malam dini hari setelah pantun Abah Ucup selesai, tepatnya pukul 01:06, saya dan 3 orang kawan (Ocid, Risna, Mufhti) segera meminta Kang Dedy, Kang Didi, dan Kang Nata untuk mengadakan ’renungan’ ...atau lebih tepatnya memaksa mereka untuk mengadakan resital kecapi. Sebenarnya kami sudah siap menerima jawaban tidak, tapi rupanya akang-akang teh tidak bisa menolak permintaan kami yang menatap mereka dengan tatapan nanar dan memelas. Dan terjadilah apa yang harus terjadi dalam skenario. Resital kecapi plus kuliah tentang kecapi, tembang, pantun sekaligus diselingi obrolan ringan dan celoteh celetuk ga nyambung. Jaka Sembung makan ikan tongkol, ga nyambung dodol! Luar biasa.....
Menjelang pukul 2 pagi, bunyi-bunyi kecapi dimeriahkan oleh nyanyian Kang Nata yang penuh semangat membahana menyanyikan sepotong lagu....saya hanya dengar sedikit....seperti ini: Pajajaran kari ngaran, pangrango geus narik kolot, mandala wangi ngeleungit.....keren banget.
Selesai beberapa baris... pertunjukkan nyanyian dan kecapi pun dialihkan ke kang Didi. Kali ini suara Kang Didi sangat ramah menyapa telinga saya. Sedikit berbeda dengan suara Kang Nata yang menggelegar di gelap malam. Hahahha.....(Kang Nata, suara kang mah luar biasaaaa! Semangat yaaa)
Yang saya ingat waktu itu Kang Didi menyanyikan tembang yang ada kata-kata Pangapungan, Lalayang Salaka Domas, puputon kembang keraton. Saat mendengar Kang Didi nembang, terbersit pertanyaan lagi...lagi-lagi pertanyaan seperti sudah berapa lama kang Didi belajar nembang ini? Dari Brebes, masih muda tapi sudah memiliki kemampuan yang ...Luar Biasaaaaa.....
Selesai pertunjukkan singkat itu, Kak Ocid mulai mengorek informasi dari Kang Dedy tentang kecapi dan sitar. Dasar semua itu adalah bahwa kami sangat ingin mendengar komposisi ciptaan Kang Dedy yang liar. Belakangan kami sebut Kang Dedy si siter edan! Luar Biasaaaa...
Kuliah pun dimulai dengan teknik memetik. Perbedaan petikan tradisional dan yang sudah dimodifikasi. Tak lupa juga dibahas tentang iringan dan lirik saling mengisi...ngarumpaka lagu, ngalaguan rumpaka. Pun disinggung tentang
2 ekspresi dalam penciptaan lagu, yaitu ekspresi yang diciptakan untuk kebutuhan musikal atau ekspresi berupa struktur lagu untuk kebutuhan ekspresi lagu. Banyak proses dalam pembentukan lagu dalam musik tradisional Sunda, misalnya lirik hanya difungsikan semacam pemukul alat tabuh. Sudah tidak memperhatikan lagi pemenggalan kata. Tergantung kebutuhan. Namun dalam lagu tradisional masih memperhatikan keduanya. Aturan sastra maupun pelafalan.
Seperti kuliah musik layaknya. Celetuk seorang kawan pun muncul: ”belajar setaun juga ga akan bisa seedan Kang Dedy euy!” Luar Biasaaaa.....
Kami sempat bertanya apa perbedaan tembang, kawih, mamaos, pantun...dan penjelasan singkat pun terkatakan dari si pendekar siter edan ini ditambah celetukan dari Kang Didi. Terkadang Kang Nata pun menjawab semena-mena karena ga nyambung! Ada beberapa catatan seperti: Iringan yang dipakai untuk mamaos sering tidak ada beat atau beat tidak menentu. Lain dengan tembang yang punya kekonstanan aksentuasi. Diperkenalkan juga cara metik ala Mang Koko yang banyak dijadikan standar permainan kecapi di Bandung. Petikan ala Mang Koko ini paling populer, stuktur komposisinya lebih nyaman didengar. Aturan sistem nadanya lebih dianggap tidak mengganggu telinga. Karena pada petikan tradisional ada nada yang tidak sesuai dengan struktur kenong, struktur kendangan. Jadi Mang Koko sering dijadikan rujukan. Karena terasa lebih mudah dinikmati oleh telinga-telinga masa kini yang kadang sulit mendengar petikan kecapi tradisional
Kang Dedy yang belajar main kecapi sejak umur 10 tahum juga menambahkan bahwa ia mengembangkan teknik bermain kecapi, bidangnya adalah yang liar-liar. Bukan sesuatu yang baru secara teknis, namun bisa disebut mengadaptasi. Kadang mengadaptasi gucheng kecapi dari Cina. Atau memainkan kecapi dengan inspirasi dari bunyi slap bass. Ada juga memetik ala ngagenjreng gitar, seperti yang biasa dimainkan di kacapi biola atau di kacapi kopi. Kata orang dari tradisi cianjuran sering ada celetukan ”kecapi kok digucrek-gucrek”. Kang Dedy rupanya melihat ada yang bisa berkembang dari kecapi. Sebuah senar kecapi bisa menghasilkan beberapa bunyi dengan perlbagai teknik petikan yang dikembangkan...sampai ke nada mikrotone. Apapun yang bisa memungkinkan menjadi bunyi pun dieksplorasi. Sebelum membuat komposisi dicari dulu kemungkinan bunyi yang bisa terjadi. Sitar pun bisa dieksplorasi, kunci disetel bisa menghasilkan bermacam laras....salendro, pelog, madenda, bahkan laras yang digunakan oleh kecapi Cina, laras dalam gambang kromong, dan beberapa komposisi sitar dari Jawa Tengah. Luar biasaaaaa....
Malam makin larut pagi menjelah Subuh, kami pun menodong Kang Dedy memainkan satu komposisi yang kami nobatkan sebagi salah satu komposisi edan. Waktu itu kang Dedy mengambil sebuah lagu tradisional Lalayang Salaka Domas yang ia interpretasikan dengan gayanya. Entah apa yang bisa saya katakan waktu mendengar komposisi itu. Imajinasi saya tak terbebaskan, terkungkung dengan putaran nada yang bervariasi. Musik macam apa ini? Luar Biasaaa....
Saya hanya memikirkan, sepiawai ini permainan kecapinya membutuhkan waktu berapa lama untuk menguasainya? Saya berusaha mencari kekurangan dan kelemahannya, tetap belum saya temukan. Saya tonton rekaman videonya pun tetap tidak menemukan kelamahannya. Luar Biasaaaa....
Resital pun diakhiri dengan berbagai bentuk iringan sitar yang mengiringi lagu-lagu tradisional seperti Es Lilin, Jangkrik Genggong, si Jali-Jali. Saya sangat menyukai komposisi Es Lilin yang juga dinyanyikan oleh Kang Didi. Entah komposisi macam mana yang bisa sangat ramah di telinga saya. Kecapi yang dipetik kang Dedy, dan suara Kang Didi rasanya tak boleh dipisahkan lagi. Biarkan mereka menyatu pagi itu. Tarik menarik kedua kuasa, tradisional dan kontemporer sepertinya menambah kekayaan ragam budaya Sunda masa kini. Entah apakah jenis ini bisa disebut budaya Sunda? Masih adakah kontroversi antara mana yang asli tradisional dan mana yang liar? Bagaimana keduanya kelak dapat berjalan beriringan? Apakah keduanya dapat saling mengisi sesuai dengan kebutuhan masa kini? Apakah budaya lokal bisa bersaing dengan budaya global? Dapatkan yang lokal ini terus hidup dalam keglobalan? Apakah justru bisa bersatu sehingga dapat disebut glokalisasi? Hhh.....pentanyaan lagi....pertanyaan lagi....saat ini mungkin kami hanya bisa bertanya...sambil terus mencari jawabnya. Kami yakin, jawabnya ada di depan mata, hanya saja belum terlihat. Suatu saat kami yakin akan muncul jawaban jujur yang sejujurnya, asli yang seaslinya seperti kata Pak Agus Aris Munandar yang berlaiu kutip dari naskah Sunda kuno, Sirnaraga
4.30 pagi. Gelap masih yang tergelap. Dingin pun masih yang terdingin. Seusai Subuh, kami semua memilih nangkub di kamar sambil bersarung. Kami si geulis-geulis sempat diskusi, seharian ini kami banyak belajar. Sedikit tahu tentang seorang pantuner gaek si Abah Ucup, sedikit tahu tentang si siteredan, sedikit tahu tentang pantuner gunung kumbang, sedikit tahu tentang sejarah Sunda, sedikit tahu cerita bangunan istana Pajajaran, sedikit tahu tentang kisah Dewi Asri. Luar Biasaaaaa....
Sedikit tahu tapi membuat mata kami terbuka. Begitu kayanya budaya Sunda. Terbayang begitu banyaknya budaya di Indonesia...kami ada dimana? Kami milik siapa?
Abah Ucup, Kang Didi, Kang Dedy memiliki sinarnya masing-masing. Mutiara-mutiara tatar Sunda yang punya rohnya sendiri-sendiri. Perjalanan kami, ROAD TO HOLY LAND[1] akan mencoba mencari mutiara-mutiara yang masih menyembunyikan sinarannya. ROAD TO HOLY LAND akan mencari akarnya....ROAD TO THE ROOT...sepertinya akan menjadi perjalanan panjang kami-kami generasi muda kosmopolitan yang mencari akarnya....
agni malagina
[1] ROAD TO HOLY LAND ini kami gunakan hanya untuk keren-kerenan pada awalnya. Namun akhirnya ada motif untuk lebih serius menggunakan terminologi ini. Ada alasan kuat mengapa kami menggunakan kalimat Road to Holy Land. Kami mangacu pada keterangan pada tulisan Dr. Agus Aris Munandar yang berisi tentang penelusurannya terhadap situs Sindangbarang dan sekitarnya. Dalam beberapa naskah Sunda kuno disebutkan bahwa Sindangbarang disebut Lembur Luhur yang mengacu sebagai tempat suci di kaki Gunung Salak. Dr. Agus Aris Munandar juga menyebutkan dalam tulisannya, bahwa dari banyaknya punden berundak diduga pernah terjadi aktivitas keagamaan di Sindangbarang sekitar abad 14-15 an. Penemuan tersebut juga diperkuat dengan penemuan beberapa menhir, batu dakon, batu beryantra dan batu tapak kaki (tapak kaki manusia). Road to Holy Land ini mungkin alih-alih akan kami sebut dengan ‘perjalanan ke tanah suci’. Tanah suci di sini bukan mengacu pada tanah suci dalam agama Islam (Arab), atau Land of Religions di Yerusalem. Perjalanan ke tanah suci ini hanya digunakan oleh kami dalam rangka mengapresiasi dan bentuk kekaguman kami pada Sindangbarang dalam konteksnya abad 14-15an
Sindangbarang: balada pantuners sajati (versi sunda)
Catetan Sindangbarang 26 Mei 2007
Balada Pantunis Sajati
Dibere judul Balada Pantunis Sajati teh kusabab si kuring ngarasa takjub ka aki-aki anu tetep eksis ngalakonkeun cerita pantun. LUAR BIASA!
Si Aki anu biasa disebut Abah Ucup ieu teh dumukna di hiji titik pinggiran Kabupaten Bogor. Hirup nunggelis teu boga anak, teu boga dulur, teu boga kadang baraya. Ceuk ceunah mah, ayeuna si aki teh ngilu numpang di imah tatanggana. Emh….karunya pisan si Aki teh. Padahal mah ceuk beja mah Abah Ucup teh juru pantun Sunda pangkolotna di kota Bogor, jeung lamun anjeunna tilar dunya tradisi mantun di Bogor teh bakal leungit.
Ieu Pantunis sajati teh teu ngawariskeun elmuna ka antragan sahandapeunana, duka naon alasanana pangna si abah teu ngawariskeun elmuna. Ceuk beja mah aya sababaraha dugaan ngeunaan cara ngawariskeun elmu pantun. Konon pantun diwariskeun ka anak si pantunis. Ngan lamun si iue anak teh dianggap teu mampuh, si pantunis moal ngawariskeun ka eta anak. Bisa oge pantun teh diwariskeun ku pantunis ka jelema sejen anu eweuh hubungan kulawarga jeung manehna. Ngan tangtu wae dina ngawariskeun elmuna ka jelema sejen teh, si pantunis boga sababaraha tinimbangan. Bener-bener proses anu teu gampang…..LUAR BIASA!
Si kuring datang ka Sindangbarang dina tanggal 26 Mei 2007 bari mawa pesenan ti Kang Mumu pikeun ngarekam pantun Sunda anu diduga rek punah. Teu kasawang samemehna, di kampung adat Sindangbarang nu bakal diresmikeun bulan Juni 2007, si kuring papanggih jeung sababaraha urang jelema anyar nu ceuk si kuring mah eta jelema teh ibarat mutiara mustika anu moncorong di tatar Sunda. Tapi saha eta mutiara-mutiara teh bakal dicaritakeun ku si kuring saenggeus si kuring nulis ngeunaan si Abah Ucup, si Pantunis Sajati nu salawasna kukuh pengkuh mantun nepi ka ahir jaman. Tabah sampai akhir. LUAR BIASA!
Abah Ucup anu geus kolot pisan teh, tos ompong, huntuna teu nyesa hiji-hiji acan. Tapi ari ngalinting rokok mah masih sumangat keneh. Waktu mantun si Abah teh make totopong coklat-hideung, dikacamata riben, make setelan jas hideung. Trendi pisan. LUAR BIASA!
Hanjakal pisan, nu lalajo si abah mantun teh teu leuwih ti 20 urang. Nu lalajo nu tadina ngagimbung bari molotot nempo nu gual-geol nari jeung ngagondang teh, dak dumadak leungit tanpa lebih ilang tanpa karana, teuing kamarana…
Nu pasti mah nu lalajo si Abah teh beuki lila beuki ngorotan, tina 20 jadi 10, tina 10 jadi 4, kaasup si kuring pastina. Hehehe….
Jujur, si kuring bisa tetep di sisi panggung nepi ka rengse pantun teh kusabab doping kopi ti Pak Maki jeung aya geng leutik ti FIB UI jeung kang dedy (kecapis ti STSI) jeung kang Nata ti bandung batur ngawangkong ngeunaan banalitas sapopoe, ngalor-ngidul ngomongkeun eksistensialisme, komunisme, ateisme, kesadaran diri, sonoritas, musik kontemporer nepi ka tafsir mimpi….eta teh dilakukeun salila si Abah mantun. Tapi kadang-kadang si kuring sareng babaturan merhatikeun si Abah mantun bari jeung ngarasa takjub ku parigelna si Abah metik kacapi. LUAR BIASA!
12.30 liwat tengah peuting, si kuring ninggalkeun geng leutik anu keur rame-ramena madungdengkeun kasaimbangan notasi musik jeung alam. Bari sibuk ngaganti kaset minidv, si kuring terus tumanya ka not-not nu kaluar ti alunan kacapi Abah, saha sih si Abah Ucup teh? Kumaha kamekaran karirna salaku pantunis? Kumaha nu lalajo (pantuners) ngapresiasi pantun manehna? Kumaha kahirupan sapopoe neupi ka geus kolot siga kieu? Naon rencanana keur pantun dina waktu nu bakal datang? Naon kahayangna, cita-citana nu can kacumponan? Naon harepanana kana carita pantun Sunda? Naha masih aya keneh nu haying dilakukeun ku manehna? Naon usaha-usaha anu terkait keur melestarikeun jeung majukeun pantun Sunda kususna, kasenian Sunda umumna? Duka teuing….eta mah ngan saukur pananya-pananya nu kapikir ku si kuring tapi can kungsi kakedalkeun. Bisa jadi hiji mangsa aya nu bisa ngajawab eta pananya….bisa jadi oge…….LUAR BIASA!
PS: punten pisan euy, masih nyambung sebenerna,
Masih dalam proses diterjemahkan dan diselaraskan ku
Kang Mumu
DUDU: Buat kang Mumu,
Hatur tengkyuh sudah mengalihbasakeun
tulisan sayah ini. Jasamu abadi, Kang.
Balada Pantunis Sajati
Dibere judul Balada Pantunis Sajati teh kusabab si kuring ngarasa takjub ka aki-aki anu tetep eksis ngalakonkeun cerita pantun. LUAR BIASA!
Si Aki anu biasa disebut Abah Ucup ieu teh dumukna di hiji titik pinggiran Kabupaten Bogor. Hirup nunggelis teu boga anak, teu boga dulur, teu boga kadang baraya. Ceuk ceunah mah, ayeuna si aki teh ngilu numpang di imah tatanggana. Emh….karunya pisan si Aki teh. Padahal mah ceuk beja mah Abah Ucup teh juru pantun Sunda pangkolotna di kota Bogor, jeung lamun anjeunna tilar dunya tradisi mantun di Bogor teh bakal leungit.
Ieu Pantunis sajati teh teu ngawariskeun elmuna ka antragan sahandapeunana, duka naon alasanana pangna si abah teu ngawariskeun elmuna. Ceuk beja mah aya sababaraha dugaan ngeunaan cara ngawariskeun elmu pantun. Konon pantun diwariskeun ka anak si pantunis. Ngan lamun si iue anak teh dianggap teu mampuh, si pantunis moal ngawariskeun ka eta anak. Bisa oge pantun teh diwariskeun ku pantunis ka jelema sejen anu eweuh hubungan kulawarga jeung manehna. Ngan tangtu wae dina ngawariskeun elmuna ka jelema sejen teh, si pantunis boga sababaraha tinimbangan. Bener-bener proses anu teu gampang…..LUAR BIASA!
Si kuring datang ka Sindangbarang dina tanggal 26 Mei 2007 bari mawa pesenan ti Kang Mumu pikeun ngarekam pantun Sunda anu diduga rek punah. Teu kasawang samemehna, di kampung adat Sindangbarang nu bakal diresmikeun bulan Juni 2007, si kuring papanggih jeung sababaraha urang jelema anyar nu ceuk si kuring mah eta jelema teh ibarat mutiara mustika anu moncorong di tatar Sunda. Tapi saha eta mutiara-mutiara teh bakal dicaritakeun ku si kuring saenggeus si kuring nulis ngeunaan si Abah Ucup, si Pantunis Sajati nu salawasna kukuh pengkuh mantun nepi ka ahir jaman. Tabah sampai akhir. LUAR BIASA!
Abah Ucup anu geus kolot pisan teh, tos ompong, huntuna teu nyesa hiji-hiji acan. Tapi ari ngalinting rokok mah masih sumangat keneh. Waktu mantun si Abah teh make totopong coklat-hideung, dikacamata riben, make setelan jas hideung. Trendi pisan. LUAR BIASA!
Hanjakal pisan, nu lalajo si abah mantun teh teu leuwih ti 20 urang. Nu lalajo nu tadina ngagimbung bari molotot nempo nu gual-geol nari jeung ngagondang teh, dak dumadak leungit tanpa lebih ilang tanpa karana, teuing kamarana…
Nu pasti mah nu lalajo si Abah teh beuki lila beuki ngorotan, tina 20 jadi 10, tina 10 jadi 4, kaasup si kuring pastina. Hehehe….
Jujur, si kuring bisa tetep di sisi panggung nepi ka rengse pantun teh kusabab doping kopi ti Pak Maki jeung aya geng leutik ti FIB UI jeung kang dedy (kecapis ti STSI) jeung kang Nata ti bandung batur ngawangkong ngeunaan banalitas sapopoe, ngalor-ngidul ngomongkeun eksistensialisme, komunisme, ateisme, kesadaran diri, sonoritas, musik kontemporer nepi ka tafsir mimpi….eta teh dilakukeun salila si Abah mantun. Tapi kadang-kadang si kuring sareng babaturan merhatikeun si Abah mantun bari jeung ngarasa takjub ku parigelna si Abah metik kacapi. LUAR BIASA!
12.30 liwat tengah peuting, si kuring ninggalkeun geng leutik anu keur rame-ramena madungdengkeun kasaimbangan notasi musik jeung alam. Bari sibuk ngaganti kaset minidv, si kuring terus tumanya ka not-not nu kaluar ti alunan kacapi Abah, saha sih si Abah Ucup teh? Kumaha kamekaran karirna salaku pantunis? Kumaha nu lalajo (pantuners) ngapresiasi pantun manehna? Kumaha kahirupan sapopoe neupi ka geus kolot siga kieu? Naon rencanana keur pantun dina waktu nu bakal datang? Naon kahayangna, cita-citana nu can kacumponan? Naon harepanana kana carita pantun Sunda? Naha masih aya keneh nu haying dilakukeun ku manehna? Naon usaha-usaha anu terkait keur melestarikeun jeung majukeun pantun Sunda kususna, kasenian Sunda umumna? Duka teuing….eta mah ngan saukur pananya-pananya nu kapikir ku si kuring tapi can kungsi kakedalkeun. Bisa jadi hiji mangsa aya nu bisa ngajawab eta pananya….bisa jadi oge…….LUAR BIASA!
PS: punten pisan euy, masih nyambung sebenerna,
Masih dalam proses diterjemahkan dan diselaraskan ku
Kang Mumu
DUDU: Buat kang Mumu,
Hatur tengkyuh sudah mengalihbasakeun
tulisan sayah ini. Jasamu abadi, Kang.
Sindangbarang: Balada Pantuners Sejati
Balada Seorang Pantuners sejati
Hahha....saya kasi judul Balada Patuners sejati tu karena saya takjub sama seorang kakek tua yang tetap eksis membawakan pantun Siliwangi dalam keadaan buta, Luar Biasaaa!
Abah Ucup panggilannya, tinggal di suatu titik di daerah pinggiran kabupaten Bogor. Seorang diri, tiada beranak, tiada sanak saudara. Konon...sekarang malah tinggal nebeng di rumah tetangga. Sayang sekali....
Abah Ucup disinyalir sebagai pembaca pantun Sunda tertua di kota Bogor dan apabila beliau wafat maka tradisi membaca pantun tradisional akan punah. Bahkan diduga apabila si Abah Ucup wafat maka tiada lagi pembaca pantun ini. Pantuners sejati ini tidak mewariskan ilmunya pada generasi muda. Entah alasan apa yang ada dalam benak Abah Ucup sampai beliau berkeras tidak menurunkan ilmunya. Dengar punya dengar siy...ada beberapa dugaan berkenaan dengan pewarisan pantun kepada seseorang. Konon, pantun diwariskan kepada anak si pantuners. Pertalian darah yang kuat diduga menjadi faktor utama menurunkan ilmu. Namun apabila si anak ini dianggap tidak layak mendapat ilmu pantun, maka si ayah tidak akan mewariskan pada anaknya. Beberapa pendapat menyatakan bahwa pantun dapat diwariskan dari seorang pantuners kepada orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. Mungkin ada pelbagai pertimbangan yang bisa menjadikan seseorang dianggap bisa diisi ilmu pantuners. Luar Biasa....sebuah proses yang rumit.
Saya datang ke Sindang Barang pada tanggal 26 Mei 2007 dengan membawa pesanan Kang Mumu untuk merekam pembacaan pantun Sunda yang diduga nyaris punah ini. Tak sangka tak dinyana, di kampung adat Sindang Barang yang baru akan diresmikan bulan Juni 2007 tersebut saya bertemu dengan beberapa orang baru yang belakangan saya menganggapnya sebagai mutiara-mutiara yang bersinar di tanah Sunda. Tapi siapa mutiara-mutiara itu akan saya ceritakan nanti setelah saya tulis tentang Abah Ucup si Pantuners yang selalu tabah sampai akhir ini.
Abah Ucup sudah sangat tua. Tiada lagi bergigi lengkap dan utuh. Namun masih bersemangat menggulung rokok racikannya sebelum jemarinya menyentuh kecapi indung. Kerutan-kerutan di wajahnya menandakan dia yang sudah tak lagi tergolong tua, tapi sangat tua, kempot berkerut bibirnya. Ia memakai kacamata hitam ala rayban yang membuatnya tampak trendy dalam setelah baju tradisional yang ia kenakan. Sayang penampilannya ini hanya disaksikan beberapa orang dalam hitungan 20 jari tangan dan kaki. Ia ditinggalkan oleh puluhan penonton yang semula berkerumun di sekitar panggung untuk menyaksikan aksi tari-tarian dan ngagondang. Dari hitungan 20 orangan ini pun mungkin hanya hitungan 10 jari yang bertahan nangkring dalam radius 2 meter dari abah Ucup. Itu pun mungkin hanya 4 orang yang benar-benar mendampingi abah ucup dengan serius yaitu pemain gendang, pemain gong, dan seorang juru pantun dari gunung kumbang. Jujur, saya mampu bertahan di tepi panggung sampai akhir pembacaan pantun dengan perjuangan luar biasa untuk menahan kantuk. Plus ada kelompok kecil yang membicarakan tentang banalitas sehari-hari....ngalor ngidul membicarakan eksistesialisme, komunisme, ateis, kesadaran diri, sonoritas, musik kontemporer sampai tafsir mimpi...dan itu semua dilakukan selama abah Ucup nembang. Namun sesekali kami melihat abah nembang sambil terkagum-kagum dengan kecanggihan petikan kecapinya. Luar Biasaaaa!
12.30 lewat tengah malam, saya meninggalkan kelompok kecil yang sedang seru-serunya membicarakan keseimbangan notasi musik dengan alam di sekitarnya. Sambil sibuk mengganyi kaset mini dv saya selalu berpikir, siapa siy abah Ucup itu? Bagaimana perkembangan karirnya sebagai seorang Pantuners? Bagaimana orang lain mengapresiasi pantun yang ia bawakan? Bagaimana kehidupan sehari-harinya sampai ia tua kini? Apa rencananya untuk pantun di masa yang akan datang? Apa angan-angannya yang belum tercapai? Apa harapannya atas pantun Sunda? Apa masih ada yang ia ingin lakukan atau ia dapatkan? Entahlah...itu hanya pertanyaan-pertanyaan yang sempat terlintas dalam benak saya tanpa sempat terkatakan. Mungkin suatu hari ada yang bisa menjawabnya...mungkin....
agni malagina
Hahha....saya kasi judul Balada Patuners sejati tu karena saya takjub sama seorang kakek tua yang tetap eksis membawakan pantun Siliwangi dalam keadaan buta, Luar Biasaaa!
Abah Ucup panggilannya, tinggal di suatu titik di daerah pinggiran kabupaten Bogor. Seorang diri, tiada beranak, tiada sanak saudara. Konon...sekarang malah tinggal nebeng di rumah tetangga. Sayang sekali....
Abah Ucup disinyalir sebagai pembaca pantun Sunda tertua di kota Bogor dan apabila beliau wafat maka tradisi membaca pantun tradisional akan punah. Bahkan diduga apabila si Abah Ucup wafat maka tiada lagi pembaca pantun ini. Pantuners sejati ini tidak mewariskan ilmunya pada generasi muda. Entah alasan apa yang ada dalam benak Abah Ucup sampai beliau berkeras tidak menurunkan ilmunya. Dengar punya dengar siy...ada beberapa dugaan berkenaan dengan pewarisan pantun kepada seseorang. Konon, pantun diwariskan kepada anak si pantuners. Pertalian darah yang kuat diduga menjadi faktor utama menurunkan ilmu. Namun apabila si anak ini dianggap tidak layak mendapat ilmu pantun, maka si ayah tidak akan mewariskan pada anaknya. Beberapa pendapat menyatakan bahwa pantun dapat diwariskan dari seorang pantuners kepada orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. Mungkin ada pelbagai pertimbangan yang bisa menjadikan seseorang dianggap bisa diisi ilmu pantuners. Luar Biasa....sebuah proses yang rumit.
Saya datang ke Sindang Barang pada tanggal 26 Mei 2007 dengan membawa pesanan Kang Mumu untuk merekam pembacaan pantun Sunda yang diduga nyaris punah ini. Tak sangka tak dinyana, di kampung adat Sindang Barang yang baru akan diresmikan bulan Juni 2007 tersebut saya bertemu dengan beberapa orang baru yang belakangan saya menganggapnya sebagai mutiara-mutiara yang bersinar di tanah Sunda. Tapi siapa mutiara-mutiara itu akan saya ceritakan nanti setelah saya tulis tentang Abah Ucup si Pantuners yang selalu tabah sampai akhir ini.
Abah Ucup sudah sangat tua. Tiada lagi bergigi lengkap dan utuh. Namun masih bersemangat menggulung rokok racikannya sebelum jemarinya menyentuh kecapi indung. Kerutan-kerutan di wajahnya menandakan dia yang sudah tak lagi tergolong tua, tapi sangat tua, kempot berkerut bibirnya. Ia memakai kacamata hitam ala rayban yang membuatnya tampak trendy dalam setelah baju tradisional yang ia kenakan. Sayang penampilannya ini hanya disaksikan beberapa orang dalam hitungan 20 jari tangan dan kaki. Ia ditinggalkan oleh puluhan penonton yang semula berkerumun di sekitar panggung untuk menyaksikan aksi tari-tarian dan ngagondang. Dari hitungan 20 orangan ini pun mungkin hanya hitungan 10 jari yang bertahan nangkring dalam radius 2 meter dari abah Ucup. Itu pun mungkin hanya 4 orang yang benar-benar mendampingi abah ucup dengan serius yaitu pemain gendang, pemain gong, dan seorang juru pantun dari gunung kumbang. Jujur, saya mampu bertahan di tepi panggung sampai akhir pembacaan pantun dengan perjuangan luar biasa untuk menahan kantuk. Plus ada kelompok kecil yang membicarakan tentang banalitas sehari-hari....ngalor ngidul membicarakan eksistesialisme, komunisme, ateis, kesadaran diri, sonoritas, musik kontemporer sampai tafsir mimpi...dan itu semua dilakukan selama abah Ucup nembang. Namun sesekali kami melihat abah nembang sambil terkagum-kagum dengan kecanggihan petikan kecapinya. Luar Biasaaaa!
12.30 lewat tengah malam, saya meninggalkan kelompok kecil yang sedang seru-serunya membicarakan keseimbangan notasi musik dengan alam di sekitarnya. Sambil sibuk mengganyi kaset mini dv saya selalu berpikir, siapa siy abah Ucup itu? Bagaimana perkembangan karirnya sebagai seorang Pantuners? Bagaimana orang lain mengapresiasi pantun yang ia bawakan? Bagaimana kehidupan sehari-harinya sampai ia tua kini? Apa rencananya untuk pantun di masa yang akan datang? Apa angan-angannya yang belum tercapai? Apa harapannya atas pantun Sunda? Apa masih ada yang ia ingin lakukan atau ia dapatkan? Entahlah...itu hanya pertanyaan-pertanyaan yang sempat terlintas dalam benak saya tanpa sempat terkatakan. Mungkin suatu hari ada yang bisa menjawabnya...mungkin....
agni malagina
Sindangbarang: Mencari Leluhur
Sindang Barang, Bogor, 5 Mei 2006
Setelah sekian kali diajakin ke Sindang Barang, akhirnya baru 2 kali gw bisa datang ke tempat itu. terletak di kaki gunung salank...walau masih agak jauh, begitu memasuki kampung Pasir Eurih ini gw sudah merasakan hawa sejuk daerah pengunungan, memang siiiy...siang hari terasa agak panas.
Sesampainya di Sindang Barang, gw ikut rombongan yang dipimpin pak Agus Aris dan pak Maki menuju tempat yang namanya Kuta Gegelang. Pak Agus memberi penjelasan bahwa Kuta Gegelang ini disebut2 dalam naskah Wangsakerta...sebagai kerajaan pada jaman Sunda Kuno. Gw ga begitu jelas tentang masalah Sunda Kuno.
Naiiiiiik bukit yang ga begitu tinggi tapi sangat terjal cukup menguras tenaga...baru ketinggian beberapa meter saja napas sudah senen kemis dah. pemberhentian pertama adalah sebuah mata air...yang keluar diantara bebatuan. airnya jernih dan dingin, sayang sekitarnya sudah ditembok, menurut pak Maki beberapa bulan lalu masih dalam kondisi asli dan ada menhir besar. naik..naik...gw rupanya sedang menaiki punden....punden yang entah berapa panjang dan seberapa luas!!!!!!
Situs punden Kuta Gegelang ruopanya. sampai di puncak bukit, ada kelompok menhir. luar biasa...sebuah peninggalan religius jaman Sunda Kuno bisa gw liat dengan mata kepala sendiri.
ga begitu lama, kami semua (9orang) turun dari bukit itu dari sisi yang berbeda. memauki kampung dengan sawah yang menghijau. gw dengarkan pancuran air yang mengucurkan air jernih. terasa damai...
malam hari di rumah Bali, ada diskusi...ramai seru...
dan ketika gw sendiri merenungkan perjalanan hari sabtu itu, gw ingat perkataan nenek gw dari nyokap: "kita kan masih keturunan pajajaran."
waaaaaa....gw tiba-tiba teringat ucapan nenek gw itu. dan gw berpikir...mungkin gw harus mencari leluhur gw..
mungkin dari sindang barang bisa gw cari. tapi gw ga tau bagaimana memulai pencarian gw. entah apa yang terjadi nanti.. tapi gw akan mencari akar gw. gw orang indonesia, tapi gw punya leluhur yang harus gw tau...gw akan cari....jujur yang sejujurnya...asli yang seaslinya (kata pak Agus loo)
tulisan ini akan terus bersambung...sampai gw menemukan leluhur gw...:p
agni malagina
Setelah sekian kali diajakin ke Sindang Barang, akhirnya baru 2 kali gw bisa datang ke tempat itu. terletak di kaki gunung salank...walau masih agak jauh, begitu memasuki kampung Pasir Eurih ini gw sudah merasakan hawa sejuk daerah pengunungan, memang siiiy...siang hari terasa agak panas.
Sesampainya di Sindang Barang, gw ikut rombongan yang dipimpin pak Agus Aris dan pak Maki menuju tempat yang namanya Kuta Gegelang. Pak Agus memberi penjelasan bahwa Kuta Gegelang ini disebut2 dalam naskah Wangsakerta...sebagai kerajaan pada jaman Sunda Kuno. Gw ga begitu jelas tentang masalah Sunda Kuno.
Naiiiiiik bukit yang ga begitu tinggi tapi sangat terjal cukup menguras tenaga...baru ketinggian beberapa meter saja napas sudah senen kemis dah. pemberhentian pertama adalah sebuah mata air...yang keluar diantara bebatuan. airnya jernih dan dingin, sayang sekitarnya sudah ditembok, menurut pak Maki beberapa bulan lalu masih dalam kondisi asli dan ada menhir besar. naik..naik...gw rupanya sedang menaiki punden....punden yang entah berapa panjang dan seberapa luas!!!!!!
Situs punden Kuta Gegelang ruopanya. sampai di puncak bukit, ada kelompok menhir. luar biasa...sebuah peninggalan religius jaman Sunda Kuno bisa gw liat dengan mata kepala sendiri.
ga begitu lama, kami semua (9orang) turun dari bukit itu dari sisi yang berbeda. memauki kampung dengan sawah yang menghijau. gw dengarkan pancuran air yang mengucurkan air jernih. terasa damai...
malam hari di rumah Bali, ada diskusi...ramai seru...
dan ketika gw sendiri merenungkan perjalanan hari sabtu itu, gw ingat perkataan nenek gw dari nyokap: "kita kan masih keturunan pajajaran."
waaaaaa....gw tiba-tiba teringat ucapan nenek gw itu. dan gw berpikir...mungkin gw harus mencari leluhur gw..
mungkin dari sindang barang bisa gw cari. tapi gw ga tau bagaimana memulai pencarian gw. entah apa yang terjadi nanti.. tapi gw akan mencari akar gw. gw orang indonesia, tapi gw punya leluhur yang harus gw tau...gw akan cari....jujur yang sejujurnya...asli yang seaslinya (kata pak Agus loo)
tulisan ini akan terus bersambung...sampai gw menemukan leluhur gw...:p
agni malagina
Langganan:
Postingan (Atom)