Sore ini aku dan Itas duduk berlama-lama di depan computer dengan tujuan memuaskan hasrat ingin tau. Itas ingin tau perolehan suara Obama, aku hanya ingin tau posisi facebook saat ini. Seperti biasa kami duduk manis sambil mendengar lagu cantik dari Chris Botti atau Andrea Bochelli. Lagu-lagu serius selalu kami alokasikan untuk jam-jam pagi siang dan sore. Namun apabila sudah lewat maghrib, kadang aku iseng untuk menambahkan lagu-lagu bernuansa lokal seperti campursari dan tarling. Bukan menambah, tepatnya mengganti posisi penyanyi bertaraf internasional dengan seorang Dewi Kirana atau Aas Rolani penyanyi tenar tarling Cirebon – Indramayu. Terkadang aku juga menambahkan Bossanova Jawa sebagai pemanis. Lagu-lagu semacam Mabok bae, Yen Ing Tawan Ono Lintang, Wong lanang lara atine, Pisah ning bandara dan lain-lain.
Terlepas dari musik yang ‘brutal’ dan pandangan miring tentang lagu daerah, aku sangat menyukai lirik lagu-lagunya. Dekat, sangat dekat dengan kehidupan kita. Jatuh cinta, patah hati, peselingkuhan, pertemanan, perjalanan, bahkan perpisahan. Namun ada beberapa lagu yang sangat ‘eye catching’ buat aku. Coba tengok judul lagu campursari yang terkenal macam Stasiun Solo Balapan. Disusul dengan campursari Ing Terminal Tirtonadi. Naah…baru saja…kami menemukan donlotan gratis tarling yang berjudul Bandara Soekarno Hatta. Itas sontak tertawa sambil berkomentar pendek,”pasti tentang TKI.” Dan benar saja dugaannya, lagu tesebut bercerita tentang perpisahan dua sejoli di bandara Soekarno Hatta. Cinta pun kandas karena sang kekasih harus pergi ke luar negeri salah satu kalimatnya: lelaki pujaan ati, sampai kapan aku ngenteni…waktu pisahan nangis karo rangkulan neng bandara sukarno hatta, banyu mata tumiba ora krasa….kapan waktune balik neng tanah jawa….tapi apa daya nerima ning kanyataan sing negeri sebrang uwis kawinan. Bandara sukarno hatta cuma jadi saksi kehancuran kita…di bulan robiul akhir cinta suci neng bandara berakhir!”
Wow…bagaimana aku tak terharu mendengar lagu tersebut. Geli awalnya menyimak lagu tersebut didendangkan. Gelak tawa pun tak puasnya mengocok perut ini. Sangat menghibur…sangat-sangat menghibur. Sejenak aku lupa akan penatnya hari ini. Tarling…oh tarling… Cintaku kandas di bandara Soekarno Hatta!
salam,
agni malagina
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 November 2008
Kenanganku bersama Si Pitung
Masyarakat Betawi di Jakarta tak dapat memungkiri bahwa dirinya adalah bagian dari legenda si Pitung. Sosok fenomenal pemberani yang membela rakyat kecil jaman kolonial Belanda ini tetap mashyur sampai saat ini. Kisah-kisah perjuangan tangguh si Pitung pun sudah beberapa kali naik tayang ke layar kaca dan layar lebar. Si Pitung benar-benar memiliki pesona dalam hati penggemarnya. Apalagi sosok si Pitung digambarkan sebagai sosok pemuda gagah berani asal Rawa belong, rajin mengaji, dan fasih berlaga dengan ilmu silatnya. Itulah si Pitung.
Lain Betawi lain Jogjakarta. Si Pitung yang saya jumpai di Jogja Agustus 2008 lalu memang teruji ketangguhannya. Itulah si Yahama XS V1 Sakura yang berjaya pada tahun 1970-an. Dinamai si Pitung karena mengambil tahun lahirnya 1970-an, dalam bahasa Jawa yaitu taun pitung puluh (tahun 70-an), disebutlah si Pitung. Jujur waktu pertama kali melihat perawakannya, saya sempat ragu apakah saya dan kawan saya sanggup mengendarai motor yang besarannya tergolong mungil. Tidak seimbang dengan besaran bobot kami berdua. Tampaknya motor itu hanya cocok dikendarai model bertubuh langsing saja. Pertama kali mendorong si Pitung keluar garasi rumah, saya merasa sudah mengalami peristiwa batin yang spektakuler. Saya merasakan kekuatan hati yang yakin sekali bahwa saya mampu mengendarai si Pitung. Perasaan itu masih bertahan sampai waktunya men-starter si Pitung. Pada saat itulah, keyakinan saya rontok seketika. Saya tidak mampu menggenjot starter si Pitung. Berkali-kali...saya gagal. Mengetahui saya mulai putus asa, ibu saya, Arahmaiani, datang membantu. Dalam sekali starter, dia mampur menghidupkan si Pitung dari mati surinya. Akhirnya saya terpacu untuk berjuang. Ibu saya saja bisa, kenapa saya tidak bisa?
Setelah itu, kami memulai petualangan sambil mengendarai si Pitung. Keliling kota Jogja mengendarai si Pitung bagi saya merupakan pengalaman hidup yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bagaimana tidak? Berdua kami mengendarainya, untuk mengejar sepeda kayuh pun tak bisa. Entah, kesalahan ada dimana?! Apakah sepedanya yang terlalu cepat dikayuh? Entah karena si Pitung memang sudah renta sehingga tak lagi mampu ngebut? Atau mungkin karena saya memang tak mampu mengendalikan si Pitung? Atau mungkin Tuhan memang tidak mengijinkan saya ngebut? Entahlah. Ketakutan kami adalah menghadapi keramaian jalan raya. Kami sangat percaya diri ketika mengendarai si Pitung di jalanan kampung dekat rumah. Ketakutan pun muncul ketika kami sadar bahwa kami akan segera melewati jalan raya. Benar saja, keberanian saya langsung menciut melihat ramainya lalu lintas jalan raya. Apalagi ketika berpacu menyeberangi perempatan ringroad yang cukup panjang jalurnya. Kami berteori untuk menyeberangi perempatan itu kami harus mencondongkan ke depan untuk mempercepat lajunya si Pitung. Namun rupanya teori kami salah. Sudah mencondongkan badan ke depan sedemikian rupa, namun si Pitung tak juga lari kencang. Dan kami kecewa. Kekecewaan rupanya tidak berlanjut lama karena saya kembali menguasai keadaan, walaupun tetap dalam keadaan tidak mampu mengejar becak.
Keliling sambil mampir-mampir belanja-belanji makanan kecil pun menjadi agenda utama perjalanan siang itu. Cukup menghibur sekaligus melupakan kekecewaan karena kurang gesit mengendarai si Pitung. Tradisi investigasi kuliner kali ini tak kalah dahsyat dengan perburuan makanan kampung di Ciptagelar. Dimulai dengan makan siang di Pia-Pia dilanjutkan makan cemilan di Malioboro. Canggiiih…menu sate manis nan berlemak-lemak ditambah martabak telur cihuy merupakan kombinasi ampuh untuk menghibur hati saya yang remuk redam karena gagal menguasai si Pitung. Malam hari, kami singgah di sebuah restoran berbasis makanan organik. Sekaligus bertemu kawan lama yang sering saya panggil Brojo, Johanes Herlijanto, yang datang tiba-tiba untuk memeberi kejutan pada saya. Bro, sayang…gw udah tau duluaaaan!
Malam itu diselingi obrolan-obrolan yang tergolong bukan obrolan penting. Namun saya merasakan hal yang sangat indah. Persahabatan adalah hal yang berharga. Saya pun kembali mengingat banyak peristiwa dalam kancah pertemanan saya. Ada beberapa yang saya kecewakan, tapi ada pula beberapa orang yang jelas mengecewakan saya. Saya pikir itu adalah bentuk dinamika pergaulan. Sangat indah. Malampurna empurna ditutup dengan salam perpisahan. Naah..lagi-lagi kami harus mengendarai si Pitung untuk menuju rumah. Saat inilah, kami dipecundangi oleh si Pitung. Pukul 11 malam, hampir tengah malam, ban depan si Pitung bocor. Untunglah ada pemuda harapan bangsa yang baik hati membukakan pintu bengkelnya dan mengganti ban depan si Pitung. Sekejap, si Pitung kembali prima.
Dan kami pun pulang dengan perasaan bangga. Melewati jejak-jejak reruntuhan gempa Jogja 2006. masih tampak bangunan yang tetap teronggok tiada tersentuh program renovasi dan rehabilitasi. Mungkin memang dibiarkan untuk dijadikan memoar. Kenangan atas derita jiwa raga dua tahun lalu memang tidak akan bisa dilupakan….
Salam, Agni malagina
Lain Betawi lain Jogjakarta. Si Pitung yang saya jumpai di Jogja Agustus 2008 lalu memang teruji ketangguhannya. Itulah si Yahama XS V1 Sakura yang berjaya pada tahun 1970-an. Dinamai si Pitung karena mengambil tahun lahirnya 1970-an, dalam bahasa Jawa yaitu taun pitung puluh (tahun 70-an), disebutlah si Pitung. Jujur waktu pertama kali melihat perawakannya, saya sempat ragu apakah saya dan kawan saya sanggup mengendarai motor yang besarannya tergolong mungil. Tidak seimbang dengan besaran bobot kami berdua. Tampaknya motor itu hanya cocok dikendarai model bertubuh langsing saja. Pertama kali mendorong si Pitung keluar garasi rumah, saya merasa sudah mengalami peristiwa batin yang spektakuler. Saya merasakan kekuatan hati yang yakin sekali bahwa saya mampu mengendarai si Pitung. Perasaan itu masih bertahan sampai waktunya men-starter si Pitung. Pada saat itulah, keyakinan saya rontok seketika. Saya tidak mampu menggenjot starter si Pitung. Berkali-kali...saya gagal. Mengetahui saya mulai putus asa, ibu saya, Arahmaiani, datang membantu. Dalam sekali starter, dia mampur menghidupkan si Pitung dari mati surinya. Akhirnya saya terpacu untuk berjuang. Ibu saya saja bisa, kenapa saya tidak bisa?
Setelah itu, kami memulai petualangan sambil mengendarai si Pitung. Keliling kota Jogja mengendarai si Pitung bagi saya merupakan pengalaman hidup yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bagaimana tidak? Berdua kami mengendarainya, untuk mengejar sepeda kayuh pun tak bisa. Entah, kesalahan ada dimana?! Apakah sepedanya yang terlalu cepat dikayuh? Entah karena si Pitung memang sudah renta sehingga tak lagi mampu ngebut? Atau mungkin karena saya memang tak mampu mengendalikan si Pitung? Atau mungkin Tuhan memang tidak mengijinkan saya ngebut? Entahlah. Ketakutan kami adalah menghadapi keramaian jalan raya. Kami sangat percaya diri ketika mengendarai si Pitung di jalanan kampung dekat rumah. Ketakutan pun muncul ketika kami sadar bahwa kami akan segera melewati jalan raya. Benar saja, keberanian saya langsung menciut melihat ramainya lalu lintas jalan raya. Apalagi ketika berpacu menyeberangi perempatan ringroad yang cukup panjang jalurnya. Kami berteori untuk menyeberangi perempatan itu kami harus mencondongkan ke depan untuk mempercepat lajunya si Pitung. Namun rupanya teori kami salah. Sudah mencondongkan badan ke depan sedemikian rupa, namun si Pitung tak juga lari kencang. Dan kami kecewa. Kekecewaan rupanya tidak berlanjut lama karena saya kembali menguasai keadaan, walaupun tetap dalam keadaan tidak mampu mengejar becak.
Keliling sambil mampir-mampir belanja-belanji makanan kecil pun menjadi agenda utama perjalanan siang itu. Cukup menghibur sekaligus melupakan kekecewaan karena kurang gesit mengendarai si Pitung. Tradisi investigasi kuliner kali ini tak kalah dahsyat dengan perburuan makanan kampung di Ciptagelar. Dimulai dengan makan siang di Pia-Pia dilanjutkan makan cemilan di Malioboro. Canggiiih…menu sate manis nan berlemak-lemak ditambah martabak telur cihuy merupakan kombinasi ampuh untuk menghibur hati saya yang remuk redam karena gagal menguasai si Pitung. Malam hari, kami singgah di sebuah restoran berbasis makanan organik. Sekaligus bertemu kawan lama yang sering saya panggil Brojo, Johanes Herlijanto, yang datang tiba-tiba untuk memeberi kejutan pada saya. Bro, sayang…gw udah tau duluaaaan!
Malam itu diselingi obrolan-obrolan yang tergolong bukan obrolan penting. Namun saya merasakan hal yang sangat indah. Persahabatan adalah hal yang berharga. Saya pun kembali mengingat banyak peristiwa dalam kancah pertemanan saya. Ada beberapa yang saya kecewakan, tapi ada pula beberapa orang yang jelas mengecewakan saya. Saya pikir itu adalah bentuk dinamika pergaulan. Sangat indah. Malampurna empurna ditutup dengan salam perpisahan. Naah..lagi-lagi kami harus mengendarai si Pitung untuk menuju rumah. Saat inilah, kami dipecundangi oleh si Pitung. Pukul 11 malam, hampir tengah malam, ban depan si Pitung bocor. Untunglah ada pemuda harapan bangsa yang baik hati membukakan pintu bengkelnya dan mengganti ban depan si Pitung. Sekejap, si Pitung kembali prima.
Dan kami pun pulang dengan perasaan bangga. Melewati jejak-jejak reruntuhan gempa Jogja 2006. masih tampak bangunan yang tetap teronggok tiada tersentuh program renovasi dan rehabilitasi. Mungkin memang dibiarkan untuk dijadikan memoar. Kenangan atas derita jiwa raga dua tahun lalu memang tidak akan bisa dilupakan….
Salam, Agni malagina
Curhatan seorang pemudi harapan bangsa yang ingin mengabdi...
Tadi ada edaran daftar NPWP bagi WP (wajib pajak) yang belum punya NPWP. Saya tidak pernah berniat menjadi WP yang punya NPWP karena merasa tidak punya penghasilan tetap...(tapi yang penting tetap berpenghasilan..kaaan?).Semula lembaran kertas edaran di FIB UI itu hanya sebatas edaran yang saya pikir tak perlu disentuh..karena tak akan pernah kesampaian. Ibaratnya bagai pungguk merindukan bulan laah. Tapi...mendengarkan ada iming-iming BEBAS FISKAL...langsunglah diriku menarik lembaran edaran tersebut dan membaca pasal yang tertera...(dengan tampang serius..tapi ga pernah ngerti apa artinga)...tentu saja sambil manggut-manggut...Sekejap saya berpikir...apakah saya perlu menjadi WP yang punya NPWP. padahal penghasilan pun tak punya. status pegawai pun tiada.
sedih rasanya mengingat...mengingat...untuk menjadi pegawai di sini harus bertitel DOKTOR. Kebijakan itu tiba-tiba turun..rasanya...rasanya...seperti dihantam berton-ton palu godam. rasanya tiada lagi kesempatanku untuk mengabdi. tapi...Saya pikir...mengabdi itu bisa dimana saja. dimana saja..menjadi guru bisa dimana saja...dimana saja...dan saya siap...mengabdi dimana saja yang membutuhkan. hhh...sedihnya tak terkirakan jika memikirkan akan meninggalkan tempat tercinta ini..tapi....supaya bisa memiliki NPWP...rasanya saya harus pergi. Menurut Itas, adik kelas saya...rasanya ga lucu juga kalau tidak punya penghasilan tapi tetap kena potongan pajak. Nagara mana yang memajaki warganya yang tidak punya penghasilan?hhh......negara yang aneh...jika kejadian itu terjadi....Saya memikirkan untuk mengabdi kepada negara dan bangsa. Sudah hampir 4 tahun...dan saya sangat mencintai bumi ini.
Sangat...sangat cinta...di sini saya belajar banyak tentang hidup, dan masih harus belajar yaaaa. Saya pun mengenal banyak kawan...kawan yang baik dan saya sayangi. Saya punya banyak ibu yang mencintai saya di kampus ini. Saya punya ayah-ayah yang memperhatikan saya di kampus ini. Saya punya kakak dan adik yang saya sayangi di kampus ini.....tapi saya harus belajar....harus belajar untuk berpisah...pelan-pelan...supaya bisa dapat NPWP...mungkin...tapi..saya tetap berharap..bisa tetap berada di kampus ini, dan mempunyai NPWP di kampus ini...
agni malagina
sedih rasanya mengingat...mengingat...untuk menjadi pegawai di sini harus bertitel DOKTOR. Kebijakan itu tiba-tiba turun..rasanya...rasanya...seperti dihantam berton-ton palu godam. rasanya tiada lagi kesempatanku untuk mengabdi. tapi...Saya pikir...mengabdi itu bisa dimana saja. dimana saja..menjadi guru bisa dimana saja...dimana saja...dan saya siap...mengabdi dimana saja yang membutuhkan. hhh...sedihnya tak terkirakan jika memikirkan akan meninggalkan tempat tercinta ini..tapi....supaya bisa memiliki NPWP...rasanya saya harus pergi. Menurut Itas, adik kelas saya...rasanya ga lucu juga kalau tidak punya penghasilan tapi tetap kena potongan pajak. Nagara mana yang memajaki warganya yang tidak punya penghasilan?hhh......negara yang aneh...jika kejadian itu terjadi....Saya memikirkan untuk mengabdi kepada negara dan bangsa. Sudah hampir 4 tahun...dan saya sangat mencintai bumi ini.
Sangat...sangat cinta...di sini saya belajar banyak tentang hidup, dan masih harus belajar yaaaa. Saya pun mengenal banyak kawan...kawan yang baik dan saya sayangi. Saya punya banyak ibu yang mencintai saya di kampus ini. Saya punya ayah-ayah yang memperhatikan saya di kampus ini. Saya punya kakak dan adik yang saya sayangi di kampus ini.....tapi saya harus belajar....harus belajar untuk berpisah...pelan-pelan...supaya bisa dapat NPWP...mungkin...tapi..saya tetap berharap..bisa tetap berada di kampus ini, dan mempunyai NPWP di kampus ini...
agni malagina
dalam kisah 'sang kekasih'
Perkenalanku dengan sosok Didi Wiardi berasal dari perjumpaan kami di Kampung Budaya Sidnangabrang, Bogor, tahun 2007. Perkenalan sesaat yang dilanjutkan dengan recital kecapi Kang Dedy Hadianda. Sayang, Ka Didi tidak memainkan kecapi malam itu. Yang kuiingat hanya ketika dia menyanyi Langlayang Salaka Domas dan Es Lilin. Dahsyat…
Hamper beberapa bulan tidak ada kontak dengan kecapis dari Gunung Kumbang ini. Hanya berkirim kabar sesaat. Sampai akhirnya kami bertemu kembali pada tanggal 31 Desember 2007. di Cigugur – Kuningan pada saat acara Seren Taun. Pertemuan singkat….tapi membawa kesan mendalam untukku.
15 Agustus 2008, saat 40 hari meninggalnya Ka Didi merupakan salah satu hari berat untukku. Dalam kebudayaan Sunda…40 hari adalah hari ketika roh sudah tidak dapat berhubungan dengan dunia lagi…artinya…sepenuhnya Ka Didi tidak ada lagi…
Ketika aku berada di Bandung, menjelang pulang ke Jakarta, di tengah keramaian….sepi terasa. Sepi yang tersepi. Entah bagaimana menggambarkan suasana saat itu. Biasanya, Bandung merupakan kota tujuanku. Tujuanku bertemu teman-teman, tujuanku bertemu Ka Didi walau hanya untuk bertengkar soal nama BOGOR. Sekarang…tidak ada tujuan lagi. Hanya sepi kurasa ketika datang ke Bandung…entah sampai kapan…
Sampai satu titik aku merasa....ini sudah tidak benar lagi. Setiap kesempatan selalu kudengar lagu-lagu yang dimainkan Ka Didi...hanya bisa merasakan panas mata ini...sakit hati...
Aku bertanya pada seorang sahabat sekaligus Kakakku tersayang....Kak O
Banyak hal yang kudapat...terutama untuk mendinginkan hatiku....
Percakapan tentang rasa...
Untuknya ”cinta platonis” itu indah, seperti kisah Di Bawah Lindungan Kabah-nya HAMKA atau Dr. Zhivago.
Untukku ”cinta platonis” itu menyakitkan...tapi rasa ingin memiliki pun sangat egois....sampai kupikir lagi...ingin memilikinya adalah yang manusiawi.
Hamka bertutur ”manusia tetaplah manusia. Nasibnya ada di tangannya sendiri, tapi tak jarang manusia tak berdaya dengan kekuatan ’jodoh’ dan ’kematian’. Itulah manusia.”
Aku terus berpikir...benarkah rasa sepi ini dapat hilang? Sebagian dari diriku sudah hilang bersamaan dengan meninggalnya Ka Didi. Rasanya aku patah yang terpatah. Aku sadar, satu yang harus disiapkan adalah saatnya berpisah dengan yang kita sayangi. Saat senang akan segera disusul sedih. Dialektika senang sedih tidak akan pernah lepas dari diri kita. Saat seperti ini Kak O mengatakan, ”sayang, kita sedang menjalani misteri hidup yang tidak bisa dijawab. Banyak ketidakpastian.”
Ya...benar...sedih dan senang adalah sepasang kekasih. Ku tahu, sekarang masih terasa sakit dan akan kambuh sesekali dengan dahsyatnya...tak akan kulupa...jangan dilupa sang masa lalu....'sang kekasih'
Hamper beberapa bulan tidak ada kontak dengan kecapis dari Gunung Kumbang ini. Hanya berkirim kabar sesaat. Sampai akhirnya kami bertemu kembali pada tanggal 31 Desember 2007. di Cigugur – Kuningan pada saat acara Seren Taun. Pertemuan singkat….tapi membawa kesan mendalam untukku.
15 Agustus 2008, saat 40 hari meninggalnya Ka Didi merupakan salah satu hari berat untukku. Dalam kebudayaan Sunda…40 hari adalah hari ketika roh sudah tidak dapat berhubungan dengan dunia lagi…artinya…sepenuhnya Ka Didi tidak ada lagi…
Ketika aku berada di Bandung, menjelang pulang ke Jakarta, di tengah keramaian….sepi terasa. Sepi yang tersepi. Entah bagaimana menggambarkan suasana saat itu. Biasanya, Bandung merupakan kota tujuanku. Tujuanku bertemu teman-teman, tujuanku bertemu Ka Didi walau hanya untuk bertengkar soal nama BOGOR. Sekarang…tidak ada tujuan lagi. Hanya sepi kurasa ketika datang ke Bandung…entah sampai kapan…
Sampai satu titik aku merasa....ini sudah tidak benar lagi. Setiap kesempatan selalu kudengar lagu-lagu yang dimainkan Ka Didi...hanya bisa merasakan panas mata ini...sakit hati...
Aku bertanya pada seorang sahabat sekaligus Kakakku tersayang....Kak O
Banyak hal yang kudapat...terutama untuk mendinginkan hatiku....
Percakapan tentang rasa...
Untuknya ”cinta platonis” itu indah, seperti kisah Di Bawah Lindungan Kabah-nya HAMKA atau Dr. Zhivago.
Untukku ”cinta platonis” itu menyakitkan...tapi rasa ingin memiliki pun sangat egois....sampai kupikir lagi...ingin memilikinya adalah yang manusiawi.
Hamka bertutur ”manusia tetaplah manusia. Nasibnya ada di tangannya sendiri, tapi tak jarang manusia tak berdaya dengan kekuatan ’jodoh’ dan ’kematian’. Itulah manusia.”
Aku terus berpikir...benarkah rasa sepi ini dapat hilang? Sebagian dari diriku sudah hilang bersamaan dengan meninggalnya Ka Didi. Rasanya aku patah yang terpatah. Aku sadar, satu yang harus disiapkan adalah saatnya berpisah dengan yang kita sayangi. Saat senang akan segera disusul sedih. Dialektika senang sedih tidak akan pernah lepas dari diri kita. Saat seperti ini Kak O mengatakan, ”sayang, kita sedang menjalani misteri hidup yang tidak bisa dijawab. Banyak ketidakpastian.”
Ya...benar...sedih dan senang adalah sepasang kekasih. Ku tahu, sekarang masih terasa sakit dan akan kambuh sesekali dengan dahsyatnya...tak akan kulupa...jangan dilupa sang masa lalu....'sang kekasih'
Kata pahlawan dalam KBBI mempunyai beberapa arti
1. orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebanaran; pejuang yang gagah berani
2. ....bakiak: suami yang sangat patuh (takut) pada istrimya;
3. ....kesiangan 1.orang yang mau bekerja (berjuang dsb) setelah peperangan (masa sulit) berakhir; 2.orang yang ketika masa perjuangan tidakmelakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang;
Naaah...gw sekarang lagi seneng banget membahas soal pahlawan...
Bagi gw pahlawan itu adalah orang yang sangat berjasa pada diri gw, pada negara dan bangsa juga. Pahlawan merupakan ’label’ yang sangat membanggakan...baik disadari atau tidak, ’label’ pahlawan akan membawa seseorang pada tingkat pemahaman yang lebih bijak dari sebelumnya. Yaaa tidak menutup kemungkinan ’label’ pahlawan justru akan menjerumuskan seseorang kedalam dunia ’somse (sombong sekali)’. Banyak pahlawan yang sudah berjasa di negeri Indonesia yang dulu punya slogan makmur gemah ripah loh jinawi. Coba tengok pahlawan masa lalu ketika nama ’Indonesia’ belum ada. Lihat pahlawan-pahlawan yang ada pada masa Nusantara berjaya. Evolusi...perjalanan panjan sejarah Nusantara ditaburi nama-nama besar pahlawan Nusantara...yang tidak boleh kita lupakan...betapapun ada ’luka’ bagi sekelompok masyarakat..tetap saja tokoh/bangsa itu adalah bagian dari fakta sejarah.
Jaman dulu orang bilang, bahwa pahlawan ada lah orang-orang yang berjuang mengangkat sejata untuk memperjuangkan kemerdekaan. Lihatlah pada masa kemerdekaan. Entah berapa banyak pahlawan yang berjuang untuk memperebutkan kemerdekaan Indonesia itu..dan sekarang jasad mereka banyak dimakamkan di taman makam pahlawan. Ada beberapa nama yang sangat terkenal dan masuk dalam daftar nama Pahlawan Nasional. Pada tahun 1966 pun muncul istilah Pahlawan Revolusi.
Seiring dengan perkembangan jaman, rupanya kata pahlawan juga digunakan untuk menyebut orang-orang berjasa di bidang tertentu. Contohnya guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa (agak ngenes..tapi ya gimana lagi). Atau coba tengok loper koran yang disebut sebagai pahlawan informasi. Ada lagi pahlawan lumba-lumba adalah sebutan bagi orang-orang yang berjuang di dunia pelestarian lumba-lumba di laut Indonesia. Mungkin masih banyak label-label pahlawan yang beredar di masyarakat luas. Kata ’pahlawan’ agaknya mampu menjadi semacam magnet untuk mempergagah imaji diri seseorang sampai suatu titik banyak orang yang ingin disebut sebagai pahlawan...atau beberapa juga malah menjadi ’SOK PAHLAWAN”
Kata ’SOK’ dalam KBBI memiliki arti
1. 1.kaus kaki; 2.penyambung pipa besi
2. ---syok
3. berlagak (suka pamer, dsb); merasa mampu dsb tetapi sebenarnya tidak.
Pemirsa....eh Pembaca...
Saat kata ’Pahlawan’ berdisi sendiri dia tampak gagah dan berwibawa...tetapi lihatlah jika kata ’pahlawan’ besanding menikah dengan kata ’sok’.....
Alhasil...kesan hina dina nista papa pun tampa...(istilah ini sebenarnya sangat ekstrim..tapi ya sudahlaaah)
”Sok Pahlawan” agaknya dekat dengan kata ’pahlawan kesiangan’...anyway busway....tetap memiliki arti yang berbeda. Menjadi pahlawan kesiangan tentu ada kesan tersendiri...semacam tertinggal dari peradaban deh..atau ambilah contoh 'polisi-polisi India' yang selalu datang pada akhir cerita film India. itu juga bisa dikategorikan pada pahlawan kesiangan.
Tapi melakukan tindak ’sok pahlawan’ agaknya dapat menimbulkan kerusuhan di jagat mayapada dan jagat persilatan nusantara.
Betapa tidak...misalnya A seorang yang ’sok pahlawan’ ingin mempunyai nilai bagus di mata sahabatnya ( si sahabat ini dengan inisial B) mampu membuka urusan orang lain yang berhubungan dengan B tanpa ada hati nurani. Entah dengan maksud apa...jatuhnya bisa jadi fitnah. Informasi dari A ke B pasti banyak terjadi distorsi yang bisa merugikan C (orang yang dibicarakan). Waaah...penjelasan ini agak ribet karena saya hanya merekam pembicaraan teman saya yang tertohok oleh gejala ’SOK PAHLAWAN’.
Belakangan saya dengan kawan yang tertohok ini mempunyai jalan hidup yang lain, jauh dari rencana hidupnya yang semula. Dia menganggap A mempunyai peran besar dalam merubah rencana hidupnya. Dia pun menganggap A yang ’Sok Pahlawan’ itu sebagai seseorang yang comel dan suka mencampuri urusan orang lain. Si C mengaku bisa saja membuka cerita-cerita minus si A..tapi C beranggapan bahwa hubungan antar manusia bukanlah hubungan saling menjatuhkan. Energi marah dendam pun harus disalurkan pada ruang dan waktu yang tepat...menjadi bentuk kreativitas yang dapat dihargai oleh manusia lain. Banyak faktor X yang harus diperhatikan dalam memandang masalah yang dihadapi rekan saya. Begitu pula dalam menghadapi masalah yang lain.
Dari peristiwa ”SOK PAHLAWAN” tentu bisa diambil hikmahnya...semoga...kita bisa belajar dari sikap ”PAHLAWAN” dan ”SOK PAHLAWAN”
Salam hangat
Agni malagina,
Pengamat kata yg masih terjebak dalam banalitas sehari-hari
1. orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebanaran; pejuang yang gagah berani
2. ....bakiak: suami yang sangat patuh (takut) pada istrimya;
3. ....kesiangan 1.orang yang mau bekerja (berjuang dsb) setelah peperangan (masa sulit) berakhir; 2.orang yang ketika masa perjuangan tidakmelakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang;
Naaah...gw sekarang lagi seneng banget membahas soal pahlawan...
Bagi gw pahlawan itu adalah orang yang sangat berjasa pada diri gw, pada negara dan bangsa juga. Pahlawan merupakan ’label’ yang sangat membanggakan...baik disadari atau tidak, ’label’ pahlawan akan membawa seseorang pada tingkat pemahaman yang lebih bijak dari sebelumnya. Yaaa tidak menutup kemungkinan ’label’ pahlawan justru akan menjerumuskan seseorang kedalam dunia ’somse (sombong sekali)’. Banyak pahlawan yang sudah berjasa di negeri Indonesia yang dulu punya slogan makmur gemah ripah loh jinawi. Coba tengok pahlawan masa lalu ketika nama ’Indonesia’ belum ada. Lihat pahlawan-pahlawan yang ada pada masa Nusantara berjaya. Evolusi...perjalanan panjan sejarah Nusantara ditaburi nama-nama besar pahlawan Nusantara...yang tidak boleh kita lupakan...betapapun ada ’luka’ bagi sekelompok masyarakat..tetap saja tokoh/bangsa itu adalah bagian dari fakta sejarah.
Jaman dulu orang bilang, bahwa pahlawan ada lah orang-orang yang berjuang mengangkat sejata untuk memperjuangkan kemerdekaan. Lihatlah pada masa kemerdekaan. Entah berapa banyak pahlawan yang berjuang untuk memperebutkan kemerdekaan Indonesia itu..dan sekarang jasad mereka banyak dimakamkan di taman makam pahlawan. Ada beberapa nama yang sangat terkenal dan masuk dalam daftar nama Pahlawan Nasional. Pada tahun 1966 pun muncul istilah Pahlawan Revolusi.
Seiring dengan perkembangan jaman, rupanya kata pahlawan juga digunakan untuk menyebut orang-orang berjasa di bidang tertentu. Contohnya guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa (agak ngenes..tapi ya gimana lagi). Atau coba tengok loper koran yang disebut sebagai pahlawan informasi. Ada lagi pahlawan lumba-lumba adalah sebutan bagi orang-orang yang berjuang di dunia pelestarian lumba-lumba di laut Indonesia. Mungkin masih banyak label-label pahlawan yang beredar di masyarakat luas. Kata ’pahlawan’ agaknya mampu menjadi semacam magnet untuk mempergagah imaji diri seseorang sampai suatu titik banyak orang yang ingin disebut sebagai pahlawan...atau beberapa juga malah menjadi ’SOK PAHLAWAN”
Kata ’SOK’ dalam KBBI memiliki arti
1. 1.kaus kaki; 2.penyambung pipa besi
2. ---syok
3. berlagak (suka pamer, dsb); merasa mampu dsb tetapi sebenarnya tidak.
Pemirsa....eh Pembaca...
Saat kata ’Pahlawan’ berdisi sendiri dia tampak gagah dan berwibawa...tetapi lihatlah jika kata ’pahlawan’ besanding menikah dengan kata ’sok’.....
Alhasil...kesan hina dina nista papa pun tampa...(istilah ini sebenarnya sangat ekstrim..tapi ya sudahlaaah)
”Sok Pahlawan” agaknya dekat dengan kata ’pahlawan kesiangan’...anyway busway....tetap memiliki arti yang berbeda. Menjadi pahlawan kesiangan tentu ada kesan tersendiri...semacam tertinggal dari peradaban deh..atau ambilah contoh 'polisi-polisi India' yang selalu datang pada akhir cerita film India. itu juga bisa dikategorikan pada pahlawan kesiangan.
Tapi melakukan tindak ’sok pahlawan’ agaknya dapat menimbulkan kerusuhan di jagat mayapada dan jagat persilatan nusantara.
Betapa tidak...misalnya A seorang yang ’sok pahlawan’ ingin mempunyai nilai bagus di mata sahabatnya ( si sahabat ini dengan inisial B) mampu membuka urusan orang lain yang berhubungan dengan B tanpa ada hati nurani. Entah dengan maksud apa...jatuhnya bisa jadi fitnah. Informasi dari A ke B pasti banyak terjadi distorsi yang bisa merugikan C (orang yang dibicarakan). Waaah...penjelasan ini agak ribet karena saya hanya merekam pembicaraan teman saya yang tertohok oleh gejala ’SOK PAHLAWAN’.
Belakangan saya dengan kawan yang tertohok ini mempunyai jalan hidup yang lain, jauh dari rencana hidupnya yang semula. Dia menganggap A mempunyai peran besar dalam merubah rencana hidupnya. Dia pun menganggap A yang ’Sok Pahlawan’ itu sebagai seseorang yang comel dan suka mencampuri urusan orang lain. Si C mengaku bisa saja membuka cerita-cerita minus si A..tapi C beranggapan bahwa hubungan antar manusia bukanlah hubungan saling menjatuhkan. Energi marah dendam pun harus disalurkan pada ruang dan waktu yang tepat...menjadi bentuk kreativitas yang dapat dihargai oleh manusia lain. Banyak faktor X yang harus diperhatikan dalam memandang masalah yang dihadapi rekan saya. Begitu pula dalam menghadapi masalah yang lain.
Dari peristiwa ”SOK PAHLAWAN” tentu bisa diambil hikmahnya...semoga...kita bisa belajar dari sikap ”PAHLAWAN” dan ”SOK PAHLAWAN”
Salam hangat
Agni malagina,
Pengamat kata yg masih terjebak dalam banalitas sehari-hari
Seingat gw
Seingat gw,
har ini gw berencana jalan-jalan sama tante ciche, makan aja makan. rencananya cuma mau makan d creps..tapi kok sampai sekarang masih juga nangkring di kampus. ga tau kenapa ini kampus kayanya punya magnet kuat yang selalu menarik gw. magnet ini terlalu kuat..tapi gw suka. entah kenapa...gw tidak pernah mau keluar dari kampus. ada kawan gw yang bilang gw 'chicken' karena ga mau menghadapi dunia luar kampus. tapi ya gimana...itu pilihan gw. kalo ga di kampus mana mungkin gw ketemu sama Kaka. hahah. ooo...tujuannya ternyata gw mau nulis ttg Kaka. tapi enggak kok...lebih pengen curhat. karena belakangan ini banyak sekali yang terjadi dalam hidup gw. dalam 1 hari saja bisa terjadi beberapa peristiwa yang bikin gw shock! yoaaa.....Lumba-lumba bilang gw ga boleh ngeluh. ga ngeluh kok..cuma ingin menumpahkan sedikit. memang kadang mengeluh itu perlu, karena kalo ga dikeluarin bisa bikin stress. tapi caranya mengeluh mungkin ga perlu brutal. haha....
menurut gw...mengeluh itu cukup baik dikeluhkan sesederhana mungkin. ga perlu lebay. ya kan? mengeluh itu wajar dan sangat manusiawi...asalkan tidak brutal. hahah...gw sering mengeluh diare eeuy belakangan ini...entah kenapa...makan ga beres kali ya.. masa baru makan sabel ijo sedikit juga bisa diare siiy? kaya kemaren juga. belum lagi makan indomi pake rewit dikit juga diare. gimana siy ya? ga makan pedes aja bisa muncrut..aneh ihh...
seingat gw...
dulu kecil gw punya masalah dengan perut...selalu. sampai puncaknya gw diopname gara-gara biji cabe yang bersarang di usus buntu gw. sekarang badan gw sakit ditambah sama maag. wow.....tapi asiknya...kalo lagi sakit maag mah sama ibu selalu dikasi makanan sehat bergizi. tempo-tempo makan sushi (i love sushi), ato makan lasagna, steik, bakwan malang di pangpol. iiih....banyak bgt makanan yang udah masuk ke tubuh ini. dan sudah lewat masanya makan brutal kali ya.....ayo ah...hidup sehat biar ga ada keluhan. hidup sehat...banyak makan sayur dan minum aer putih....supaya sehat jiwa raga..
tapi seinget gw...
gw ga sehat jiwa deh...hhhhh....apalagi sekrang. berasa pengen ketawa terus...abis kalo inget yang sedih2 malah jadi berkaca-kaca terus. makanya jadinya pengen ketawa terus. gimana siiy ini yaa...
ada dilema yang sedang gw hadapi..(susuwiwit, dilema niy yeee)....tapi nanti ajah ah cerita ttg dilema ini. Dia tau kok...dia sudah tau apa yang membuat gw dilema...hanya dia yang gw keluhi...soalnya dia ga akan mungin ngomel...hahaha (padahal dl kalo gw curhat suka di'omel')hahahhaa
har ini gw berencana jalan-jalan sama tante ciche, makan aja makan. rencananya cuma mau makan d creps..tapi kok sampai sekarang masih juga nangkring di kampus. ga tau kenapa ini kampus kayanya punya magnet kuat yang selalu menarik gw. magnet ini terlalu kuat..tapi gw suka. entah kenapa...gw tidak pernah mau keluar dari kampus. ada kawan gw yang bilang gw 'chicken' karena ga mau menghadapi dunia luar kampus. tapi ya gimana...itu pilihan gw. kalo ga di kampus mana mungkin gw ketemu sama Kaka. hahah. ooo...tujuannya ternyata gw mau nulis ttg Kaka. tapi enggak kok...lebih pengen curhat. karena belakangan ini banyak sekali yang terjadi dalam hidup gw. dalam 1 hari saja bisa terjadi beberapa peristiwa yang bikin gw shock! yoaaa.....Lumba-lumba bilang gw ga boleh ngeluh. ga ngeluh kok..cuma ingin menumpahkan sedikit. memang kadang mengeluh itu perlu, karena kalo ga dikeluarin bisa bikin stress. tapi caranya mengeluh mungkin ga perlu brutal. haha....
menurut gw...mengeluh itu cukup baik dikeluhkan sesederhana mungkin. ga perlu lebay. ya kan? mengeluh itu wajar dan sangat manusiawi...asalkan tidak brutal. hahah...gw sering mengeluh diare eeuy belakangan ini...entah kenapa...makan ga beres kali ya.. masa baru makan sabel ijo sedikit juga bisa diare siiy? kaya kemaren juga. belum lagi makan indomi pake rewit dikit juga diare. gimana siy ya? ga makan pedes aja bisa muncrut..aneh ihh...
seingat gw...
dulu kecil gw punya masalah dengan perut...selalu. sampai puncaknya gw diopname gara-gara biji cabe yang bersarang di usus buntu gw. sekarang badan gw sakit ditambah sama maag. wow.....tapi asiknya...kalo lagi sakit maag mah sama ibu selalu dikasi makanan sehat bergizi. tempo-tempo makan sushi (i love sushi), ato makan lasagna, steik, bakwan malang di pangpol. iiih....banyak bgt makanan yang udah masuk ke tubuh ini. dan sudah lewat masanya makan brutal kali ya.....ayo ah...hidup sehat biar ga ada keluhan. hidup sehat...banyak makan sayur dan minum aer putih....supaya sehat jiwa raga..
tapi seinget gw...
gw ga sehat jiwa deh...hhhhh....apalagi sekrang. berasa pengen ketawa terus...abis kalo inget yang sedih2 malah jadi berkaca-kaca terus. makanya jadinya pengen ketawa terus. gimana siiy ini yaa...
ada dilema yang sedang gw hadapi..(susuwiwit, dilema niy yeee)....tapi nanti ajah ah cerita ttg dilema ini. Dia tau kok...dia sudah tau apa yang membuat gw dilema...hanya dia yang gw keluhi...soalnya dia ga akan mungin ngomel...hahaha (padahal dl kalo gw curhat suka di'omel')hahahhaa
Langganan:
Postingan (Atom)