Berenang-renang di Sungai Kapuas, berakit-rakit ke tepiannya dari pukul 11.00 – 13.00. Saya menaiki sampan bermotor menantang panas matahari Pontianak yang kadang tak bisa beramah tamah dengan kesadaran saya. Hari ini tanggal 16 Juni 2010 atau bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek/Yinli, sungai Kapuas menjadi tempat mandi ratusan etnis Tionghoa yang tinggal di sepanjang Kapuas. Ada peristiwa apakah hari ini?
Selamat Ko Ciat, beberapa status di tembok Facebook kawan-kawan Pontianak dan Singkawang bertaburan kalimat selamat Ko Ciat. Saya pikir kalimat itu artinya adalah Selamat Pagi! Ternyata dalam bahasa dialek Hakka, kalimat tersebut artinya adalah MAKAN BESAR. Ada perayaan apakah hari ini?
Tak sengaja saya pun hari ini bercakap dengan seorang tokoh Tionghoa yang banyak menulis tentang kebudayaan Tionghoa di Kalimantan Barat, X.F. Asali. “Agni, hari ini makan Bacang, ada peristiwa meninggalnya penyair terkenal di masa dinasti, tau?”
“Qu Yuan, Pak? Yang terkenal dengan Lisaonya,” jawab saya singkat.
Ya, hari ini hari diperingatinya kematian Qu Yuan 屈原 (340-278 SM), seorang penyair besar pada masa Dinasti Chu masa Negara Berperang Zhanguo Shidai (战国时代 475-221 SM), politisi kritis yang diduga bunuh diri pada masa pengasingannya. Jenasah Qu Yuan pun tidak pernah ditemukan. Masyarakat yang mencintainya kemudian membuat makanan yang dibungkus daun bambu, sekarang dikenal sebagai Bacang. Kemudian mereka melemparkan bacang tersebut ke sungai agar tubuh Qu Yuan tidak dimakan oleh ikan buas, mereka juga meletakkan bacang di tepi sungai agar jika Qu Yuan bersembunyi di dalam hutan ia akan keluar untuk mengambil makanan tersebut. Begitu pula ada banyak orang yang menggunakan perahu menyusuri sungai untuk mencari tubuh Qu Yuan, namun tubuh itu tak pernah ditemukan. Setiap tahun, masyarakat Cina mengingat Qu Yuan dengan acara makan Bacang, Perahu Naga dan diselingi pesta Lampion. Sebuah tradisi tua yang terus singgah dari generasi satu ke generasi yang lain, dari masa dinasti hingga era globalisasi. Terkadang juga mengalami komodifikasi.
Mengapa ada Ko Ciat? Mengapa ada tradisi berenang di sungai dan mengambil air Wushi sui pada tengah hari?
Tradisi Ko Ciat atau makan besar hari ini disiapkan oleh para perempuan untuk menyambut perayaan makan Bacang. Bukan pesta, tetapi memasak untuk seluruh anggota keluarga besar. Makan bersama, bersama duduk dan bercerita memperkenalkan tradisi. Biasanya Ko Ciat dilakukan untuk makan sore atau malam. Tak heran, banyak etnis Tionghoa di Pontianak menutup tokonya setelah pukul 13.00. Mereka bersiap untuk Ko Ciat bahkan banyak di antara mereka yang mengikuti tradisi mandi di Kapuas sebelum merayakan Ko Ciat.
Setiap tahun, antara pukul 11.00-13.00, para pemuda dan amoy-amoy tak terkecuali anak-anak bersampan ria di tengah sungai Kapuas, mereka yang telah dewasa biasanya menceburkan diri ke Sungai Kapuas, berenang-renang dan mengambil air sungai tepat pada pukul 12.00 siang. Tradisi ini dipercaya untuk membuang sial, duka dan lara. Menumpahkan segala gundah dan gulana, membersihkan diri dengan air yang dianggap mampu menghanyutkan segala bentuk energi negatif sekaligus mendatangkan kebaikan dan keberuntungan. Mereka juga mengambil air, membungkusnya dalam plastik-plastik atau menyimpannya dalam jerigen. Konon air ini kemudian disimpan di rumah, sering digunakan untuk air obat, setahun pun tak akan berubah rasa dan tiada berbau.
Berperahu selama 20 menit pun tak terasa. Sempat seorang amoy belia pingsan dan dinaikkan ke sampan yang saya naiki. Masih sangat belia dan mengikuti kegembiraan perang lempar air dari sampan satu ke sampan lainnya. Ketika waktu mulai bergeser tak lagi di tengah hari, satu-persatu sampan yang membawa muda-mudi itu pun bergerak ke tepi. Sempat kubertanya pada seorang pemuda, “acara apa hari ini? Mengapa berenang?” dan si dia hanya menjawab,”berenang saja di hari Ko Ciat, melepas sial.”
Dia terus berenang ke tepi Kapuas, sambil berteriak Selamat Ko Ciat! Semoga dia akan selalu mengingat tradisi keluarganya, tidak seperti aku yang sudah kehilangan akar tradisiku. Entah aku berada dimana dan melakukan apa? Aku tak ingat lagi apa itu simbolisasi upacara tedak siten, atau pun upacara adat pernikahan Jawa. Semua yang kualami telah mereduksi ingatan masa kecilku yang erat dengan tradisi Jawa. Mereka yang semuda itu masih berenang dengan jumawa di Kapuas, masih percaya keberuntungan akan datang setelah melarung duka di Kapuas. Tak peduli budaya tradisinya masih tradisional atau dianggap sudah ketinggalan jaman, mereka tetap berenang menyambut Ko Ciat. Sampai pada titik ini, budaya tradisional transnasional Tionghoa di Indonesia bertahan, mengalami reproduksi regenerasi untuk bertahan. Selamat Ko Ciat!
salam hangat
agni malagina
pengamat naga
Agni Malagina
Rabu, 16 Juni 2010
Senin, 14 September 2009
Mustofa: Malam ini, terakhir dalam sunyi sampai nadi terhenti nanti
Ya Rabbi bil Musthofa
balligh maqoshidana
waghfir lana ma madho
Ya Wasi'al karomi...
Suatu ketika saat malam sampai pada puncak suramnya, aku menengarai bunyi gesek biola dan Asma Allah dan sang Nabi disebut. Malamnya malam membawa pada sepi yang mulai meniupkan angin dingin menyentuh rona semu tengkuk. Teringat perjalanan liku dan ragu penuh pilu. Hanya ingatan itu yang masih tersisa dan membuatnya tetap ada. Tak terasa, saat tatap dinding putih itu, mata pun bersemuka dengan rasa. Hanya ada rasa dahaga yang tak terbayar oleh air mata. Kurang dari sedepa tertunduk sampai pada nama tertinggi senar terpendar dalam nada bernada.
Terdengar bunyian Mustofa dalam getar doa. Hanya ada malam ini yang begitu sunyinya sampai menebar wangi melati suci. “Wahai Tuhanku dan Tuhan Nabi kami Muhammad, kabulkanlah segala keinginan dan cita-cita kami. Dan ampunilah apa yang telah kami lakukan di masa yang lalu. Duhai Engkau Tuhan, yang membukakan pintu rahmat.”
Hanya ada rasa itu dalam dada. Berkecamuk bertumbuk dalam jiwa raga. Menggetarkan ujung-ujung semburat halus vena arteri yang membawa nafas. Hanya ada rasa itu. Bergejolak melonjak menembus hipotalamus. Mengunci ingatan terdahulu yang membangun jiwa kini. Tak ada lagi rasa sesal kekal. Hanya serah jiwa yang menjadikannya hampa. Catatan ini hanya menjadi milik malam seorang sendiri sahaja.
Malam ini, terakhir dalam sunyi sampai nadi terhenti nanti
agni
tengkyu kang okeu yang nerjemahin dengan penuh haru plus nulisin latin arabnyah
balligh maqoshidana
waghfir lana ma madho
Ya Wasi'al karomi...
Suatu ketika saat malam sampai pada puncak suramnya, aku menengarai bunyi gesek biola dan Asma Allah dan sang Nabi disebut. Malamnya malam membawa pada sepi yang mulai meniupkan angin dingin menyentuh rona semu tengkuk. Teringat perjalanan liku dan ragu penuh pilu. Hanya ingatan itu yang masih tersisa dan membuatnya tetap ada. Tak terasa, saat tatap dinding putih itu, mata pun bersemuka dengan rasa. Hanya ada rasa dahaga yang tak terbayar oleh air mata. Kurang dari sedepa tertunduk sampai pada nama tertinggi senar terpendar dalam nada bernada.
Terdengar bunyian Mustofa dalam getar doa. Hanya ada malam ini yang begitu sunyinya sampai menebar wangi melati suci. “Wahai Tuhanku dan Tuhan Nabi kami Muhammad, kabulkanlah segala keinginan dan cita-cita kami. Dan ampunilah apa yang telah kami lakukan di masa yang lalu. Duhai Engkau Tuhan, yang membukakan pintu rahmat.”
Hanya ada rasa itu dalam dada. Berkecamuk bertumbuk dalam jiwa raga. Menggetarkan ujung-ujung semburat halus vena arteri yang membawa nafas. Hanya ada rasa itu. Bergejolak melonjak menembus hipotalamus. Mengunci ingatan terdahulu yang membangun jiwa kini. Tak ada lagi rasa sesal kekal. Hanya serah jiwa yang menjadikannya hampa. Catatan ini hanya menjadi milik malam seorang sendiri sahaja.
Malam ini, terakhir dalam sunyi sampai nadi terhenti nanti
agni
tengkyu kang okeu yang nerjemahin dengan penuh haru plus nulisin latin arabnyah
Rabu, 28 Januari 2009
BOIKOT PRODUK YANG MENGUNTUNGKAN ISRAEL: spek produknya apa yaa Om?
Palestina sepertinya lagi ‘in’ buanget di kalangan tertentu...dari mahasiswa sampai partai politik, dari para santri sampai pemimpin negeri. Semua beramai-ramai mengeluarkan suara simpati sampai nekat pergi berjihad ke Palestina untuk melawan Israel.
Minggu tanggal 18 Januari 2009, saya melintas kota Bogor sepulang dari Giri Jaya. terkejutlah saya ketika di sudut mata saya tertangkaplah poster fotocopy-an bertuliskan “BOIKOT PRODUK YANG MENGUNTUNGKAN PENGUSAHA ISRAEL” yang dipajang di daerah pusat komunitas Arab, Empang, Bogor.
Nah lo, bagaimana saya tidak terkejut, jangankan produk Israel, untuk mengetahui produk Indonesia saja saya tidak bisa cepat tahu. Saya berpikir, yang mana ya produk Israel? Mungkin memang ada produk Israel yang masuk Indonesia, tapi yang manaaa?
Saya heran mengapa si pembuat poster seruan itu tidak mencantumkan spesifikasi produknya, untuk memudahkan saya sebagai masyarakat untuk mengidentifikasi produk Israel...hehehe
Saya bingung dengan tujuan si pembuat poster? kok ya sampai boikot-boikot negeri orang ya? kenapa tidak boikot LAPINDO saja? yang jelas-jelas merugikan tanah air dan bangsa Indonesia, Si NKRI yang sudah semakin renta ini. Atau boikot saja pemerintah Indonesia jika memang pemerintah dianggap tidak adil kepada rakyat. Laaa ini malah boikot produk negara orang yang tidak merugikan Indonesia. Boleh lah produk Israel diboikot jika terbukti mengandung merkuri, melamin, dan dapat membahayakan nyawa masyarakat Indonesia.
Belum lagi selesai....ketika saya melintas papan pengumuman di area kampus saya, saya membaca poster “EDUCATION FOR PALESTINE” yang kabarnya sudah mengumpulkan dana lebih dari 1 Milyar untuk beasiswa pemuda Palestina. diajukan juga opsi agar mereka dapat kuliah di Universitas Indonesia. Waduh...edan saya pikir, la wong di depok saja masih banyak anak putus sekolah lo. Kok ya jauh-jauh mikirin nasib pendidikan pemuda harapan bangsa Palestina. Lalu bagaimana dengan nasib pendidikan pemuda pemudi harapan bangsa NKRI ini?
Gelombang demo anti Israel pun memang masih bergejolak di seluruh dunia ini. Wajarlah itu terjadi dengan alasan simpati dan kemanusiaan. Tapi rasanya lucu jika semua-mua yang dilakukan di atas dilakukan dengan alasan solidaritas agama....hmmmm...agak lebaaay kayanya. Kalau mau memakai solidaritas agama...banyak muslim di Indonesia yang menderita miskin papa yang memerlukan uluran tangan dari muslim yang memiliki kemampuan membantu sesamanya. Rasanya tidak perlu jauh-jauh sampai menolong orang yang di Palestina. Palestina kan dekat dengan jutaan muslim yang tinggal di dunia Arab sana, pastilah banyak yang bisa lebih cepat membantunya. Pak ustad saya pernah bilang, “tolonglah saudaramu yang terdekat.”
Tapiii..ya apa daya seorang saya ini? Cuma bisa protes begini. paling tidak...saya sangat bangga, ada kalangan di Indonesia yang sangat peduli dengan sesamanya yang sedang menderita di belahan dunia mana pun. Saluut.....Terus perjuangkan kebebasan Palestina (????)... rakyat Palestina BERHAK BAHAGIA!
saya rasa, masyarakat Indonesia juga BERHAK BAHAGIAA!
Agi berkata: “Pak Ustad....tolong saya doong.”
salam,
agni
Minggu tanggal 18 Januari 2009, saya melintas kota Bogor sepulang dari Giri Jaya. terkejutlah saya ketika di sudut mata saya tertangkaplah poster fotocopy-an bertuliskan “BOIKOT PRODUK YANG MENGUNTUNGKAN PENGUSAHA ISRAEL” yang dipajang di daerah pusat komunitas Arab, Empang, Bogor.
Nah lo, bagaimana saya tidak terkejut, jangankan produk Israel, untuk mengetahui produk Indonesia saja saya tidak bisa cepat tahu. Saya berpikir, yang mana ya produk Israel? Mungkin memang ada produk Israel yang masuk Indonesia, tapi yang manaaa?
Saya heran mengapa si pembuat poster seruan itu tidak mencantumkan spesifikasi produknya, untuk memudahkan saya sebagai masyarakat untuk mengidentifikasi produk Israel...hehehe
Saya bingung dengan tujuan si pembuat poster? kok ya sampai boikot-boikot negeri orang ya? kenapa tidak boikot LAPINDO saja? yang jelas-jelas merugikan tanah air dan bangsa Indonesia, Si NKRI yang sudah semakin renta ini. Atau boikot saja pemerintah Indonesia jika memang pemerintah dianggap tidak adil kepada rakyat. Laaa ini malah boikot produk negara orang yang tidak merugikan Indonesia. Boleh lah produk Israel diboikot jika terbukti mengandung merkuri, melamin, dan dapat membahayakan nyawa masyarakat Indonesia.
Belum lagi selesai....ketika saya melintas papan pengumuman di area kampus saya, saya membaca poster “EDUCATION FOR PALESTINE” yang kabarnya sudah mengumpulkan dana lebih dari 1 Milyar untuk beasiswa pemuda Palestina. diajukan juga opsi agar mereka dapat kuliah di Universitas Indonesia. Waduh...edan saya pikir, la wong di depok saja masih banyak anak putus sekolah lo. Kok ya jauh-jauh mikirin nasib pendidikan pemuda harapan bangsa Palestina. Lalu bagaimana dengan nasib pendidikan pemuda pemudi harapan bangsa NKRI ini?
Gelombang demo anti Israel pun memang masih bergejolak di seluruh dunia ini. Wajarlah itu terjadi dengan alasan simpati dan kemanusiaan. Tapi rasanya lucu jika semua-mua yang dilakukan di atas dilakukan dengan alasan solidaritas agama....hmmmm...agak lebaaay kayanya. Kalau mau memakai solidaritas agama...banyak muslim di Indonesia yang menderita miskin papa yang memerlukan uluran tangan dari muslim yang memiliki kemampuan membantu sesamanya. Rasanya tidak perlu jauh-jauh sampai menolong orang yang di Palestina. Palestina kan dekat dengan jutaan muslim yang tinggal di dunia Arab sana, pastilah banyak yang bisa lebih cepat membantunya. Pak ustad saya pernah bilang, “tolonglah saudaramu yang terdekat.”
Tapiii..ya apa daya seorang saya ini? Cuma bisa protes begini. paling tidak...saya sangat bangga, ada kalangan di Indonesia yang sangat peduli dengan sesamanya yang sedang menderita di belahan dunia mana pun. Saluut.....Terus perjuangkan kebebasan Palestina (????)... rakyat Palestina BERHAK BAHAGIA!
saya rasa, masyarakat Indonesia juga BERHAK BAHAGIAA!
Agi berkata: “Pak Ustad....tolong saya doong.”
salam,
agni
Jati diri Kota Depok: makan dengan tangan kanan? how come????
Suatu malam, saya menaiki angkot menuju sebuah pertokoan terkenal di Depok. Di sebuah perempatan jalan, saya mendapati sebuah baligo besar yang bertuliskan: “Kembalikan jati diri bangsa. Dengan makan dan minum memakai tangan kanan.” Dengan tambahan visual orang-orang yang makan dengan menggunakan sendok garpu, sendok di tangan kanan, garpu di tangan kiri.
Awalnya saya agak merasa kecolongan dengan iklan layanan masyarakat itu. Sebab sebelumnya, baligo rakssa itu berisikan maskot kota Depok yang akan dikembangan sebagai produk unggulan kota yang sudah berkembang pesat itu. Ya....belimbing kuning. Buah berbentuk bintang itu tampak cantik karena produknya terasa sangat bear. Semacam jambu bangkok, durian bangkok dan bangkok-bangkok yang lain. Tapi ketika sore itu malam itu saya melihatnya sudah berubah rupa, saya pun sempat panik. Mungkinkah saya yang salah lihat. Saya pun segera meminta teman saya untuk melihat iklan itu. dia tidak berkomentar banyak. Saya makin ragu dengan pandangan mata itu. Tapi sudahlah...saya tidak akan membahas mata saya yang memang mulai minus.
Slogan kembalikan jati diri bangsa dengan cara makan menggunakan tangan kanan itu sangat menggelitik saya. Bukankan memang semua orang makan dengan tangan kanan? Kalaupun ada yang makan dengan tangan kiri, tampaknya kebiasaan itu datang karena si pemilik tangan itu pastilah kidal, saya juga berkawan dengan salah seorang yang berkecenderungan kidal tersebut. Saya jadi berburuk sangka terhadap pembuat iklan layanan masyarakat tersebut. Mengapa urusan makan menggunakan tangan mana menjadi masalah besar? Sampai-sampai disebut sebagai bangian dari jati diri bangsa?
Coba kita lihat apa saya yang masuk dalam katergori jati diri bangsa? Dalam pandangan saya, jati diri bangsa memang banyak sekali aspeknya. Seperti seni budaya tradisional, sejarah bangsa dan sebagainya. Mungkin makan dengan tangan kanan juga menjadi salah satu aspeknya. Tapi saya tetap tidak bisa paham, bagaimana iklan itu bisa muncul? Mengapa cara makan harus diurusi? Mengapa tidak menonjolkan budaya seni tradisi sebagai kekuatan kota?
Bukankah cara makan orang itu ada sesuatu yang sangat pribadi? Mungkinkah iklan ini dapat disejajarkan dengan iklan UU antipornografi dan pornoaksi yang dianggap oleh banyak pihak sebagai undang-undang yang menyentuh ranah pribadi. Cara makan merupakan cara yang dilakukan oleh seseorang sesuai dengan kemampuannya. Makan dengan tangan kanan atau tangan kiri adalah hak pribadi seseorang. Makan menggunakan sendok atau tangan telanjang pun merupakan hak pribadi. Dan saya pikir, cara makan dihubungkan dengan jati diri bangsa itu sedikit sekali hubungannya. Sampai saat ini saya masih mencari berbagai kemungkinan jawaban atas munculnya iklan tersebut. Tetapi, saya tetap bingung bagaimana caranya cara makan menjadi jati diri bangsa??
Mungkin ada yang bisa membantu saya mendapatkan jawaban tersebut.
Salam,
Agni Malagina
Awalnya saya agak merasa kecolongan dengan iklan layanan masyarakat itu. Sebab sebelumnya, baligo rakssa itu berisikan maskot kota Depok yang akan dikembangan sebagai produk unggulan kota yang sudah berkembang pesat itu. Ya....belimbing kuning. Buah berbentuk bintang itu tampak cantik karena produknya terasa sangat bear. Semacam jambu bangkok, durian bangkok dan bangkok-bangkok yang lain. Tapi ketika sore itu malam itu saya melihatnya sudah berubah rupa, saya pun sempat panik. Mungkinkah saya yang salah lihat. Saya pun segera meminta teman saya untuk melihat iklan itu. dia tidak berkomentar banyak. Saya makin ragu dengan pandangan mata itu. Tapi sudahlah...saya tidak akan membahas mata saya yang memang mulai minus.
Slogan kembalikan jati diri bangsa dengan cara makan menggunakan tangan kanan itu sangat menggelitik saya. Bukankan memang semua orang makan dengan tangan kanan? Kalaupun ada yang makan dengan tangan kiri, tampaknya kebiasaan itu datang karena si pemilik tangan itu pastilah kidal, saya juga berkawan dengan salah seorang yang berkecenderungan kidal tersebut. Saya jadi berburuk sangka terhadap pembuat iklan layanan masyarakat tersebut. Mengapa urusan makan menggunakan tangan mana menjadi masalah besar? Sampai-sampai disebut sebagai bangian dari jati diri bangsa?
Coba kita lihat apa saya yang masuk dalam katergori jati diri bangsa? Dalam pandangan saya, jati diri bangsa memang banyak sekali aspeknya. Seperti seni budaya tradisional, sejarah bangsa dan sebagainya. Mungkin makan dengan tangan kanan juga menjadi salah satu aspeknya. Tapi saya tetap tidak bisa paham, bagaimana iklan itu bisa muncul? Mengapa cara makan harus diurusi? Mengapa tidak menonjolkan budaya seni tradisi sebagai kekuatan kota?
Bukankah cara makan orang itu ada sesuatu yang sangat pribadi? Mungkinkah iklan ini dapat disejajarkan dengan iklan UU antipornografi dan pornoaksi yang dianggap oleh banyak pihak sebagai undang-undang yang menyentuh ranah pribadi. Cara makan merupakan cara yang dilakukan oleh seseorang sesuai dengan kemampuannya. Makan dengan tangan kanan atau tangan kiri adalah hak pribadi seseorang. Makan menggunakan sendok atau tangan telanjang pun merupakan hak pribadi. Dan saya pikir, cara makan dihubungkan dengan jati diri bangsa itu sedikit sekali hubungannya. Sampai saat ini saya masih mencari berbagai kemungkinan jawaban atas munculnya iklan tersebut. Tetapi, saya tetap bingung bagaimana caranya cara makan menjadi jati diri bangsa??
Mungkin ada yang bisa membantu saya mendapatkan jawaban tersebut.
Salam,
Agni Malagina
Bakso Mas Yemo, bengis-bengis manis
Niat tulus untuk mendinginkan pikiran di Kampung Budaya Sindangbarang merupakan semangat pendorong bagiku dan kawan-kawan untuk menambah hari tinggal di KBS. Sungguh merupakan pengalaman batin yang luar biasa ketika kami bertiga turun dari KBS menuju perkampungan Sindangbarang untuk mencari semangkuk bakso berkuah hangat-hangat suam kuku.
Dimulailah perjalanan kami mencari bakso sore itu. Sambil berjalanan di pematang sawah, kami masih sempat berfoto dengan latar gunung Salak. Suasana sore itu mulai mendung, angin sepoi pun mulai membawa titik-titik airmya yang terjenih seolah ingin menyapu debu halus di permukaan dedaunan sang padi. Perjalanan kami lanjutkan dengan menembus situs punden berundak yang memiliki puncak batu berdakon 6. Kami berjalan dengan tujuan bakso Pakde depan masjid raya Sindangbarang. Saya bertemu dengan pakde yang sedang nangkring di tempat olah raga sambil melayani beberapa bapak-bapak yang juga memburu baksonya. Kami pikir,”ah...terlalu ramai, cari gorengan dulu saja.” Kami pun singgah di tukang gorengan sambil semal-cemil beberapa unit risol, pisang molen, bakwan dan ubi. Tak lupa juga kami membungkus beberapa jenis gorengan. Kami pun memutuskan untuk naik angkot. Baru saja duduk di dalam angkot, sang supir pun bertanya, ”mau ke Bogor?” kontan kami menjawab bersamaan,”enggak pak, mau cari tukang bakso.” Pak supir mengiyakan sambil tersenyum lebar. Tak lama, ia pun berhenti di depan pabrik PT Rama sambil mengatakan,”baksonya enak. Mang, mesen bakso tilu! (bang, pesan baksonya tiga!)”
Kani dan Lola pun masuk lebih dulu ke dalam kios bakso berukuran 3X2 meter itu. Saya masih disibukkan dengan urusan transaksi pembayaran angkot. Tak lama saya menyusul. Dan mendapatkan cerita, kira-kira sebagai berikut:
”Bang, baksonya tiga,” kata Lola,”dua baksonya aja.”
Tak lama si abang bertanya,”Pakai bakso enggak?”
Sempat mereka berdua terhenyak dengan pertanyaan itu, namun mereka cukup sigap menjawab dengan ketawa bingung.
Kami pun sedikit ribut membicarakan beberapa hal remeh temeh yang sebenarnya juga tidak telalu penting. Tapi perlu dicatat, setiap pembicaraan pasti selalu berakhir dengan derai tawa berkepanjangan. Tak lama, abang bakso pun datang membawa dua mangkok, satu ia letakkan di depan saya. Saya agak kebingungan dengan bakso polos tidak berbihun, bukan pesanan saya, saya pikir. Tiba-tiba terdengar kata pendek yang tidak pernah saya duga sebelumnya,”estafet,” kata si abang. Kani langsung menjawab,”wah...komando...komando.” Dengan penuh kesadaran pun kami akhirnya mengestafetkan mangkok bakso tersebut. Sekali lagi diiiringi derai tawa yang sangat tulus keluar dari lubuk hati. Saya bertanya padanya,”mas, siapa namanya?”
Dia menjawab,”mas gendut!”
”Wah, ga bisa mas, nanti kalau saya nanya mas gendut dimana, semua orang bingung nyari orang yang gendut-gendut. Saya panggil mas yanto aja ya.”
Dia menjawab,” iya boleh.”
Tiba-tiba datang celetukan dari Kani,”mas Yemo aja.”
Maka sejak saat itulah kami mendaulat dia dan tokonya dengan nama ’Bakso Mas Yemo’.
Beberapa suap kuah hangat pun saya rasakan berdu dalam mulut saya. Rasa gurih asin asik menyatu menekan syaraf-syaraf indera pencicip ini. Saat sedang konsentrasi penuh memakan bakso, saya tak sengaja mendengar percakapan antara abang bakso dengan seorang pembelinya:
”Baksonya mas,” kata si pembeli.
”Di mana?” tanya si abang. Hal ini lah yang saya perhatikan. Mengapa bisa muncul pertanyaan ’dimana’ dari si abang bakso. Saya sempat bingung. Belum bisa saya pikirkan alternatif jawaban pertanyaan ‘di mana’ itu, sang pembeli pun menjawa,”di mangkok.”
Saya tak tahan untuk menyampaikan percakapan mereka yang tiba-tiba masuk dalam frekwensi konsentrasi saya kepada kawan-kawan. Dan benar....selesai saya menceritakan kejadian itu, kami tertawa panjang lagi. Kemudian untuk beberapa saat, suasana kembali pada pembicaraan yang sekenanya saja. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan bakso mas Yemo.
Sampailah kami pada akhir masanya makan bakso. Kami meminta mas Yemo untuk menghitung harga bakso plus kerupuk kulit yang kami konsumsi. Mas Yemo mulai menghitung dengan jumawanya,”bakso tiga, kerupuk kulit tiga,” tidak berhenti sampai di situ, dia pun melanjutkan,”berapa gelas?”
Kami sempat mencoba mencerna kata-kata terakhir, namun rasanya tidak kesampaian menelan kata-kata tersebut. Hanya ada satu kata yang sanggup kami ucapkan,”WADUH!”
Setelah berusaha untuk mengingat berapa gelas air putih yang kami tenggak, satu persatu kami menyebutkan jumlahnya.
“Dua,” kata Kani.
“Dua,” kata Lola.
”Tiga, tapi ini belum habis,” kata saya.
Mas Yemo pun dengan cueknya menjawab sejumlah angka dengan akhiran lima ratus rupiah. Kami pun tetap dalam kondisi tertawa tak tertahankan. Tak lama mas Yemo datang memberikan lembaran uang kertas. Dan terakhir ia memberikan satu keping uang logam 500 rupiah sabil berkata,” buat ongkos.”
Saya sempat melongo, dan lagi-lagi kami tertawa lebar. Bagaimana tidak? Baru kali itu kami makan bakso dengan ratusan detik diisi oleh ketawa ketawa ketawa dan ketawa akibat ulah mas Yemo. Saat itu Mas Sawab, salah seorang anak buah Pupuhu Sindangbarang pun menjadi saksi ’kebengisan’ mas Yemo.
Waktu jualah yang memisahkan kami dengan mas Yemo sore itu. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan utama, menuju rumah Pupuhu KBS. Pembicaraan di angkot pun masih tetap seputar mas Yemo, tentang bagaimana gilanya mas Yemo menghadapi kami, tentang bagaimana kekejaman yang dilakukan mas Yemo, hingga kenangan-kenangan bersama masYemo.
Kami meninggalkan mas Yemo di belakang sana. Itulah yang kami lakukan. Kami meninggalkannya dengan penuh kesadaran bahwa kami memang harus pergi. Dengan membawa kenangan tentangnya. Tentang mas Yemo seorang.
Salam,
Agni
Dimulailah perjalanan kami mencari bakso sore itu. Sambil berjalanan di pematang sawah, kami masih sempat berfoto dengan latar gunung Salak. Suasana sore itu mulai mendung, angin sepoi pun mulai membawa titik-titik airmya yang terjenih seolah ingin menyapu debu halus di permukaan dedaunan sang padi. Perjalanan kami lanjutkan dengan menembus situs punden berundak yang memiliki puncak batu berdakon 6. Kami berjalan dengan tujuan bakso Pakde depan masjid raya Sindangbarang. Saya bertemu dengan pakde yang sedang nangkring di tempat olah raga sambil melayani beberapa bapak-bapak yang juga memburu baksonya. Kami pikir,”ah...terlalu ramai, cari gorengan dulu saja.” Kami pun singgah di tukang gorengan sambil semal-cemil beberapa unit risol, pisang molen, bakwan dan ubi. Tak lupa juga kami membungkus beberapa jenis gorengan. Kami pun memutuskan untuk naik angkot. Baru saja duduk di dalam angkot, sang supir pun bertanya, ”mau ke Bogor?” kontan kami menjawab bersamaan,”enggak pak, mau cari tukang bakso.” Pak supir mengiyakan sambil tersenyum lebar. Tak lama, ia pun berhenti di depan pabrik PT Rama sambil mengatakan,”baksonya enak. Mang, mesen bakso tilu! (bang, pesan baksonya tiga!)”
Kani dan Lola pun masuk lebih dulu ke dalam kios bakso berukuran 3X2 meter itu. Saya masih disibukkan dengan urusan transaksi pembayaran angkot. Tak lama saya menyusul. Dan mendapatkan cerita, kira-kira sebagai berikut:
”Bang, baksonya tiga,” kata Lola,”dua baksonya aja.”
Tak lama si abang bertanya,”Pakai bakso enggak?”
Sempat mereka berdua terhenyak dengan pertanyaan itu, namun mereka cukup sigap menjawab dengan ketawa bingung.
Kami pun sedikit ribut membicarakan beberapa hal remeh temeh yang sebenarnya juga tidak telalu penting. Tapi perlu dicatat, setiap pembicaraan pasti selalu berakhir dengan derai tawa berkepanjangan. Tak lama, abang bakso pun datang membawa dua mangkok, satu ia letakkan di depan saya. Saya agak kebingungan dengan bakso polos tidak berbihun, bukan pesanan saya, saya pikir. Tiba-tiba terdengar kata pendek yang tidak pernah saya duga sebelumnya,”estafet,” kata si abang. Kani langsung menjawab,”wah...komando...komando.” Dengan penuh kesadaran pun kami akhirnya mengestafetkan mangkok bakso tersebut. Sekali lagi diiiringi derai tawa yang sangat tulus keluar dari lubuk hati. Saya bertanya padanya,”mas, siapa namanya?”
Dia menjawab,”mas gendut!”
”Wah, ga bisa mas, nanti kalau saya nanya mas gendut dimana, semua orang bingung nyari orang yang gendut-gendut. Saya panggil mas yanto aja ya.”
Dia menjawab,” iya boleh.”
Tiba-tiba datang celetukan dari Kani,”mas Yemo aja.”
Maka sejak saat itulah kami mendaulat dia dan tokonya dengan nama ’Bakso Mas Yemo’.
Beberapa suap kuah hangat pun saya rasakan berdu dalam mulut saya. Rasa gurih asin asik menyatu menekan syaraf-syaraf indera pencicip ini. Saat sedang konsentrasi penuh memakan bakso, saya tak sengaja mendengar percakapan antara abang bakso dengan seorang pembelinya:
”Baksonya mas,” kata si pembeli.
”Di mana?” tanya si abang. Hal ini lah yang saya perhatikan. Mengapa bisa muncul pertanyaan ’dimana’ dari si abang bakso. Saya sempat bingung. Belum bisa saya pikirkan alternatif jawaban pertanyaan ‘di mana’ itu, sang pembeli pun menjawa,”di mangkok.”
Saya tak tahan untuk menyampaikan percakapan mereka yang tiba-tiba masuk dalam frekwensi konsentrasi saya kepada kawan-kawan. Dan benar....selesai saya menceritakan kejadian itu, kami tertawa panjang lagi. Kemudian untuk beberapa saat, suasana kembali pada pembicaraan yang sekenanya saja. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan bakso mas Yemo.
Sampailah kami pada akhir masanya makan bakso. Kami meminta mas Yemo untuk menghitung harga bakso plus kerupuk kulit yang kami konsumsi. Mas Yemo mulai menghitung dengan jumawanya,”bakso tiga, kerupuk kulit tiga,” tidak berhenti sampai di situ, dia pun melanjutkan,”berapa gelas?”
Kami sempat mencoba mencerna kata-kata terakhir, namun rasanya tidak kesampaian menelan kata-kata tersebut. Hanya ada satu kata yang sanggup kami ucapkan,”WADUH!”
Setelah berusaha untuk mengingat berapa gelas air putih yang kami tenggak, satu persatu kami menyebutkan jumlahnya.
“Dua,” kata Kani.
“Dua,” kata Lola.
”Tiga, tapi ini belum habis,” kata saya.
Mas Yemo pun dengan cueknya menjawab sejumlah angka dengan akhiran lima ratus rupiah. Kami pun tetap dalam kondisi tertawa tak tertahankan. Tak lama mas Yemo datang memberikan lembaran uang kertas. Dan terakhir ia memberikan satu keping uang logam 500 rupiah sabil berkata,” buat ongkos.”
Saya sempat melongo, dan lagi-lagi kami tertawa lebar. Bagaimana tidak? Baru kali itu kami makan bakso dengan ratusan detik diisi oleh ketawa ketawa ketawa dan ketawa akibat ulah mas Yemo. Saat itu Mas Sawab, salah seorang anak buah Pupuhu Sindangbarang pun menjadi saksi ’kebengisan’ mas Yemo.
Waktu jualah yang memisahkan kami dengan mas Yemo sore itu. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan utama, menuju rumah Pupuhu KBS. Pembicaraan di angkot pun masih tetap seputar mas Yemo, tentang bagaimana gilanya mas Yemo menghadapi kami, tentang bagaimana kekejaman yang dilakukan mas Yemo, hingga kenangan-kenangan bersama masYemo.
Kami meninggalkan mas Yemo di belakang sana. Itulah yang kami lakukan. Kami meninggalkannya dengan penuh kesadaran bahwa kami memang harus pergi. Dengan membawa kenangan tentangnya. Tentang mas Yemo seorang.
Salam,
Agni
Jumat, 05 Desember 2008
Balada Sekartaji jeung Raden Panji
Prolog:Jodo abadi
Saprak rama ambu semédi
Déwata gé kedal jangji
Inu Kertapati kauger ku Sekartaji
Drama 1:
Panji teu deui nyombo
Cinta datang nyirep
Anggraéni sosoca ati
Dijadikeun permaisuri
Drama 2:
Kahuripan dirambat mongkléngna peuting
Si kembang pupus nganuja diri
Barajanata ngajadi saksi
Dibumikeun dina kembang nu seungit
Drama 3:
Lalaki ngakeup sang déwi
Leumpang teu leupas deui
NALIKA CINTA DILEBUKEUN
Sang déwi néang awak Sekartaji
Panji milari titisan sang déwi
Panji leungitkeun jati diri
Lebur marengan bumi
Drama 4:
Lalaki néangan
Sang déwi néangan jeung ngadago
Drama 5:
Lalaki
Datang
Di tukangeun
Kamajaya
Sang déwi
Ngadago
Andéprok na dampal Kamajaya
Drama 6:
Anggraéni dina purnama
Anggraéni dina diri Sekartaji
Aggraéni Sekartaji sahaté
Radén Panji Candra Kirana
Epilog:
Cinta munggaran dibawa perlaya
agni malagina (2008)
hatur nuhun Kang Mumu
Saprak rama ambu semédi
Déwata gé kedal jangji
Inu Kertapati kauger ku Sekartaji
Drama 1:
Panji teu deui nyombo
Cinta datang nyirep
Anggraéni sosoca ati
Dijadikeun permaisuri
Drama 2:
Kahuripan dirambat mongkléngna peuting
Si kembang pupus nganuja diri
Barajanata ngajadi saksi
Dibumikeun dina kembang nu seungit
Drama 3:
Lalaki ngakeup sang déwi
Leumpang teu leupas deui
NALIKA CINTA DILEBUKEUN
Sang déwi néang awak Sekartaji
Panji milari titisan sang déwi
Panji leungitkeun jati diri
Lebur marengan bumi
Drama 4:
Lalaki néangan
Sang déwi néangan jeung ngadago
Drama 5:
Lalaki
Datang
Di tukangeun
Kamajaya
Sang déwi
Ngadago
Andéprok na dampal Kamajaya
Drama 6:
Anggraéni dina purnama
Anggraéni dina diri Sekartaji
Aggraéni Sekartaji sahaté
Radén Panji Candra Kirana
Epilog:
Cinta munggaran dibawa perlaya
agni malagina (2008)
hatur nuhun Kang Mumu
Kawung Titian Para Déwata
Babad Kawung,
Koropak lontar natrat kaagungan Sang Hyang Tunggal
Koropak lontar lumenggah Guriang Tujuh
dina éta tangkal palma luminggih para Déwata
jeung doa dipapatkeun
dina daun aya sang Déwata
dina watang dipuja wahai Déwata
dina lahang dialiran napas Déwata
dina akar dikukuhkeun duhai Déwata
Kawung....titian para Déwata
kawung kuring...tepikeun doa kuring....
agni malagina
hatur nuhun pa agus
nuhun kang Mumu anu atos alih bahasakeun
Koropak lontar natrat kaagungan Sang Hyang Tunggal
Koropak lontar lumenggah Guriang Tujuh
dina éta tangkal palma luminggih para Déwata
jeung doa dipapatkeun
dina daun aya sang Déwata
dina watang dipuja wahai Déwata
dina lahang dialiran napas Déwata
dina akar dikukuhkeun duhai Déwata
Kawung....titian para Déwata
kawung kuring...tepikeun doa kuring....
agni malagina
hatur nuhun pa agus
nuhun kang Mumu anu atos alih bahasakeun
Langganan:
Entri (Atom)